Nasi Lodo dan Nasi Tiwul Jadi Sajian Nikmati Akhir Pekan

SABTU, 12 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Berada di Pulau Sumatera khususnya Provinsi Lampung bukan halangan untuk menikmati makanan tradisional dari daerah asal yakni nasi Lodo yang dikenal sebagai makanan khas Pacitan Jawa Timur. Makanan khas Pacitan yang bernama Nasi Lodo adalah sejenis masakan yang sangat khas bagi suku Jawa. Konsepnya yang menggunakan nasi uduk sebagai andalan utama, ditambah ayam dengan kuah santan membuat rasanya nikmat.
Sebelum dimasukkan ke dalam kuah santan, daging ayam kampong tersebut terlebih dahulu dipanggang. Kemudian kuah santan menjadi pelengkap lezatnya ayam itu. Dengan konsep yang sedemikian unik, nasi lodo cocok untuk menu sarapan atau makan siang, tentunya dengan tambahan segelas es kelapa muda.
“Warga di sini juga sudah sangat mengenal nasi Lodo dan lidahnya sudah terbiasa dengan sajian yang khas dan bagi yang berasal dari Jawa Timur dan menetap di Lampung makanan ini sangat disukai,”ungkap Mestini sang pemilik warung kepada Cendana News, Sabtu (12/3/2015)
Mestini mengungkapkan, kekhasan nasi lodo sudah sangat dikenal sebab kuliner tradisional tersebut merupakan makanan masyarakat kelas menengah ke bawah yang sangat lezat. Nasi yang disajikan dengan tambahan berupa lalapan sambal tomat pedas, urap sayuran dan ayam masak santan ini akan terasa nikmat, apalagi disantap dalam kondisi yang lapar dan capek, kenikmatan itu kian bertambah.
“Yang membuat semakin merasa nikmat adalah sajian nasi tersebut yang disajikan khas jawa sekali, yaitu disajikan dengan alas daun pisang semakin menambah selera makan,”ungkap Mestini, wanita yang mengaku merantau dari Pacitan ke Lampung sejak 20 tahun lalu.
Kelezatan nasi lodo diakui oleh Buyung, salah satu langganan. Meski terkesan sederhana namun sangat pas untuk mengobati rasa lapar setelah setengah hari bekerja. Ia bahkan selalu mampir ke warung di Jalan Lintas Timur Batanghari Lampung Timur tersebut saat jam makan siang.
Gurihnya masakan ini langsung terasa sejak gigitan pertama. Ternyata nasi yang disajikan adalah nasi uduk. Menggigit daging ayamnya, terasa ada sesuatu yang berbeda dengan aroma yang khas santan dengan bumbu yang menggugah selera.
“Daging ayamnya empuk dan pastinya bisa membuat saya yang senang berburu kuliner. Akan nambah dua porsi dan kadang pesan ayamnya juga untuk dibungkus buat anak dan isteri”terang Buyung.
Rahasia kelezatan nasi lodo dengan daging ayam yang disajikan menurut Mestini terletak pada cara memasaknya. Ayam ini terlebih dahulu dipanggang sebelum kemudian dimasak dalam kuah santan dan yang dipergunakan pun harus ayam kampung.
“Siram daging ayam ini dengan kuah santan untuk menambah rasa gurihnya. Masakan ini sama sekali tak terasa pedas, karena cabai dimasukkan secara utuh ke dalam kuah”terangnya.
Bila pengunjung merupakan  penggemar rasa pedas pelanggan  tinggal memilih antara menggigit cabai merah utuh atau menambahkan sambal tomat. Dilengkapi dengan secangkir teh poci, nasi lodo terasa sangat pas sebagai menu sarapan pagi atau makan siang setelah setengah hari bekerja.
Belum puas menikmati nasi Lodo? Mestini mengakui warung miliknya pun menyajikan sajian khas makanan tradisional Jawa Timur lain yakni nasi Tiwul. Ia mengaku bagi yang sudah biasa dengan nasi Putih maka nasi tiwul bisa jadi pilihan lain.
“Pelanggan biasanya sekaligus memesan nasi lodo dan nasi tiwul apalagi jika datang rombongan sehingga bisa menyesuaikan selera dan mencicipi kedua kuliner buatan kami,”ungkap Mestini.
Seperti halnya nasi Lodo yang dihadirkan di Provinsi Lampung, Mestini juga melihat prospek banyaknya perkebunan singkong di Lampung Timur dengan membuat nasi tiwul. Seperti diketahui nasi tiwul salah satunya  merupakan makanan khas dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur  yang sangat lezat berwarna kecokelatan terbuat dari singkong dan cocok untuk penderita penyakit diabetes karena mengandung kadar kolesterol yang rendah.
“Nasi tiwul mempunyai rasa perak, agak kenyal, dan sedikit manis ini cara membuatnya tergolong mudah apalagi kalau pernah tinggal di Jawa terus merantau ke Sumatera pasti tahu cara pembuatannya,”terangnya.
Ia menuturkan pembuatan nasi tiwul dimulai dari singkong. Singkong dikupas, dicuci dan dikeringkan hingga menjadi gaplek. Selanjutnya singkong ditumbuk hingga halus menjadi tepung gaplek lalu di taruh di dalam suatu wadah, kemudian tepung gaplek dipercikan sedikit air dan dicampur/diaduk(dengan tangan) hingga membentuk butiran-butiran dan dikukus sampai matang.
Selain disantap menggunakan lauk tempe goreng pedas, ayam goreng, ayam kuah, nasi tiwul kerap disantap dengan ikan gabus kuah santan serta ikan patin kuah.
Berbisnis kuliner nasi lodo, nasi tiwul dan sajian kuliner lainnya diakui Mestini dilakukan untuk memenuhi rasa kangen akan daerah asal di Pacitan. Ia pun tak mematok harga mahal bahkan untuk setiap porsi nasi lodo dan nasi tiwul dijual dengan maksimal harga Rp.15ribu. Selain itu sajian lain sebagai teman makan nasi diantaranya rempeyek, telur asin, serta wedang atau minuman jahe dengan harga rata rata Rp.3ribu hingga Rp.5rb.
“Harga bersahabat inilah yang membuat warung saya masih dicintai pelanggan yang kangen menikmati kuliner nasi lodo dan nasi tiwul,”terangnya.
Ia mengakui pengunjung yang ingin memanjakan lidah di warung yang terletak di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera tersebut sebagian besar warga biasa dan sekali kali beberapa pejabat pemerintah pun mampir sekedar memanjakan lidah dengan sajian khas yang ditawarkan warung sederhana di daerah Batanghari Lampung Timur tersebut.
Lihat juga...