SABTU, 12 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Wairbou sebuah dusun di desa Nebe kecamatan Talibura kabupaten Sikka hingga kini masih belum tersentuh pembangunan. Belum memiliki fasilitas penerangaan, bahkan untuk dapat menjangkaunya harus melewati kali Nangagete selebar sekitar 100 meter.
![]() |
| Perkampungan Wairbou yang asri |
Daerah tersebut terletak sekitar 52 kilometer arah timur kota Maumere ibukota kabupaten Sikka dan hanya sekitar 700 meter dari dusun Belawuk desa Nebe yang dilintasi jalan negara trans Maumere-Larantuka.
Kali ini merupakan akses jalan favorit yang dipilih 22 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 70 jiwa. Jalan aspal yang menghubungkan jembatan I’ang Loeng hingga ke dusun Wailoke yang masuk desa Wailamun dan kampung Wairbou desa Nebe sepanjang sekitar 3 kilometer tak bisa diakses.
“Jalan ini 3 tahun lalu sudah kami perbaiki secara swadaya namun belum juga diaspal walau berulangkali sudah kami usulkan lewat Musrembang,”ujar Bernadus Bago, ketua RT saat ditemui di Wairbou, Sabtu (12/3/2016).
Dikatakan Nadus sapaan akrabnya, kampung Wairbou dulunya di tahun 80-an banyak dihuni warga. Terdapat sekitar 40 rumah di kampung yang sejuk dikelilingi kebun kelapa dan kakao. Sejak ada penertiban, warga yang tidak memiliki tanah memilih kembali ke kampung asal di dusun Buhasoge di sebelah timur dan juga ke dusun Waioloke di sebelah barat. Sehingga sejak saat itu hanya tersisa beberapa rumah saja yang memang merupakan warga asli kampung ini.
“Kalau sekarang sudah banyak yang membangun rumah sehingga sudah mulai ramai lagi,” tutur Nadus.
Belum Terlayani Listrik
Walau dekat ke jalan negara yang dilalui kabel PLN, namun Wairbou sampai saat ini belum dimasuki jaringan listrik. Nasib serupa juga dialami warga kampung Wailoke dan Buhesoge tetangganya.
“Kami sudah menyampaikan ke pihak PLN di Maumere namun belum juga disetujui sehingga kami masih memakai generator bagi yang mampu dan lampu pelita bagi yang tidak mampu,” papar Nadus.
Warga Wairbou dan Wailoke mengandalkan generator untuk penerangan di malam hari atau saat digelar pesta. Untuk cas baterei hanphone generator pun dinyalakan atau warga menyeberang ke Belawuk untuk sekedar cas handphone atau lampu emergency yang kerap digunakan sebagai penerangan.
Seluruh warga Wairbou dan Wailoke berprofesi sebagai petani. Kakao dan kelapa menjadi komoditi unggulan.Tanah pertanian di Wairbou tergolong subur dan merupakan tanah berpasir. Hanya satu dua rumah yang memelihara sapi, itu pun hanya satu atau dua ekor saja. Sapi-sapi tersebut pun sebagian besar merupakan bantuan pemerintah.
![]() |
| Warga yang melintasi kali Nangagete menuju kampung Wairbou |
Terkikis Banjir
Maria Dua Lodan warga Wairbou yang ditemui di rumahnya di hari yang sama menyebutkan, warga Wairbou dan Wailoke lebih memilih melintasi kali Nangagete menuju dusun Belawuk baik untuk menjual hasil pertanian dan perkebunan maupun untuk bersekolah di SD maupun SMP di Belawuk dan Lalankleler sebelah selatan kampung mereka.
“Kalau hujan dan kali Nangagete banjir masyarakat tidak bisa melintas.Anak-anak sekolah pun terpaksa meliburkan diri,” kata Lista sapaan akrabnya.
Bila hujan lebat dan curah hujan di daerah hulu tinggi bisa dipastikan kali Nangagete banjir. Ketinggian air bisa mencapai 60 centimeter dan sangat deras sehingga tidak ada yang berani melintasi kali takut terbawa arus.
Lebar kali Nangagete setiap tahun mengalami perluasan akibat banjir.Areal kebun kelapa dan kakao yang berada di pinggir utara dan selatan kali terkikis banjir menyebabkan lebar kali saat ini sekitar 100 meter.
“Kebun saya yang berbatasan dengan kali di sebelah utara ikut terkikis banjir sekitar 25 meter,”ungkap Lista.
Jika hujan lebat dan banjir besar Lista khawatir air akan mengikis sebagian areal kebunnya yang ditanami padi, jagung dan singkong. Warga Wairbou lanjut Lista otomatis terisolir bila terjadi banjir. Menyeberang ke kampung Wailoke hingga ke jembatan I’ang Loeng pun pasti tidak bisa sebab ada jembatan di sebelah barat kampung Wailoke juga tergenangi air.
![]() |
| Areal kali yang ditumbuhi rerumputan dahulunya merupakan lahan kebun warga |
Mempertahankan Tradisi
Warga Wairbou tergolong hidup sederhana dan praktis mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan. Hampir semua kepala keluarga pernah merantau ke Kalimantan atau ke wilayah timur negara Malaysia. Remitan yang didapat dikirim ke kampung guna membangun rumah dan menyekolahkan anak.
“Semua pemuda disini waktu muda pernah merantau tapi uang yang didapat hanya cukup untuk biaya sekolah dan bangun rumah saja setelah itu mereka kembali ke kampung menjadi petani lagi,” tutur Wilhelmus Wolor, tetua kampung yang kerap dipercaya menggelar ritual adat.
Adat dan budaya masih kental dianut warga Wairbou yang masuk dalam komunitas etnis Tana Ai. Setiap musim tanam selalu diawali dengan menggelar ritual adat. Ritual diwali dengan membuka kebun baru, menanam padi atau jagung, makan padi baru, makan jagung muda hingga panen.
“Kalau panen baru diadakan Pati Ea, memotong hewan dan dipersembahkan kepada leluhur dan penjaga kampung serta penguasa langit dan bumi,” papar Wolor.
Hasil kebun seperti kelapa, jambu mente dan kakao di dalam kebun dibiarkan saja meski sudah siap panen. Saat Cendana News melintasi kebun, terlihat kelapa yang jatuh dan dibiarkan di tanah.Setiap kebun selalu dibuat ritual atau Ru’u. Kebun diyakini memiliki penjaga sehingga siapapun yang mencuri akan disakiti penjaga kebun. Jika sudah di Ru’u ungkap Wolor siapa yang mencuri akan meninggal.
Musik merupakan satu-satunya hiburan bagi masyarakat di kampung ini. Untuk menonton televisi,warga harus menyeberangi kali ke Belawuk. Ini yang membuat warga Wairbou tidak mengetahui informasi yang terjadi di Maumere, ibukota kabupaten Sikka apalagi di negeri ini kalau tidak menyeberang kali.
Melintasi kali Nangagete menuju kampung Wairbou memberi sensasi tersendiri. Di tengah maraknya warga ibukota Jakarta terbuai bersosialisasi lewat media sosial, warga Wairbou dan Wailoke tetap asyik bersosialisasi di pondok-pondok kebun saat ritual adat atau berjoget ria meski hanya mengandalkan alunan musik dangdut dari handphone murah meriah.

