SURABAYA – Disfagia merupakan obstruksi pada jalannya makanan melalui mulut, faring, atau esophagus, dimana penderita mengalami kesulitan menelan yang terkadang disertai rasa nyeri. Keluhan ini sering muncul sebagai penyakit penyerta dari penyakit lain seperti stroke, maupun post operasi usus.
Pasien dengan keluhan seperti itu, kesulitan menyerap nutrisi. Melihat permasalahan tersebut empat mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yakni Masunatul Ubudiyah mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKP) tahun 2013, Mokhammad Dedy Batomi mahasiswa Fakultas Vokasi (FV) tahun 2013, Mokhammad Deny Basri mahasiswa FV tahun 2013 dan Dewa Ayu Gita mahasiswa Fakultas Sains Teknologi (FST) tahun 2012 membuat alat pompa perut yang diberi nama ‘Nasogastric Pump Control’.
Inovasi Injeksi Nutrisi Cair dan Obat dengan Prinsip Stability Fluid Pressure dalam Meminimalisir Bahaya Distensi Abdomen pada Pasien Disfagia (Kelemahan Refleks Menelan). Tim PKM ini menjadi salah satu penerima dana hibah bidang Karsa Cipta dari Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemenristek Dikti, dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2016.
“Kami merancang ini menggunakan arduino uno, menginovasi alat NGT (Nasogastric Tubes) menjadi sebuah desain prototipe alat canggih yang dilengkapi dengan tiga pilihan mode (nutrisi, observasi dan terapi). Rancangan ini belum pernah dikembangkan sebelumnya,” jelas ketua tim, Masunatul Ubudiyah kepada Cendana News di Unair, Jumat (10/6/2016).
Mode nutrisi itu dapat dipilih bagi pasien disfagia tanpa komplikasi penyakit lain, sehingga nutrisi diinjeksikan seperti menelan normal. Sedangkan mode observasi digunakan untuk mengecek dan mengobservasi untuk keperluan diagnosa pada lambung pasien. Terakhir, mode terapi yang dapat diatur waktunya, karena terkait dengan proses absorbsi nutrisi pada usus, sehingga mode ini dikhususkan pada pasien disfagia dengan komplikasi pencernaan lain seperti pasien pasca operasi usus halus.
Ditanya tentang kendalanya, Ayu Gita menambahkan, sejak awal proses pembuatan prototype alat ini sudah banyak ditemukan kendala, mulai dari perancangan komponen sampai tahapan akhir programming.
“Namun permasalahan tersebut dapat kami urai satu per satu, sesuai kompetensi kami yang bukan dari satu fakultas, ada dari Fakultas Keperawatan, Vokasi, dan Sains Teknologi, sehingga waktu untuk berkumpul dan diskusi atau menyelesaikan alat ini cukup susah. Tetapi saat malam ba’da sholat Maghrib sampai jam 22.00 selalu kami sisihkan untuk membuat alat ini setiap minggunya,” tambah Gita.
Kedepan tim berharap, prototype ini bisa dikembangkan secara luas mengingat prevalensi penderita disfagia di rumah sakit cukup tinggi. “Harusnya ini bisa diterapkan dan dikembangkan secara luas di pusat pelayanan kesehatan,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).