Merayakan Kepalsuan

SELASA, 2 AGUSTUS 2016

CATATAN KHUSUS — Jika sangat susah kita mendapatkan yang sejati, yang asli, berarti boleh dikata, kehidupan ini sudah terlalu jamak dengan kepalsuan. Kepalsuan bukan lagi dibuat, tapi dirayakan. Bahkan, yang paling menyakitkan, kepalsuan justru dibudidayakan. 
Apa yang terlintas dalam benakmu, ketika sepasang suami istri yang diikat dengan cinta sejati, mampu kompak dalam tindakan jahat? Apa pendapatmu melihat suami istri yang bersama-sama dalam membuat produk palsu?
Tidak mungkin, pihak kepolisian serampangan menangkap pasangan suami-istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Tuduhannya, memproduksi Vaksin Palsu di Perumahan Kemang Regency, Bekasi. Tentu, Polisi sudah melakukan pengamatan dan penyelidikan yang matang dan lama. Meskipun, proses hukum masih berjalan.
Sosok Hidayat pernah bekerja sebagai tenaga medis di pabrik otomotif kawasan MM2100, Cibitung, Kabupaten Bekasi. Sedangkan istrinya, Rita, adalah mantan bidan rumah sakit ternama di Bekasi. Konon, mereka sudah melakukan produksi vaksin palsu dan pendistribusiannya secara sistematis ke berbagai daerah sejak 2003.  
Jangan-jangan, tanpa dinyana, vaksin yang beredar di seantero bumi nusantara ini, 50% adalah palsu. Semua tenggorokan akan tercekat jika perumpamaan itu nyata. Betapa rusuh! Betapa murka seluruh ibu di Indonesia! Jangan sampai itu terjadi!
Yang lebih mengerikan, di tengah serangan dari ribuan atau jutaan virus mematikan yang tersebar di seluruh dunia, ketika bayi tidak dilindungi vaksin, apakah tidak ada kemungkinan akan terjadi kematian massal? Ataukah, jangan-jangan, penyebaran vaksin palsu oleh sepasang suami istri itu, adalah bagian dari agenda pemusnahan massal (genosida) terhadap ras atau bangsa tertentu. Semoga bukan!
Kasus tersebut terungkap dan membuka berbagai rantai mafia vaksin palsu yang telah menyebar luas. Semua bermula dari terbongkarnya kasus vaksin palsu di apotek AM Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 16 Mei 2016. Tapi, setelah penyelidikan, kasus ini membuka kasus kasus lain.
Terbukalah juga kasus Kramatjati (Jakarta Timur), kawasan Puri Hijau Bintaro (Tangerang), Kemang Regency (Bekasi). Bahkan, kasus berkembang, ada temuan di Serang dan juga Bandung. Entah, kita tidak tahu, vaksin palsu ini sudah tersebar hingga daerah mana.
Sejarah Kematian Massal Karena Virus 
Dilihat dari sejarahnya, penciptaan vaksin, dipicu oleh kematian massal pada abad ke-16. Saat itu, Eropa mengalami wabah pes yang merenggut nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Era yang disebut Black Death ini, juga telah merampas nyawa seluruh anak dan istri dokter Nostradamus, seorang Futurolog dunia. Barangkali, anak-anak kita di Indonesia ini bisa mengalami kepunahan jika vaksin palsu itu tidak terbuka kedoknya. Di tengah keputusasaannya menghadapi berbagai virus mematikan, dokter Nostradamus meramalkan akan lahir seorang ilmuwan yang memiliki kekuatan laksana dewa, menyembuhkan berbagai penyakit, bernama Pasteur.
Ramalan Nostradamus terwujud. Seorang ilmuwan bernama Louis Pasteur, penemu asal Perancis, menciptakan serangkaian penemuan yang menjadi akar bagi “Teori Kuman Penyakit” pada akhir abad 19. Jika tidak ditemukan konsep vaksin oleh Pasteur, bukan tidak mungkin, spesies manusia menuju ambang kepunahan dengan berbagai serangan virus mematikan yang mewabah.
Bagaimanapun, Pasteur memang telah membuka cakrawala baru dalam dunia kedokteran, bahwa penyakit infeksi disebabkan oleh mikro-organisme. Dalam penelitiannya, Pasteur mengembangkan teknik kimia untuk mengisolasi virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit. Dengan menyuntikkan mikroorganisme dalam wujud yang sudah dilemahkan, ternyata dapat melindungi tubuh dari penyakit atau mencegah penyakit sehingga kesehatan dapat terpelihara dengan baik (imunisasi).
Di Indonesia, banyak ulama telah mendukung penuh Imunisasi. Bahkan, Majlis Ulama Indonesia (MUI) selalu menerbitkan sertifikasi halal bagi vaksin pemerintah. Sedangkan Bio Farma, perusahaan milik Negara yang memproduksi vaksinasi dengan standard WHO, telah menjadi rujukan dua per tiga masyarakat dunia. Bahkan, 49 dari 57 negara Islam dunia, mengambil vaksin dari Bio Farma. Kejeniusan Pasteur turut menjadi berkah bagi nusantara ini. Namun, sayangnya, pasangan suami istri itu telah memalsukan penemuan Pasteur ini.
Memicu Masyarakat Anti Vaksin
Jika ditarik garis ekstrim, kasus ini bisa memunculkan kelompok masyarakat anti vaksin di Indonesia. Masyarakat yang semula sudah ragu dengan vaksin, bisa mengambil keputusan untuk tidak memberikan vaksin kepada anak-anaknya. Padahal, saat ini, sudah ada beberapa kalangan masyarakat yang sudah berani untuk tidak memberi vaksin kepada anak-anaknya, bahkan mengharamkan vaksin kepada keluarganya.   
Sungguh memprihatinkan kalau itu terjadi. Senyatanya, budaya vaksin di Indonesia sudah berjalan sejak abad ke-19 yang dilaksanakan untuk pemberantasan penyakit cacar. Dalam catatan sejarah pembangunan di Indonesia, program imunisasi telah mencapai banyak keberhasilan selama empat dekade terakhir.
Pada 1956, Presiden Soekarno sudah mewajibkan pelaksanaan kegiatan imunisasi untuk penyakit cacar dan berhasil bebas cacar. Pada tahun itu pula, ada penyelenggaraan program imunisasi BCG.
Pada era Presiden Soeharto, Imunisasi mulai digencarkan sejak tahun 1973. Sejak dari vaksin cacar, vaksin TT kepada ibu hamil, imunisasi DPT (1976), Program imunisasi beberapa antigen (BCG, DPT, Polio dan Campak) pada 1980, Program imunisasi Hepatitis B (1992), Penyelenggaraan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) I (1995),  hingga Program Imunisasi Hepatitis B secara nasional (1997).
Selama berbagai program itu berlangsung pada era Presiden Soeharto, tidak pernah ada kasus pemalsuan vaksin. Semua dikendalikan dan diawasi dengan sangat rapi. Setiap tahun, minimal 3 juta anak dapat terhindar dari kematian, 750.000 anak terhindar dari kecacatan. Keberhasilan pemerintah dalam mencapai UCI secara nasional dapat dicapai pada tahun 1990 dengan cakupan imunisasi mencapai 90%.
Kini, di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat liberal, susah terkendali, sepertinya tak ada jaminan sama sekali dari pemerintah atas fasilitas pelayanan kesehatan. Apakah saat ini, kita bisa menyalahkan pemerintah karena tak bisa menjamin keaslian, kesejatian, keamanan, bahkan higienitas vaksin? Padahal, pemerintah mewajibkan setiap anak diberi vaksin.
Barangkali, jika ini dibiarkan, kita tidak sedang menuju masyarakat yang dijamin pemerintah untuk mendapatkan kekebalan dari virus mematikan. Jangan-jangan, kita sedang diminta secara bersama-sama, merayakan kepalsuan. Jangan-jangan, kita dan ketua RT kita, masyarakat dan pemimpin kita, lingkungan sosial-kenegaraan kita, seluruh kehidupan kita, bahkan semua sel di tubuh kita, telah menjadi palsu, kawanku…Cuma ada Tuhan Yang Maha Sejati
Jika anda semua bisa menerima, berbahagialah dengan membaca Sajak karya Penyair Agus R. Sarjono yang berjudul Sajak Palsu.
Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah

dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar

sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah

mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka

yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah

mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru

untuk menyerahkan amplop berisi perhatian

dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru

dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan

nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah

demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir

sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,

ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan

atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi

mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi palsu sebagai panglima

palsu. Mereka saksikan

ramainya perniagaan palsu dengan ekspor

dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan

berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus

dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga

pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri

yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga

dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka

uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis

yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam

nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu

meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan

gagasan-gagasan palsu di tengah seminar

dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya

demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring

dan palsu.

1998
THOWAF ZUHARON

Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.
Lihat juga...