SABTU, 28 MEI 2016
LARANTUKA — Suguhan musik suling yang dimainkan saat upacara pembuakaan Tour de Flores di taman Kota Larantuka beberapa waktu lalu menghipnotis ribuan tetamu yang hadir. Bahkan para atlit balap sepeda internasional dan rombongan pejabat pemerintah dibuat terkesima. Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Ekonomi Dr.Rizal Ramli bahkan meminta agar kelompok ini tampil kembali.

Lagu daerah dan lagu Sayonara yang dimainkan 35 peniup suling dimana didalamnya terdapat 15 orang perempuan, semakin bersemangat meniup suling saat tepuk tangan membahana usai sebuah lagu dimainkan.
“Saya sangat terharu, ternyata pejabat pusat bahkan menteri merasa puas dan meminta kami tampil kembali. Ini sebuah penghargaan yang luar biasa untuk kami,” ujar Laurensius Si Ola Hokeng.
Ketua kelompok sanggar Sason Nuren ini yang ditemui Cendana News usai pentas bersemangat ketika diajak berbincang terkait pengembangan musik suling,musik tradisional yang hampir punah di bumi Lamaholot.
Laurens sapaan kepala sekolah SD Tana Lein ini menjelaskan, kelompok musik suling Sason Nuren didirikan olehnya tahun 2004. Sason artinya kesayangan sementara Nuren artinya muda atau baru bertumbuh sehingga dapat diartikan sebagai lembaga yang baru bertumbuh.
“Kalau tidak dilestarikan suatu saat musik suling akan hilang. Saat ini saja hanya tinggal sekitar 6 kelompok saja yang masih bertahan meski jatuh bangun,”terangnya.
Laurens mengaku mendapat pengalaman dari guru-guru terdahulu dan karena memilik bakat dirinya mulai mengumpulkan warga desa untuk mulai belajar meniup suling.
“Saya sedang melakukan kaderisasi,mereka bisa meniup tapi tidak bisa membuat suling,” sesalnya.
Padahal kata Lurens dirinya juga memberikan ukuran dan mengajari cara membuatnya dari awal. Namun katanya anak-anak muda yang diajari tidak bisa membuat suling sebab kuang giat mengembangkan bakat dan terus gagal.
Dibayar Seadanya
Laurens memaparkan, dalam kelompoknya anggota dibagi sesuai spesisfikasi atau kelompok. Ada sopran dan piklo satu kelompok sementara sisanya alto, bagleden 1, begleden 2, bas dan bombardon.
Sason Nuren sering ditanggap saat penjemputan tamau-tamu penting,menghibur tamu agung atau pejabat,menjemput imam baru serta mengantar pengantin saat nikah.
“Kalau dipanggil kami tidak mematok bayaran tapi kadang mereka memberi ongkos sesuai kemapuan,” papar mantan pendiidik ini.
Kadang kelompok ini dibayar 200 ribu namun ada juga yang menghargai dengan memberi uang 300 ribu rupiah. Semua pemberian diterima karena kelompok ini belum mematok harga sekali pentas.
Semua anggota kelompok mengenakan sarung tenun ikat Senawe Meang yang ditenun sendiri memakai benang dari kapas dan terbiasa membawakan musik dalam irama mars, langgem dan wals.
“Semua lagu bisa kami mainkan baik lagu daerah di NTT maupun lagu lainnya sesuai permintaan yang mengadakan acara,” ungkap guru suling ini.
Dulu di Flores Timur, kelompok musik suling sangat berkembang. Ada almahrum Philip da Silva dan Philipuus de Rosary guru-guru di sekolah dasar yang mendapat pengetahuan bermain suling dari guru-guru Belanda.
Saat ini hanya ada beberapa kelompok suling, di Ritaeabng, Tana Lein, Riang Baring, Duang dan Lewotobi di kecamatan Ile Bura. Namun kelompok yang ada ini pun mulai beranjak ke mati suri.
Laurens mengusulkan agar dinas PPO dan Pariwisata mengambil buku-buku lama berisi cara membuat suling dan meniup suling dan dibagikan ke sekolah-sekolah dasar dan sekolah manengah.
“Masyarakat masih menghargai musik kampung, musik tradisional, buktinya kami sering diundang tampil,”pungkasya.

Veronika Liwu warga Larantuka yang ditemui saat pementasan memberikan apresiasi atas permaian suling kelompok ini.Bagi Vero,musik tradisional seperti ini perlu mendapat perhatian pemerintah.
“Pemerintah harus sering menundang pentas mereka agar kelompok musik tradisional tetap bertumbuh,” pinta Veronika.
[Ebed De Rosary]