KAMIS, 9 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Tahun ini, warga etnis Tionghoa di Yogyakarta kembali menggelar peringatan Hari Raya Peh Cun di kawasan Pantai Parangtritis, Kretek, Bantul, Yogyakarta, Kamis (9/6/2016). Seperti halnya tahun sebelumnya, perayan dimeriahkan dengan berbagai acara kesenian tradisional seperti barongsai dan lomba dayung perahu naga. Pada puncaknya, warga etnis Tionghoa bersama-sama mendirikan sebutir telur.

Hal paling menarik dari perayaan Peh Cun adalah terjadinya fenomena alam yang memungkinkan sebutir telur bisa berdiri. Ini terjadi karena pada saat tiba waktunya perayaan Peh Cun, posisi matahari berada pada titik kulminasi terdekat dengan bumi. Matahari, Bulan, Bumi dan beberapa planet tertentu berada dalam satu garis orbit, sehingga daya gravitasi menjadi seimbang. Keadaan inilah yang menyebabkan sebutir telur bisa berdiri. Namun, tidak setiap orang bisa mendirikan telur pada saat yang juga dianggap keramat itu, sehingga sejumlah warga Tionghoa meyakini mendirikan sebutir telur bisa mendatangkan berkah tersendiri.
Hari Peh Cun, di negeri asalnya sering pula disebut Hari Duan Wu. Jatuh pada setiap tanggal 5 Bulan ke-5 Tahun Imlek. Kata Peh Cun yang lebih populer merupakan dialek Hokkian untuk kata pachuan, yang dalam bahasa Indonesia berarti mendayung perahu. Karenanya, dalam setiap perayaannya selalu disertai dengan lomba dayung perahu naga. Tahun ini, lomba dayung perahu naga di Yogyakarta diselenggarakan di Pantai Depok. Diikuti 16 Tim dari dari DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, lomba dayung perahu naga memperebutkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp. 100 Juta.
Sebagai tradisi menarik yang digelar setiap tahun, perayaan Peh Cun pun menjadi agenda wisata tahunan. Penyelenggaraannya diadakan oleh Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi DI Yogyakarta. Sementara itu, perayaan Hari Peh Cun tahun ini jatuh tepat pada pukul 12.00 WIB, siang hari. Puluhan warga Tionghoa beramai-ramai mendirikan sebutir telur ayam. Kendati tahun ini penyelanggaraan Peh Cun dilangsungkan sederhana, namun tak mengurangi antusiasme warga Tionghoa untuk mengikuti acara tersebut.
Dalam sejarahnya, perayaan Peh Cun merupakan peringatan wafatnya seorang negarawan Tiongkok pada zaman Negara-negara Berperang, pada sekitar tahun 339 SM-277 SM. Ketika itu, Tiongkok terpecah-belah menjadi 7 negara dan saling berperang. Negara Qin di bagian barat laut Tiongkok saat itu menjadi negara yang kuat dan mengancam keamanan ke-6 negara yang lain. Qu Yuan yang patriotik mengusulkan kepada Raja Negeri Chu, agar bersekutu dengan Negara Qi dan bersama-sama melawan Negara Qin.
Namun, konspirasi jahat beberapa pejabat lain yang memihak Negara Qin membuat Qu Yuan dipecat dari jabatannya dan hidup dalam pembuangan. Pada tahun 278 SM, Negeri Chu akhirnya ditaklukkan oleh Negeri Qin. Qu Yuan yang tidak tahan melihat penderitaan rakyat Chu dan tak berdaya, memilih menceburkan diri ke Sungai Mi Luo. Peristiwa itu dipercaya terjadi tepat pada tanggal 5 Bulan ke-5 Tahun Imlek.

Mendengar peritiwa itu, penduduk setempat berdatangan ke Sungai Mi Luo untuk mencari jenazahnya. Sepanjang aliran Sungai Mi Luo disisir dengan menggunakan perahu. Karena tak juga ditemukan, warga kemudian melemparkan kue bakcang ke sungai itu, agar ikan-ikan tak menggerogoti jenazah Qu Yuan. Peristiwa itulah yang melatar-belakangi tradisi Peh Cun. Pencarian jenazah Qu Yuan di Sungai Mi Luo dengan menggunakan perahu, menjadi tradisi lomba dayung Perahu Naga. Demikian pula dengan melabuh kue bakcang ke tengah laut menjadi bagian dari tradisi peringatan hari Peh Cun.
[Koko Triarko]