Histori Hari Ini : Presiden Soeharto resmikan 36 pabrik di Sulawesi Tengah
SENIN, 17 DESEMBER 1990, di desa Mamboro, Sulawesi Tengah, Kepala Negara meresmikan 36 buah pabrik, rumah sakit umum, stadion, gedung olahraga, dan dua bendungan dengan jaringan irigasinya.
Pabrik-pabrik yang diresmikan itu berupa pengolahan kayu, rotan, es balok, marmer, serta vulkanisir ban. Jumlah investasi yang ditanam adalah sebesar Rp54,4 miliar dan keseluruhannya mampu menampung sekitar 6.000 orang tenaga kerja. Devisa yang diharapkan dari proyek-proyek setiap tahunnya adalah sebanyak US$34,5 juta.
Dalam amanatnya, Presiden Soeharto mengungkapkan kebahagiannya, sebab dengan keberhasilan dalam pembangunan dua bendungan, Dolago dan Turoe beserta jaringan irigasinya akan mengairi ribuan hektar sawah di daerah ini.
“Dengan demikian hasil pertanian daerah ini akan meningkat. Selain itu, para petani yang hidup di sekitar bendungan tadi juga dapat memanfaatkan untuk berbagai kegiatan di bidang perikanan, yang dapat meningkatkan mutu gizi dan merupakan penghasilan masyarakat,” sebut Kepala Negara.
Presiden juga mengatakan bahwa wilayah bagian timur Indonesia merupakan salah satu wilayah yang memiliki sumber daya alam yang banyak.
Dengan bantuan tenaga-tenaga ahli dan terampil serta dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di wilayah ini, kita pasti akan berhasil mewujudkan wilayah bagian timur Indonesia. Wilayah Indonesia di sebelah timur memang dapat kita kembangkan lebih pesat lagi, karena besarnya potensinya baik di bidang industri, pertanian maupun pariwisata.
Propinsi Sulawesi Tengah, sebut Presiden, memiliki berbagai sumber daya alam yang sangat potensial yang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Seperti kayu hitam, yang terkenal sebagai kayu mewah dan mahal. Pemanfaatannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab agar terjaga kelestariannya.
“Selain itu juga memiliki potensi rotan yang besar. Kota merasa gembira bahwa di Propinsi Sulawesi Tengah sudah banyak dibangun industri pengolahan rotan, meskipun baru pada tingkat pembuatan setengah jadi yang perlu diolah lebih lanjut di daerah lain,” terang Kepala Negara.
Di samping industri kayu dan rotan, daerah ini telah berkembang pula industri barang-barang yang memiliki pasar regional, seperti garam beryodium, marmer, batu pecah dan lain-lain. Bahkan juga telah berkembang pabrik mesin yang membuat alat-alat pertanian dan traktor tangan serta industri jasa pemeliharan.
“Semuanya tadi menunjukkan, bahwa di wilayah timur Indonesia mampu tumbuh dan berkembang industri yang berdaya saing kuat untuk pasaran ekspor. Yang penting adalah memahami keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing daerah, sehingga barang-barang yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran,” demikian Presiden Soeharto.