MINGGU, 24 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
MAUMERE – Bicara kakao di kabupaten Sikka tak lengkap bila nama Eduardus tidak disebut. Dirinya menjadi salah satu petani kakao yang sukses dan bisa meraup untung ratusan juta rupiah setahun dengan menjual kakao dan anakan kakao dari kebun pembibitan.

Sejak tahun 2009 pria yang berdomisili di RT 04 RW 07 Dusun Gedo, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, ini terlibat aktif menularkan ilmu tentang kakao mulai dari cara tanam, perawatan hingga panen.
Bahkan Eduardus bisa mengajarkan dari cara memilih bibit dan menanamnya di polybag sebelum di pindahkan ke kebun. Hampir semua petani kakao di Sikka pernah mendapat ilmu darinya.
Saat ditemui Cendana News di kebun kakao miliknya, Jumat (22/4/2016) lelaki murah senyum ini di mendapat kunjungan 40 petani kakao dari kecamatan Mego dan Tanawawo dampingan Wahana Tani mandiri (WTM).
Para petani diajak meninjau kebun demplot kakao miliknya yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahnya. Di lahan berpasir dengan kemiringan 30 derajat tersebut, kakao merah yang ditanam berbuah lebat.
“ Petani di sini kalau kita cuma bicara saja mereka tidak percaya. Sudah lihat hasil di kebun saya saja, mereka masih susah diajak berubah, “ tutur pria kelahiran Wolokoli, 28 Juli 1970.
Melihat hasil kakao di kebunnya,Cendana News jadi percaya ucapan isterinya ketika berbincang di rumahnya: “Kita bisa panen kakao sambil tiduran “. Buah kakao merah di kebun ini sangat besar dimana 4 buah kakao saja bisa mencapai berat satu kilogram.
Menimba Ilmu
Jiwa petani sudah tertanam dalam diri suami dari Maria Goreti Wurha ini sejak remaja. Setamat dari SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas ) Boawae tahun 1990, dia mengambil kursus pertanian, tepatnya di Kursus Pertanian Tanam Tani (KPTT) di Salatiga, Jawa Tengah. Setamat dari Salatiga Eduardus bergelut dengan tanaman Vanila.
Sempat bekerja di beberapa LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bersinggungan dengan pertanian, membuatnya mendapatkan beragam ilmu dan praktik bertani yang mumpuni. Tahun 1993 hingga 1996 dia bergabung dengan Yayasan Karya Sosial di Sikka yang mengembangkan kebun contoh Bertani Selaras Alam di Wolomarang.
“Kami mendampingi petani di beberapa desa dari Kolisia hingga Magepanda, “ ujar ayah dari Mariani Rubia Anthia dan Paulinus Moa Candra.
Bergabung di Pusdit Candraditia, tahun 1997 dia belajar budaya berkebun yang mengarah ke Agroforesty. Bekal ilmu ini menjadi modal baginya untuk total terjun sebagai petani kakao di sela tugas pendampingan.
“Kebun sayur di Pusdit melayani pasokan sayuran untuk rumah sakit Kewapante dan Lela, serta Seminari Tinggi Ledalero, “ sebutnya.
Sempat melalangbuana menangani jagung selama setahun di sebuah perusahaan dan program Rehalibitasi Flores di sebuah LSM Internasional, sejak tahun 2009 Edhardus diajak PT. MARS mendidik petani kakao di Kabupaten Sikka. Kecintaan pada kakao perlahan mulai tertanam.
Pendampingan Berkelanjutan
Setelah mendapat bekal ilmu bertanam kakao di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Edhardus mendampingi kelompok tani. Sudah ratusan kelompok tani yang didampingi.Tak kenal lelah, Eduardus berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya hanya untuk menularkan ilmu yang didapat.
Petani kakao yang didampingi tersebar di 8 kecamatan yakni, Bola, Hewokloang, Doreng, Mapitara, Waigete, Nita, Lela dan Paga. Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusa Laran di Desa Wolonwalu yang didampinginya meraih Gapoktan berprestasi tingkat nasional.
“Gapoktan ini mengolah biji kakao menjadi minuman dan menjadikannya sebagai sebuah kelompok yang berhasil mengolah biji kakao,“ tuturnya.
Edhardus juga bergabung dengan beberapa teman mendirikan Cacao Learning Center (CLC ) di Nita, yang difasilitasi sebuah badan dunia. Selain itu, Edhardus juga menyelenggarakan sekolah alam kakao dengan siswa 25 orang sekelas. Berawal dari 2 kelas di tahun 2012, tahun 2013 menjadi 27 kelas.
“Pemerintah kabupaten mendukung dana buat 24 kelas di Kabupaten Sikka saat itu,“ tambahnya.
Demplot kakao yang dikembangkan sekolah itu seluas 4 hektar , tidak termasuk 1 hektar demplot pribadinya. Belum lagi 40 hektar lahan kakao di tiga desa di Kecamatan Bola. Juga belum terhitung di wilayah kecamatan lainnya yang menjadi wilayah pendampingannya.
Edhardus berharap para petani untuk mulai merubah sikap untuk memanfaatkan waktu lebih baik dan memfokuskan diri pada usaha kakao. Bagi pemerintah, dia mengharapkan agar kebijakan yang diambil tidak hanya memberikan bantauan dalam bentuk proyek atau program, tetapi perlu ada pendampingan yang berkelanjutan.
“Jangan ketika ada proyek baru ada pendampingan. Petani kita harus dididik untuk bertani kakao secara benar, “ sarannya.
Bukan hanya mengajari bagaimana pembibitan, sambung samping, sambung pucuk, tanam sisip, dan tanam ulang, Edhardus juga mengajari petani mengolah kakao bahkan mengakses harga pasar lewat internet.
“Dari Pater Hubert Thomas, SVD dan Pater Thomas Tue SVD saya belajar bagaimana mengelola proses tanam sehingga ada ketersediaan hasil setiap saat, ” pungkas pria yang setahun dua kali sejak tahun 2010 mengikuti pelatihan kakao di Makasar ini.
Bagi Eduardus, petani sebenarnya bisa kaya asal fokus pada sebuah komoditi.Selama ini petani kita masih tergantung pasar.Saat harga Vanila meningkat semua petani di Sikka tanam Vanila. Petani pintanya,harus menentukan sendiri jenis tanaman yang akan dikembangkan sehingga bisa fokus.
“Coba dilihat,petani kita memiliki kebun namun di dalamnya semua jenis tanaman ada. Kebun akhirnya terkesan seperti hutan karena tidak teratur dan terawat,” pungkasnya.(Ebed De Rosary)