Kementan terus berupaya meningkatkan produksi kopi berkualitas

Admin

JAKARTA, Cendana News – Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya meningkatkan jumlah produksi dan kualitas kopi tanah air.

Sejak beberapa tahun ini pun Kementan telah melakukan berbagai upaya peningkatan produksi dan kualitas kopi.

Salah satu upaya peningkatan produksi dan kualitas kopi itu adalah dengan menyiapkan bibit kopi unggul di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Hingga tiga bulan pertama tahun 2022, penangkaran kopi di Desa Cikandang, Garut sudah menghasilkan hampir 500.000 bibit.

Sementara itu, Kementan menargetkan pada tahun 2022 ini bisa memproduksi sebanyak 3 juta batang bibit kopi.

Mentan Syahrul Yasin Limpo, pun meminta dalam lima bulan ke depan kabupaten Garut bisa menyiapkan 10 juta bibit kopi.

Menurut Mentan, bibit kopi dari Garut ini akan disebar ke seluruh wilayah di Indonesia.

Dia menekankan, bahwa pengembangan kopi memberi prospek cerah. Sebab, permintaan kopi di pasar dunia tumbuh rata-rata 3 persen per tahun. Dan, pasar domestik pun semakin ramai.

Pada tahun 2000, konsumsi kopi per kapita penduduk Indonesia hanya sekitar 0,5 kg, namun pada 2020 naik ke level 1,2 kg.

Namun demikian, peningkatan itu masih jauh dari Eropa yang konsumsi kopi per kapita mencapai 4,5 – 5 kg per tahun.

“Karena itu, menyongsong situasi pasar yang cerah itu pelaku usaha kebun kopi harus berbenah,” katanya dikutip dari indonesia.go.id, Rabu (14/9/2022).

Dia mengatakan, dari 1,26 juta hektare tanaman kopi di Indonesia sebanyak 98 persennya adalah kebun rakyat.

Perkebunan besar swasta dan BUMN hanya berkontribusi sebanyak 2 persen. Dan, produksi kopi nasional dalam catatan Kementan sebanyak 775.000 ton pada 2021.

Namun, sebagian produksinya di pasar ekspor masih bermutu kurang baik. Aroma dan rasanya masih kurang mantap.

Produktivitas kebun kopi Indonesia secara rata-rata nasional sebanyak 817 kg per ha per tahun.

Masih jauh di bawah kebun kopi Vietnam yang produktivitasnya mencapai 2,3 ton per hektare per tahun, atau Brazil yang 1,3 ton per hektare per tahun.

Sebagian kebun kopi di Indonesia juga dalam keadaan rusak atau kurang terawat.

Menurut Mentan, dari 1,26 juta hektare perkebunan kopi itu ada tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 188,91 ribu hektare. Dan, tanaman menghasilkan (TM) atau produktif seluas 947,92 ribu hektare.

“Adapun luas areal tanaman tidak menghasilkan atau tanaman rusak (TTM/TR) mencapai 122,16 ribu hektare,’’ kata Mentan.

Karena itu, Mentan menekankan perlunya bibit kopi yang sehat dan berkualitas untuk membangun kebun baru maupun untuk menggantikan tanaman yang rusak, tidak terawat atau yang sudah terlalu tua. ‘

Dia mengatakan, bahwa target 10 juta batang bibit kopi juga masih masih sangat kurang untuk mengerek kembali pamor kopi Indonesia di pasar global.

Dengan rata-rata 1.500 batang per hektare, 10 juta bibit itu hanya untuk merahabilitasi kebun tua sekitar 6.500 hektare.

“Padahal, kebun rusak dan tak terawat yang harus direhabilitasi luasnya lebih dari 122 ribu hektare,” kata Mentan.

Untuk itu, Kementan pun juga membangun nursery kopi di 10 sentra kopi yang lain seperti di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan NTT.

Dari produksi kopi nasional yang 774.000 ton itu, sekitar separuhnya yakni 384,5 ribu ton untuk pasar ekspor. Nilainya sekitar USD850 juta atau sekitar Rp12,5 triliun di 2021.

Saat ini, Indonesia adalah negara produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil (2,7 juta ton), Vietnam (1,6 juta ton) dan Colombia 800 ribu ton.

Secara domestik, kopi itu penyumbang devisa terbesar kelima di sektor perkebunan, setelah kelapa sawit, karet, kakao ,dan kelapa.

Bukan hanya dari sisi volume, ekspor kopi Indonesia kalah dari Brazil dan Vietnam.

Dari sisi kualitas pun masih tertinggal. Hanya 30 persen kopi ekspor Indonesia yang tergolong dalam kualitas prima, yakni masuk grade I atau II.

Kemudian, sebanyak 70 persen lainnya grade sedang (III dan IV), bahkan sebagian lagi masuk kelompok kualitas rendah, grade V dan VI.

Lihat juga...