Gapoktan Trimulyo Sleman sukses kembangkan budidaya cabai sistem APH
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA, Cendana News – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Trimulyo, Sleman, Yogyakarta sukses mengembangkan lahan percontohan budidaya cabai dengan sistem Agen Pengendali Hayati (APH) di lahan seluas kurang lebih 10 hektar.
Dengan metode APH ini, para petani mengaku mampu menekan kebutuhan pupuk serta pestisida kimia pabrikan secara signifikan. Namun hasil panen tak kalah, jika dibandingkan menggunakan pupuk kimia.
Pengurus Gapoktan Trimulyo, yang juga Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) setempat, Yohanes Parjana (56), mengatakan mulai melakukan usaha budidaya cabai dengan APH ini sejak sekitar 1 tahun terakhir.
Mendapat pendampingan langsung dari pemerintah, baik itu Kementerian Pertanian, BPTP DIY, Dinas Pertanian DIY maupun Dinas Pertanian Sleman, Gapoktan Trimulyo sukses melakukan panen raya cabai pada Selasa (13/09/2022).
“Sistem APH ini memanfaatkan agen pengendali hama penyakit ramah lingkungan yang dapat dibuat sendiri oleh petani. APH digunakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan hama serta penyakit tanaman,” katanya.
APH ini menggunakan 3 macam jenis bakteri, yakni pembenah tanah, pembunuh jamur antagonis, serta peningkatan produksi dan pertumbuhan tanaman.
“Tiga jenis agen pengendali hayati, yakni BG, PF dan PGPR ini kita buat sendiri dengan cara difermentasi menggunakan air rebusan kentang. Mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia secara signifikan,” katanya.
Dari sisi hasil panen, Parjana menyebut satu batang tanaman cabai jenis keriting mampu menghasilkan 1-1kg cabai selama satu musim tanam. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan penggunaan pupuk kimia yang hanya berkisar 0,7 kilo per batang.
“Dalam sistem ini kita juga menggunakan metode tumpang sari berupa bawang merah. Sehingga sebelum panen cabai, petani bisa mendapatkan hasil tambahan dari panen bawang di usia 2 bulan pertama,” imbuhnya.
Sementara dari sisi biaya produksi, penggunaan APH dikatakan Parjana juga mampu menekan pengeluaran petani secara drastis. Pasalnya petani tidak perlu lagi membeli pupuk maupun pestisida kimia dalam jumlah besar.
“Jelas jauh lebih murah. Karena dengan APH ini kita hanya perlu beli biang bakteri saja. Lalu diolah sendiri dengan bahan-bahan yang sangat murah. Kalau memakai penuh pupuk maupun pestisida kimia jelas sangat mahal,” katanya.
Berkat keberhasilannya tersebut, Parjana mengaku kini banyak petani di wilayah Trimulyo Sleman khususnya dusun Kalirase yang mengikuti langkahnya menggunakan sistem APH.
Meskipun masih ada petani yang tetap menggunakan pupuk maupun pestisida kimia, karena sudah bertahun-tahun mengalami ketergantungan dengan pupuk pabrikan tersebut.
“Dengan semakin mahalnya harga pupuk kimia, serta berkurangnya jenis pupuk yang disubsidi oleh pemerintah, pertanian dengan sistem agen pengendali hayati ini bisa menjadi solusi bagi petani. Karena saya sudah membuktikannya. Saya berharap petani lain bisa mengikuti,” pungkasnya.