Samsul Subakri Jadikan Wayang Suket Media Pembelajaran untuk Anak-anak

SABTU, 28 MEI 2016

MALANG — Nama Wayang Suket (wayang rumput) mungkin belum sepopuler wayang kulit maupun wayang golek. Namun kehadirannya kini mulai diminati masyarakat, terutama anak-anak di Malang.
Samsul Subakri mengaku sudah bertahun-tahun membuat wayang suket. Ia menceritakan bahwa nama asli dari wayang suket ini sendiri sebenarnya adalah Puspa Salira (Puspa=bunga, Salira=badan atau boneka) namun karena permainannya melalui bayang-bayang sehingga sekarang lebih di kenal dengan sebutan wayang suket.
“Wayang suket biasanya saya gunakan sebagai media pembelajaran terpadu kepada anak-anak dan juga masyarakat umum. Melalui wayang ini kita bisa belajar matematika, keterampilan, bahasa dan juga budi pekerti dalam satu kegiatan tanpa terputus,”ungkap pria yang juga akrab di sapa Karjo ini.
Karena menurutnya, semua anggota tubuh dari wayang suket memiliki makna. Selain itu, urutan bagian tubuh yang mana dulu yang harus di buat juga memiliki makna tersendiri, sehingga tidak bisa sembarangan.
Ia menyampaikan, bagian tubuh yang harus di buat terlebih dahulu yaitu bagian hidung. Kenapa harus di buat dulu karena hidung berfungsi untuk bernafas.
“Manusia tidak makan dan minum beberapa jam masih bisa hidup, tapi kalau manusia tidak bernafas satu jam saja pasti mati. Oleh karena itu bagian hidung harus dibuat lebih dulu, baru membuat bagian tubuh yang lain,”jelas Bapak empat orang anak ini.
Samsul mengatakan bahwa bahan pembuat Wayang suket berasal dari rumput Mendong yang sudah dikeringkan yang biasanya juga digunakan untuk membuat tikar. Rumput jenis ini banyak dijumpai di pinggiran sungai. Dibutuhkan enam helai rumput Mendong untuk membuat rumput suket.
“Jumlah tersebut diambil dari banyaknya jumlah penjuru atau arah yakni depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah,”tuturnya.
Sebelum menggunakan bahan dari rumput Mendong, biasanya Samsul menggunakan kain perca maupun kantong plastik untuk membuat wayang.
“Awalnya dulu saya bikin wayang dari kain perca dan plastik, tapi kemudian saya sederhanakan agar mudah di tiru. Untuk membuat wayang suket tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 10-15 menit saja,”imbuhnya.
Menurutnya, materi muatan yang di bawakan ketika memainkan wayang disesuaikan dengan usia penonton. Namun begitu Samsul mengaku 90 persen materi yang ia sampaikan bermuatan lingkungan. Seperti bagaimana manusia hidup di alam ini, apa yang harus dihindari agar tidak terjadi kerusakan alam dan muatan lainnya yang berhubungan dengan alam.
Ia lebih tertarik menyampaikan muatan lingkungan karena dulunya ia pernah menjadi penggiat pelestarian satwa dan juga konservasi.
Ia berharap semakin banyak masyarakat terutama anak-anak yang tertarik untuk membuat wayang suket karena melalui wayang ini masyarakat bisa mendapatkan berbagai ilmu sekaligus belajar mengenai budi pekerti.
“Selama ini, Wayang suket sudah kami ajarkan kepada kurang lebih 3.000 ribu siswa dari seluruh Nusantara,”pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Lihat juga...