Dua Presiden Beda Nyali

MINGGU, 24 APRIL 
Penulis : Noor Johan Nuh / Editor : Rustam / Sumber Foto : Pusat Data HM.Soeharto

Sejarah telah membuktikan, bahwa Presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbeda nyali. Presiden Soeharto tetap teguh pada pendirian untuk terbang ke Kroasi pada tahun 1995. Padahal kondisi negara tersebut tidak aman.Terjadi peperangan yang sangat hebat. Sedangkan Presiden SBY membatalkan keberangkatannya ke Belanda pada tahun 2010, hanya karena ada aksi demonstrasi yang dilakukan aktivis Republik Maluku Selatan (RMS) di pengadilan Belanda. Mereka minta pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan (arrest warrant) terhadap SBY sesampai di Belanda. Mari kita simak kronologis kedua peristiwa tersebut.




Presiden SBY Urung Terbang ke Belanda
Tanggal 5 Oktober 2010, usai bertindak sebagai Inspektur Upacara Hari Tentara Nasioanal Indonesia ke 65, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuju Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma untuk terbang ke Belanda atas undangan Ratu Beatrix dan Perdana Menteri Belanda.
Cockpit Crew pesawat kepresidenan Indonesia One atau RI 001, telah masuk ke dalam pesawat sesuai standar untuk penerbangan Very Very Important Person (VVIP) satu jam sebelum schedule for take off. Pilot bersama Copilot melakukan persiapan penerbangan,  cek; Weather condition departure and destination-Electrical power up checklist-Pre elemenary preflight-Taxy and take off breafing-Before star checklist-Before take off checklist etc.
Landasan Utama Halim Perdana Kusuma ditutup satu jam sebelum dan sesudah pesawat kepresidenan take off. Sementara Cabin Crew atau Flight Attendance tidak kalah sibuknya mempersiapkan penerbangan VVIP. Penerbangan ke Belanda ditempuh selama 17 jam dengan singgah mengisi bahan bakar di Abu Dhabi.
Sesuai dengan protokol kepresidenan, awak media yang meliput perjalanan presiden dan rombongan yang ikut perjalanan presiden ke Belanda sudah  berada di dalam pesawat. Sekitar empat puluh lima menit  di dalam pesawat, tidak ada tanda-tanda keberangkatan pesawat-on schedule. Apa yang terjadi?
Presiden telah berada di ruang tunggu VVIP lapangan udara Halim Perdana Kusuma. Wapres dan beberapa menteri yang mengantar presiden berbincang serius, menteri luar negeri bergeser ke pojok, lalu berbicara melalui saluran telepon dengan duta besar Indonesia di Belanda. Sulit ditutupi ada sedikit kegaduhan. Selesai berbicara by phone,  menteri luar negeri melapor ke presiden, 10 menit sebelum schedule take off, diumumkan pembatalan kunjungan presiden ke Belanda.
Padahal, kunjungan ke Belanda telah direncanakan sejak tahun 2007, mengangendakan pengakuan resmi pemerintah Belanda atas kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sesuai dengan persetujuan Comprehensive Partnertship yang telah dibuat oleh kedua negara. Selama ini pemerintah Belanda hanya mengakui kemerdekaan Indonesia  tanggal 27 Desember 1949, sesuai dengan putusan Konferensi Meja Bundar.
Pembatalan kunjungan SBY disebabkan adanya pengajuan tuntutan hukum dari aktivis Republik Maluku Selatan (RMS) ke pengadilan di Belanda pada hari kedatangan SBY. Mereka minta pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan (arrest warrant) terhadap SBY sesampai di Belanda, atas tuduhan tindak pidana penyiksaan yang dilakukan oleh polisi Indonesia Detasemen Khusus (Densus 88) terhadap aktivis RMS pada Hari Keluarga Nasional tahun 2007 di Ambon. Apa yang dilakukan RMS membuat gusar SBY dan memutuskan membatalkan kujungan ke Belanda, di menit-menit terakhir sebelum take off.
Keputusan SBY mengundang reaksi yang beragam dari berbagai lapisan masyarakat yang pada umumnya menyesalkan keputusan pembatalan kunjungan ke Belanda.
Kasus urung berangkat ini juga memunculkan berbagai pertanyaan, tepatkah membatalkan kunjungan ke Belanda? Apakah pengadilan Belanda dapat mengeluarkan arrest warrant untuk menangkap SBY atas tuduhan pelanggaran HAM? Mungkinkah seorang presiden dapat ditangkap di luar negeri atas tuduhan pelanggaran HAM?
Padahal, pemerintah Belanda menjamin imunitas dan pengamanan  SBY selama mengunjungi Belanda. Jaminan itu dikeluarkan menyusul pernyataan presiden RMS John Wattilete, menuntut penahanan SBY di pengadilan Belanda.
Presiden Amerika Barack Obama pernah membatalkan kunjungan ke Indonesia, namun pembatalan dilakukan jauh hari sebelumnya, tidak seperti SBY, membatalkan keberangkatan beberapa menit sebelum schedule for take off. Obama membatalkan kunjungan ke Indonesia karena ada permasalahan Undang-undang Kesehatan yang masih alot berdebat dengan Kongress Amerika. Obama membatalkan berangakat ke Indonesia karena memikirkan kepentingan rakyatnya. Obama memberikan perhatian (Care). 
Presiden Soeharto Terbang ke Medan Pertempuran
Tanggal 13 Maret 1995, Presiden Soeharto dalam kedudukannya sebagai pemimpin Negara Non Blok, berkunjung ke Zagreb,  Ibu Kota Kroasia. Di Zagreb,  Presiden Soeharto berbincang dengan Presiden Kroasia Franjo Tudjman mengenai rencana kunjungannya ke Bosnia Herzegovina.
Dalam pembicaraan itu, Presiden Franjo Tudjman menceritakan   bahwa sehari sebelumnya (12 Maret), pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yashusi Akashi, ditembaki saat terbang di Bosnia, untung tidak jatuh korban,  meskipun beberapa bagian pesawat bolong-bolong terkena peluru. Insiden penembakan pesawat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) itu tidak mengurungkan niat Presiden Soeharto untuk tetap datang ke Bosnia, meskipun Presiden Kroasia menyarankan untuk mengurungkan rencana mengunjungi Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Saran Presiden Franjo Tudjman dibalas dengan senyum oleh The Smiling General dan kunjungan ke Bosnia tetap dilakukan. 
Rombongan Presiden Soeharto berangkat menggunakan pesawat sewaan buatan Rusia yang juga biasa dipakai oleh misi-misi PBB di Bosnia Herzegovina. Pesawat yang disewa itu  pesawat kecil untuk penumpang tidak lebih dari 12 orang. Ikut dalam rombongan Presiden Soeharto adalah; Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayor Jenderal TNI Jasril Jakub, Ajudan Presiden Kolonel Inf. Sugiono, Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden Kolonel Inf. Sjafrie Sjamsoedin, Komandan Detasemen Pengawal Pribadi Presiden Mayor CPM Unggul K Yudhoyono, Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Menteri Sekretaris Negara Moediono, Panglima ABRI Jenderal TNI Faizal Tanjung, Kepala Badan Intelijen ABRI Mayor Jenderal TNI Syamsir Siregar.
Sesuai prosedur keamanan PBB, semua penumpang diminta mengisi formulir pernyataan menanggung resiko masing-masing, termasuk Presiden Soeharto. Presiden Soeharto menandatangani formulir itu dan meminta Kolonel Inf. Sjafrie mengisi data di formulir tersebut. Setelah semua penumpang di pesawat mengisi dan menandatangani formulir, kemudian diserahkan ke petugas PBB.  Sesuai prosedur terbang ke daerah konflik, semua penumpang harus mengisi dan menandatangani formulir itu, baru pesawat diizinkan terbang ke Bosnia.
Penerbangan dari Zagreb ke Sarajevo ditempuh dalam waktu satu setengah jam. While on a final approach for landing-pesawat turun dari ketinggian 30.000 kaki ke 10.000 kaki, setengah jam sebelum mendarat di bandara Sarajevo, memasuki daerah pertempuran, penumpang diharuskan memakai helm dan rompi anti peluru. Semua penumpang telah mengenakannya termasuk crew pesawat, hanya Presiden Soeharto yang belum. Sjafrie pindah duduk ke kursi di depan presiden sembari memegang rompi dan helm-sengaja memperlihatkan dan berharap agar supaya presiden memintanya. Alih-alih meminta, Presiden Soeharto malah memerintahkan kepada Sjafrie agar helm itu nanti dibawa ke Museum Purna Bhakti Pertiwi.
Pesawat turun lagi dari ketinggian 10.000 kaki,  final approach for landing-di ketinggian minimum 400 feet. Dari jendela pesawat Sjafrie melihat moncong senjata 12,7 yang biasa digunakan untuk menembak pesawat terbang, moncong senjata itu bergerak mengikuti laju pesawat. Bahwa pesawat itu sudah menjadi sasaran tembak senjata 12,7, baru diceritakan oleh Sjafrie setelah kembali dari Sarajevo.  Akhirnya pesawat melandas mulus di lapangan udara Sarajevo.  
Lapangan udara Sarajevo dikuasai oleh dua pihak yang sedang berperang.  Wilayah landasan dikuasai oleh Serbia,  sementara samping kiri dan kanan landasan dikuasai oleh Bosnia. Presiden Soeharto turun dari pesawat hanya mengenakan jas dan kopiah. Sedangkan anggota rombongan masih mengenakan jaket anti peluru dan helm di tengah  kepungan sniper yang bertebaran di sekitar lapangan udara tersebut.                                                                            
Pasukan PBB yang menjemput telah menyiapkan kendaraan panser buatan Perancis, mirip panser Anoa buatan PT Pindad. Ikut bersama Presiden Soeharto di dalam panser; Atase Pertahanan Indonesia di Sarajevo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi, dan Kolonel Inf. Sjafrie Sjamsoedin. Sjafrie bertanya kepada atase pertahanan, berapa lama perjalanan ke istana dan posisi mereka saat itu. Atase pertahanan menjelaskan, bahwa posisi pada waktu itu sedang melintas di Sniper Valley, tempat yang dipenuhi oleh para penembak jitu dari kedua pihak yang sedang berperang.
Tiba di istana, Presiden Soeharto disambut hangat oleh Presiden Bosnia Herzegovina Alija Izetbegovic. Kedua pemimpin berbincang sekitar satu setengah jam, dilanjutkan makan siang. Setelah itu menteri luar negeri Ali Alatas memberi keterangan pers, Presiden Soeharto dan rombongan menunggu di ruang lain. Pada kesempatan itu Sjafrie melaporkan, bahwa pada saat pertemuan kedua pemimpin itu berlangsung, beberapa  peluru meriam  jatuh sekitar tiga kilometer dari istana. Presiden Soeharto tersenyum mendengar laporan Sjafrie.
Suasana perang begitu mencekam, suara tembakan sayup gemuruh terdengar dari kejauhan, dan terlihat di istana gerakan prajurit-prajurit Bosnia yang bersiaga penuh.                                                                            
Perjalanan pulang dari Bosnia ke Kroasia tidak kalah mencekamnya. Dalam pesawat, di daerah aman beberapa saat sebelum landing di bandara Zagreb,  Sjafrie bertanya kepada Presiden Soeharto, mengapa begitu memaksakan diri datang  untuk datang ke Bosnia yang sangat gawat, karena sedang  menjadi medan pertempuran. 
Presiden Soeharto mengatakan dengan tenang: “Sebagai Pemimpin Non Blok, ada negara yang sedang susah, kita tidak bisa membantu dengan uang,  kita datang saja, kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka menjadi bertambah semangat. 
Akhirnya pesawat mendarat mulus di landasan bandara Zagreb. Presiden Soeharto disambut haru oleh Presiden Kroasia  dan rombongan kepresidenan yang tidak ikut ke Bosnia. Baru saja menjejakan kaki di Zagreb, didapat berita sedang terjadi pertempuran hebat di bandara Sarajevo, 15 menit setelah pesawat yang ditumpangi Presiden Soeharto take off. Memang sesungguhnya tangan Tuhan yang menyelamatkan Presiden Soeharto, namun secara nalar kemanusiaan, dapat dicermati betapa dua kelompok yang sedang berperang, menghormati sekaligus menghargai Presiden Soeharto.  
Lihat juga...