Bertani Cara Tradisional Masih Jadi Pilihan Petani

SABTU, 28 MEI 2016

YOGYAKARTA — Meski bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) sudah banyak digelontorkan Pemerintah, namun masih banyak petani yang bertahan dengan cara tradisional. Selain lahan garapannya yang kecil, para petani tradisional masih menganggap cara lama lebih efisien karena bisa sembari mengontrol tanaman pengganggu dan hama seperti keong emas.
Sejumlah petani di Dusun Tegalrejo, Kebondalem Lor, Prambanan, Sleman, masih lebih merasa untung menanam padi dengan cara tradisional alias tanpa alat dan mesin. Dengan menyemai benih padi terlebih dahulu, petani mengaku bisa memastikan kualitas benihnya sebelum terlanjur ditanam di sawah. Berbeda dengan menanam padi menggunakan mesin, benih langsung ditabur di sawah sehingga sulit diprediksi kebenaran kualitasnya.
Selain itu, membajak sawah dengan tenaga kerbau atau sapi dianggap irit karena tak perlu membeli bahan bakar, meski diakui prosesnya lebih lama. Ini mengingat tenaga binatang tak bisa dipaksakan. Lalu, pada saat menaman bibit padi dengan cara menancapkannya di sawah, bisa sembari mengontrol kondisi tanah, memeriksa keberadaan bibit hama seperti keong emas. Karenanya, padi dalam bentuk bibit masih banyak yang membutuhkannya.
Petani benih padi Dusun Tegalrejo, Harto, saat ditemui di sawahnya, Sabtu (28/5/2016) mengatakan, benih padi mulai bisa dipanen sebagai bibit padi pada usia 18 hari. Harga jualnya Rp. 5.000 perkilogram basah. 
Bibit padi kemudian akan ditanam di sawah secara manual dengan menancapkannya di lahan sawah. Harto mengatakan, di desanya masih banyak petani yang lebih suka menggunakan cara tradisional. Karenanya, pada setiap menjelang musim tanam padi, ia selalu menyemai benih padi untuk dijualnya sebagai bibit padi usia 18 hari. Beberapa benih padi yang disemainya pun beragam. Ada bibit Sintanur, Inpari 36, Raja Lele dan sebagainya.
[Koko Triarko] 
Lihat juga...