Pasca Banjir Bandang, BPBD Sleman Tetapkan Siaga Satu

SENIN, 14 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

YOGYAKARTA — Menyusul terjadinya banjir bandang di wilayah Kabupaten Sleman dan sebagian Kota Yogyakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menetapkan status Siaga satu. Warga yang tinggal di bantaran sungai diimbau agar selalu waspada, karena berada di lokasi paling beresiko tinggi.
Kepala BPBD Sleman, Juli Setiono Dwi Wasito
Kepala BPBD Sleman, Juli Setiono Dwi Wasito mengatakan, saat ini diperkirakan sudah masuk musim pancaroba yang akan berlangsung sampai pertengahan April mendatang. Berdasar pengalaman dan data tahun kemarin, pada tahun ini terdapat potensi bencana berupa angin kencang, petir, hujan sangat lebat yang bisa menimbulkan banjir dan tanah longsor serta ancaman bencana kebakaran.
“Saat ini bahkan ancaman bencana naik dua kali lipat. Jika tahun 2014 angka kejadian angin kencang sebanyak 23 kali, meningkat menjadi 50 kali di tahun 2015 dan di tahun 2016 ini sudah ada 10 kali kejadian angin kencang”, tegasnya saat ditemui di Sleman, Senin (14/3/2016). .
Juli meminta kepada warga untuk lebih waspada beraktifitas di sungai, mengingat banjir bandang bisa terjadi tiba-tiba dan tidak terduga. Banjir bandang selalu terjadi akibat hujan di daerah atas (hulu sungai), sementara di daerah bawah tidak hujan, sehingga warga sering tidak menduga akan datangnya banjir bandang itu. 
“Warga masyarakat di bantaran sungai saat ini beresiko sangat tinggi. Maka, antisipasi dan kewaspadaan harus ditingkatkan. Pengamanan harta benda harus dimulai dari sekarang dengan menyimpannya di tempat yang tinggi”, ungkapnya.
Selain hujan lebat, Juli menekankan jika banjir bandang juga disebabkan oleh menumpuknya sampah di sungai yang menyebabkan pendangkalan. Sementara itu, lahan kosong semakin berkurang sehingga peresapan sangat minim.
Tak hanya itu, daerah rawan banjir kini juga bertambah. Sungai-sungai kecil yang sebelumnya tak pernah banjir, sekarang juga sudah mulai sering meluap. 
“Perlu pula diingat, bahwa di puncak Gunung Merapi masih ada sekitar 20 Juta meter kubik material hasil erupsi 2010, yang dimungkinkan bisa menimbulkan banjir lahar jika terjadi hujan lebat di kawasan puncak,” tuturnya.
Sementara itu, akibat banjir bandang dua hari lalu, Juli yang saat ditemui didampingi oleh Kasubag Publikasi, Aris Herbandang, dan Kabid Kedaruratan dan Logistik, Makwan, mengungkapkan, ada enam desa yang terdampak, yakni desa Trimulyo, Sendangadi, Sunduadi, Purwobinangun, Donokerto, dan Pandowoharjo. Ada sekitar 32 rumah rusak sedang dan berar dengan estimasi kerugian materi mencapai Rp. 200 Juta. 
Lihat juga...