Pameran Foto di Bawah Jembatan, Edukasikan Budaya Pada Masyarakat

Seorang pengunjung mengamati foto

YOGYAKARTA — Komunitas seni  Backpakcer Jempol Yogyakarta (BJY), menilai banyak kebudayaan bangsa ini sudah lari ke tempat lain. Prihatin dengan itu, mereka lalu menggelar pameran foto bertema kedekatan masyarakat terhadap kebudayaannya, di ruang publik bawah jembatan layang Lempuyangan, Yogyakarta.
Selama 24 jam pameran foto yang diadakan bersama dengan workshop batik teknik celup atau tiedye, sengaja digelar di kawasan bawah jembatan Lempuyangan, Yogyakarta, karena di tempat tersebut menjadi ruang publik bagi warga sekitar. Selain itu, kawasan tersebut juga berada di pinggir jalan raya yang cukup padat lalu lintasnya. 
“Harapannya masyarakat bisa langsung melihat pameran dan terlibat aktif, karena pameran itu juga disertai workshop membatik yang diadakan mulai hari ini,”sebutnya di Yogyakarta, kemarin.
Dijelaskan lagi, dalam pameran bertajuk Amben Mlayu, ada 60 foto yang dipamerkan. Foto-foto tersebut dipajang sederhana pada bilah-bilah bambu yang dipajang di sepanjang trotoar bawah jembatan layang Lempuyangan. Yosua Pelamonia (25) salah satu panitia menerangkan, foto-foto itu merupakan hasil koleksi dari sekitar 20 anggota komunitas yang pernah bertandang ke sejumlah tempat dari Sabang sampai Merauke, kecuali Aceh dan Sulawesi.
Yosua mengatakan, foto-foto yang dipamerkan seluruhnya menggambarkan aktifitas kebudayaan di banyak daerah. Selain sebagai upaya informasi dan edukasi, katanya, tema kebudayaan sengaja dipilih untuk mengingatkan masyarakat, bahwa kebudayaan asli bisa tergerus oleh globalisasi.
Lebih jauh, Yosua yang didampingi Stefano Pelamonia dan ketua komunitas Rosita Wulaningtyas, menuturkan, Komunitas Backpakcer Jempol Yogyakarta, merupakan komunitas umum yang dalam kegiatannya tidak hanya melancong ke berbagai tempat wisata, melainkan juga mengenal budaya masyarakat di suatu tempat dan mengabarkannya.
Melalui pameran foto di ruang publik, diharapkan masyarakat dari berbagai kelas mulai dari tukang becak sekalipun bisa melihat. “Harapannya tentu pesan yang ingin kita sampaikan bisa lebih menjangkau semua elemen masyarakat”, ungkap Yosua.
Sementara itu terkait workshop batik celup atau tiedye, merupakan upaya lebih mengenalkan kreatifitas batik celup dengan bahan pewarna alami, yang bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak kecil. 
MINGGU, 18 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...