Jejawu

CERPEN YUDITEHA

Desa Sukadana bersama Luwika semakin hari kian gemilang. Karena kemajuan itulah empat desa lain di sekitarnya dengan sukarela menginduk kepadanya.

Kisah ini selayaknya cerita perihal Kerajaan Gowa. Sebuah epos yang terjadi di Somaopu, ujung selatan jazirah barat daya pulau seberang. Kabarnya di sana dulu ada sembilan negeri yang sangat hebat.

Dengan berjalannya waktu, dari kesembilan negeri itu ada satu negeri yang sangat maju, jauh meninggalkan kedelapan negeri lainnya. Negeri maju itu dipimpin seorang yang dipercaya keturunan dewa.

Oleh karenanya dengan sukarela kedelapan negeri itu menginduk kepada negeri yang paling maju, yang akhirnya menjadi Kerajaan Gowa. Perbedaannya, untuk perubahan di Desa Sukadana bukan setingkat kerajaan, tetapi hanya sebatas kademangan. Sejak itu Kademangan Sukadana semakin masyhur.

Meski begitu, pada awal-awal Desa Sukadana menjadi kademangan bukan lantas berjalan mulus. Terkait hal itu, ada satu peristiwa di kehidupan Luwika yang menjadi kisah tidak bisa terlupakan. Hal itu bisa dibilang sisi lain dari keberhasilan Luwika.

Sesungguhnya anak Luwika dan Ingarsih bukan hanya Senjawa dan Senjawi. Putri kembar mereka itu sebenarnya telah mempunyai seorang kakak lelaki. Dan berikut adalah kisah tentang anak lelaki itu.

Ketika anak lelaki itu lahir, dia tidak menangis seperti bayi biasanya yang baru dilahirkan. Karenanya benak Luwika dan Ingarsih sempat muncul tanya, ada apa dengan buah hatinya? Hal itu baru terjawab setelah beberapa waktu kemudian, saat mereka memanggil orang pintar untuk memeriksa.

Menurut penerawangan orang pintar, bayi itu tidak akan bisa bicara dengan jelas karena lidahnya teramat pendek. Bahkan ada lagi penyataan dari orang pintar itu yang membuat Luwika dan Ingarsih sangat bersedih.

Orang pintar itu mengatakan, seiring bertambahnya usia anak, kelak akan diketahui pemikirannya tidak seperti anak-anak pada umumnya. Penjelasan itu sesungguhnya untuk mengganti pernyataan bahwa anak mereka tidak normal.

Luwika memberi nama anak itu Jejawu. Meski keadaan Jejawu seperti itu tetapi Luwika dan Ingarsih tetap menyayangi sepenuh hati. Dalam pertumbuhan anak itu ternyata benar apa yang dulu dikatakan orang pintar.

Jejawu tidak bisa bicara dengan jelas, dan pemikirannya sangat kurang. Karena keadaan Jejawu seperti itu, oleh Luwika tidak diperkenankan keluar rumah sendirian, di mana waktu itu Desa Sukadana belum menjadi kademangan.

Sampai Senjawa dan Senjawi lahir, bahkan sampai mereka berdua remaja pun, Jejawu tetap jarang keluar rumah. Luwika memperlakukan Jejawu demikian bukan karena menyembunyikannya agar tidak diketahui warga, tetapi agar keselamatan Jejawu tetap terjamin.

Selain itu Luwika tidak ingin Jejawu menjadi biang masalah jika dibiarkan berada di luar rumah. Bukti dari ketulusan Luwika, Jejawu boleh dikunjungi siapa pun yang berkenan berteman dengannya.

Luwika benar-benar memperhatikan Jejawu dengan tetap menjaga perasaannya agar Jejawu tidak merasa seperti dikekang. Jikapun terpaksa Jejawu keluar rumah harus ada yang bertugas mengawasinya.

Meski pengawasan terus dilakukan, terkadang Jejawu memang tetap bisa keluar, dan hal itu tanpa pengawasan. Salah satu peristiwa yang bagi Jejawu mungkin sesuatu yang berkesan ketika dia kenal dengan Wanggi, tokoh pejuang yang disegani saat itu.

Pada suatu hari, saat Jejawu berhasil lolos dari pengawasan, bermain sampai di sebuah hutan. Di hutan itu dia menemukan sebuah sumur yang sangat dalam. Entah kenapa, ketika Jejawu melihat sumur itu langsung berlari menjauh.

Rupanya dia hendak menemui seseorang. Setelah berhasil bertemu seseorang, dia berusaha bercakap dengan orang itu, tetapi orang yang diajak bicara tidak mengerti maksudnya.

Oleh orang itu, Jejawu diajak menemui orang-orang di padepokan Singensumonar, sebuah padepokan yang dijadikan markas bagi perjuangan Wanggi dan anak buahnya. Di sana, mereka berdua bertemu dengan beberapa anak buah Wanggi.

Setelah Jejawu diminta menjelaskan, rupanya mereka juga tidak tahu apa maksud Jejawu. Mungkin karena itu tiba-tiba Jejawu menarik tangan Barak, salah satu anak buah Wanggi.

Barak menuruti kemauannya, dengan diikuti yang lain. Ternyata Barak diajak pergi ke sumur itu. Dengan bahasa yang belepotan, Jejawu menerangkan sesuatu sembari menunjuk-nunjuk ke arah sumur.

Mereka tetap bingung, tapi dalam kebingungan itu Barak tiba-tiba berteriak ke arah lubang sumur, yang tak lama kemudian teriakan Barak disahut dengan teriakan lain dari arah dalam sumur.

Mendengar hal itu, dengan sigap mereka bersama-sama mencari tampar yang kemudian ujung tampar itu diturunkan ke dalam sumur. Dari usaha mereka, rupanya tampar itu dapat menolong orang yang ada di sumur itu.

Orang yang muncul dari dalam sumur rupanya Wanggi, pimpinan mereka sendiri. Sejak saat itu, Jejawu berteman baik dengan Wanggi. Tetapi pada saat itu Wanggi belum tahu kalau Jejawu sesungguhnya putra Demang Luwika.

Kasih sayang Luwika dan Ingarsih terhadap Jejawu benar-benar tulus. Keadaan yang ada pada Jejawu tidak sedikit pun memengaruhi kasih yang mereka berikan. Meski telah hadir kedua adiknya yang normal, kasih mereka kepada Jejawu tak pernah berubah.

Luwika tetap mengajari Jejawu selayaknya yang diajarkan kepada orang normal, termasuk mengajari bagaimana lelaki harus pandai bela diri dan bertarung. Meski pada kenyataannya Jejawu hampir selalu tidak bisa melakukan ajaran-ajaran itu, tidak membuat Luwika kecil hati.

Dia tetap mengajari Jejawu dengan sabar. Bahkan sampai sekarang Jejawu belum sekalipun bisa melakukan apa yang diajarkan, tidak juga membuat Luwika menyerah. Karenanya Luwika pernah ditanya Ingarsih perihal itu, dan jawaban Luwika sungguh membuat terharu bagi mereka yang mendengarkan.

“Tugas orangtua tetap mengajarkan sesuatu yang baik kepada anaknya. Saya akan terus melakukan itu, tetapi saya tidak menuntut Jejawu harus bisa melakukannya. Bagiamanapun hasilnya saya tetap harus mengajarinya. Tetapi hal itu bukan lantas kulakukan dengan paksaan, terlebih dengan cara-cara kasar. Saya tetap memperhatikan perasaan Jejawu.”

Karena tidak ada Jejawu harus bisa melakukan, terlebih karena sikap Luwika lemah lembut dalam memperlakukannya, hal itu membuat Jejawu senang. Jejawu justru merasa nyaman jika sedang bersama Luwika.

Perasaan Jejawu seperti menangkap ketulusan yang diberikan ayahnya itu. Bahkan Jejawu juga tidak pernah merasa terpaksa setiap menyimak ajaran Luwika.

Sampai waktunya ketika Desa Sukadana menjadi Kademangan. Meski Luwika telah didukung empat desa, tetapi ada sebuah kademangan yang tidak suka dengan rencananya. Galanggang, begitulah nama kademangan itu. Letaknya tidak jauh dari Desa Sukadana.

Tepatnya di sebelah barat, di mana dari sana lebih dekat jaraknya menuju Keraton Sala. Kademangan Galanggang dipimpin Hindrawi. Pemicu ketidaksukaan Hindrawi karena ada beberapa warganya menjual tanah dan tempat tinggalnya lalu membeli tanah sekaligus tinggal di wilayah Kademangan Sukadana.

Berpindahnya warga itu sebenarnya tidak masalah karena proses berpindahnya pun bukan dengan cara salah. Tetapi oleh Hindrawi, peristiwa itu dianggap penghinaan atas dirinya. Puncak kemarahan itu, Hindrawi mengerahkan prajuritnya untuk menyerang Kademangan Sukadana.

Sesungguhnya Kademangan Sukadana juga mempunyai prajurit tangguh, tetapi karena Hindrawi meminta bantuan kompeni, sehingga prajurit Kademangan Sukadana mengalami kekalahan. Lebih dari separuh prajurit Luwika gugur, dan sisanya mengalami luka parah.

Pada saat itu Demang Hindrawi memberi peringatan, jika sampai sepekan tidak ada pernyataan menyerah, dan bersedia bergabung dengan Kademangan Galanggang, mereka akan kembali datang untuk menyerang. Secara perhitungan kasar, pasukan Luwika sudah tidak bisa berkutik.

Jika memaksa bertarung, mereka tetap akan kalah. Luwika sangat bingung, dan hal itu mendapat simpati beberapa pemuda Kademangan Sukadana. Mereka berniat membantu bertarung. Tetapi sekali lagi, sebanyak apa pun pemuda Kademangan Sukadana, tidak akan mampu menghadapi serangan bedil dari kompeni.

Pada saat itu, dengan berat hati Luwika menyampaikan bahwa dia akan menyerah kepada Kademangan Galanggang. Dia tidak ingin warganya menjadi korban sia-sia,.

Ketika Luwika menyampaikan hal itu, matanya berkaca-kaca. Kesedihan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Jejawu, putra kesayangannya memperhatikan dari kejauhan yang tak lama kemudian berdiri dari duduknya lalu melangkah ke arah ayahnya.

Dipeluknya Luwika, dan hal itu semakin membuatnya terharu. Hampir semua warga yang melihat hal itu menitikkan air mata.

Sehari sebelum Luwika menyampaikan keputusan menyerah kepada Kademangan Galanggang, Kademangan Sukadana kedatangan tamu. Mereka adalah rombongan Wanggi dan seluruh pemuda Sukadana.

Wanggi menyampaikan kabar bahwa baru saja mereka telah berhasil mengalahkan Kademangan Galanggang. Bahkan Hindrawi sudah berjanji tidak akan mengusik lagi Kademangan Sukadana.

Luwika sangat gembira mendengarnya, tetapi kegembiraan itu dalam sekejap meredup saat mendengar kabar berita duka.

Jejawu, putra kesayangannya gugur dalam pertarungan itu. Rupanya Jejawu ikut dalam perang itu, bahkan dialah yang meminta kepada Wanggi dan anak buahnya untuk membantunya. ***

Yuditeha, menulis puisi dan cerita. Pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Jawa Tengah.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...