Lingkaran Hitam

CERPEN KARISMA FAHMI Y

Risang menepikan motornya, memberi isyarat pada mobil sedan di sebelah kirinya untuk berhenti. Mobil itu berjalan pelan dan menepi. Seorang lelaki muda keluar dari dalam mobil.

“Maaf? Ada apa?” lelaki itu bertanya sopan.

Risang menatap penuh kemarahan pada lelaki itu. Dipukulnya rahang lelaki itu sekeras-kerasnya. Lelaki itu terhuyung dan ambruk ke pinggir jalan.

Ia bangkit dengan kepala berkunang-kunang. Tangannya melambai seolah memohon dan bertanya yang terjadi. Darah segar keluar dari bibirnya. Risang kembali menendang tubuh lelaki itu bertubi-tubi hingga lelaki itu terjungkal.

Setelah merasa cukup, ia membiarkan lelaki itu terbaring di tepi jalan. Ia menyalakan motornya dan pulang dengan perasaan tenang. Sesekali tangannya mengepalkan tinju.

Perih bercampur memar. Ia tak pernah bertarung sebelumnya. Baru sekali ini ia memukul orang tepat di wajahnya. Perasaannya sedikit longgar. Ada yang tiba-tiba menguap dari dadanya. Sebuah kesedihan dan beban berat seolah terangkat dari dirinya.
***
Risang menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Sengaja ia biarkan kamarnya gelap supaya ia bisa berpikir dengan tenang.

Sesekali ia mendengar langkah kaki di depan pintu, namun tak lama langkah itu pun pergi. Ia tahu itu adalah Bakar, Rio, atau Amin, teman-teman kosnya. Risang tahu mereka khawatir. Ia memastikan dirinya baik-baik saja dan hanya ingin sendiri saat ini.

Risang masih menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Barangkali di luar sana petang sudah berganti malam. Ia tak peduli.

Seharian ia menghabiskan waktu dengan berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Sesekali tangannya mengepalkan tinju.

Ia masih terbayang pada serpihan tubuh di dalam peti itu. Ia duduk di bawah peti. Samar aroma lilin yang menyala di bawah peti itu masih tersimpan hingga saat ini.

Ia tak percaya onggokan daging tanpa bentuk yang ada di dalam peti itu adalah Rena, kekasihnya. Dua bulan yang lalu ia melamar gadis itu. Sejujurnya ia tak begitu mengenal Rena.

Mereka saling kenal melalui Amin. Rena adalah teman sekantor Dea, pacar Amin. Mereka bertemu secara tak sengaja saat Amin dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu karena tipesnya kambuh. Setelah tampak cocok, mereka pun tak menunggu waktu lama. Ia segera melamar Rena.

Surat dan bekas-berkas rujukan sudah masuk ke KUA dan mereka telah menyiapkan segalanya. Pernikahan digelar dua bulan mendatang. Gedung, katering, undangan, dan baju pengantin telah dipesan.

Satu-satunya yang belum terpenuhi adalah pergi ke toko emas untuk membeli cincin. Mereka sedang berembug waktu untuk pergi ke toko emas bersama-sama.

“Hari Minggu aku tak bisa, ada jadwal gathering di kantor, dilanjut rapat dengan bagian produksi,” kata Rena saat itu. Rena adalah sekretaris perusahaan kayu ternama di kota ini.

Risang bisa mengerti. Ia sendiri tak begitu terburu. Dua bulan waktu yang cukup untuk semua persiapan. Dan lagi, mungkin sama seperti ketika memilih baju pengantin, memilih cincin bisa jadi menghabiskan waktu seharian.

“Bagaimana kalau Sabtu sore?” tanya Rena di seberang.

“Sabtu sore aku ada pertandingan badminton melawan Pak Bos. Ini sudah babak final,” jawab Risang. Bagaimanapun, ia keberatan meninggalkan pertandingan itu. Mereka belum sempat bertemu.

Kini ia menyesali jawaban itu. Itulah kalimat terakhir yang mengurungkan niat pertemuan mereka. Seandainya hari itu mereka bertemu, barangkali ia bisa melihat senyum gadis itu untuk terakhir kalinya.

Kalau saja ia tahu takdir yang menimpa Rena, maka ia pasti akan mengabulkan permintaan terakhirnya untuk bertemu hari itu.

Risang menarik nafas panjang dan dalam. Takdir berbicara lain. Kereta api yang melaju kencang menyambar tubuh Rena sepulang dari gathering kantornya. Ia tak tak sempat merangkai kata-kata indah sebagai ucapan perpisahan padanya.

Hingga kini Risang masih belum percaya bahwa tubuh di dalam peti itu adalah tubuh Rena. Tubuh yang tak lagi utuh. Ia tak lagi mengenali tubuh dan wajah di dalam peti itu. Tiga hari berlalu dan belum sepenuhnya menerima kenyataan. Ia belum sepenuhnya percaya Rena telah tiada.

Ia memejamkan mata, teringat para pelayat yang datang dan mengajaknya bersalaman. Mereka menepuk pundaknya. Beberapa orang di antaranya merangkulnya erat sambil mengucapkan kata-kata yang tak bisa didengarnya.

Sedih, sesal, dan kehilangan yang luar biasa membuatnya berjarak dengan sekitar. Barangkali ia memang duduk di tempat itu, namun pikirannya melayang entah ke mana.

Ia tak lagi memiliki kesadaran utuh. Ia lebih banyak diam, mengangguk ketika seseorang berbicara, dan membayangkan serpih-serpih tubuh di dalam peti itu. Rasanya ia ingin segera lari dari tempat itu dan menangis sekeras-kerasnya.

Di antara para pelayat yang datang, ia merasa ada satu orang pelayat yang ganjil. Ia mengenakan hem hitam dengan lengan ditekuk hingga siku. Ia terlihat sebagai lelaki yang serius dan matang.

Lelaki itu ikut mengangkat peti jenazah. Ia berdiri di barisan paling depan dan bersikeras ikut membopong peti hingga pemakaman. Berkali-kali lelaki itu menyela peti yang disangga oleh ayah dan kakak Rena.

Bahkan beberapa kali lelaki itu menyerobot peti yang tengah dibopongnya. Ia tak memiliki kekuatan untuk melawan. Ia biarkan saja lelaki itu membopong peti hingga memasuki pemakaman. Sesampai di pemakaman lelaki itu mengenakan kacamata hitamnya.

Ia menangis. Siapa lelaki itu?

Tiga hari berlalu. Bayangan lelaki itu hilang begitu saja. Dalam hatinya hanya diselimuti duka dan kehilangan yang teramat dalam. Bagaimanapun ia mencintai Rena.

Ia menganggap Rena adalah gadis terbaik yang pernah ditemuinya. Risang tak lagi memikirkan keganjilan lelaki itu hingga jawaban atas pertanyaaan itu datang padanya.

Dompet, tas, serta surat-surat dan telepon genggam yang dibawa Rena ketika kecelakaan diserahkan oleh pihak kantor polisi padanya saat ia masih di rumah sakit.

Ia menyerahkan surat-surat motor, tas, dan dompet kepada keluarga Rena. Ia hanya membawa telepon genggam Rena pulang. Beberapa waktu yang lalu ia memberi hadiah Rena sebuah telepon genggam baru. Ia menghadiahkan telepon genggam itu karena Rena mengatakan telepon genggamnya rusak.

Telepon genggam itu masih utuh. Risang masih menyimpan kartu garansinya. Ia akan mengecek, sekiranya telepon genggam itu rusak, maka ia bisa menggunakan kartu garansi untuk memperbaiki.

Ia membuka telepon genggam dan tak ada satu pun bagian yang rusak. Hanya sedikit lecet di permukaannya. Ia membuka pesan dan jejaring sosial Rena yang terhubung secara otomatis.

Teman-temannya mengucapkan belasungkawa di laman jejaring Rena, namun ia justru tertarik dengan pesan yang masuk. Ia ingin mengetahui siapa saja yang menghubungi Rena secara pribadi.

Kotak pesan terakhir adalah obrolan dengan lelaki itu, lelaki yang dilihatnya di upacara pemakaman. Ia mengerutkan dahi. Dibukanya dinding laman jejaring lelaki itu.

Hati Risang seketika mendidih. Lelaki itu adalah atasan Rena, dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa lelaki itu telah beristri. Lelaki itu merayu-rayu Rena, memujanya dengan rayuan dan sanjungan layaknya lelaki hidung belang.

Rupanya Rena juga menyimpan perasaan yang sama. Beberapa kali Rena mengirim foto pada lelaki itu, foto-foto pribadi yang tak pernah diketahuinya selama ini.

Foto itu belum lama dikirim Rena kepada lelaki itu, bahkan ketika Risang sudah melamarnya. Beberapa kali lelaki itu mengirim foto-foto Rena yang diambil tanpa sengaja oleh lelaki itu. Percakapan panjang mereka pun tersimpan rapi di kotak surat.

Kemarahan Risang meluap. Baginya sedih karena kehilangan seseorang yang sudah mati bukan berarti apa-apa dibanding sedih karena pengkhianatan. Ditutupnya telepon genggam dengan kasar. Ia harus membuat perhitungan dengan lelaki itu.
***
Risang keluar dari kamarnya dengan wajah malas. Empat hari berkabung di dalam kamar, kini wajahnya terlihat mengeras tanpa kesedihan. Ketiga temannya saling berpandangan dan khawatir.

Semalam Risang keluar tanpa pamit dan pagi-pagi ia telah bangun. Yang lebih mencemaskan lagi, ia keluar dari kamar dengan telapak tangan yang terbungkus handuk kecil berisi es batu. Rio, Amin, dan Bakar menatapnya heran.

“Kenapa tanganmu, Bang?” tanya Bakar sambil menyeruput kopi.

Sebagaimana lazimnya anak kos, mereka terbiasa duduk-duduk di pagi hari sebelum berangkat ke tempat kerja masing-masing sambil menyimak lagu-lagu dan berita di radio.

“Nembok” jawabnya pendek. Ia mengambil gelas kecil dan menuang kopi instan. Aroma kopi menguar di udara. Risang mengaduk kopinya sebentar dan membauinya seperti yang biasa dilakukan di iklan-iklan televisi. Ketiga temannya merasa ada yang janggal dengan suasana itu.

“Bang, ngantor nggak? Aku pinjam motor. Motorku mogok lagi,” kata Rio.

“Aku masuk kantor hari ini” jawabnya pendek.

“Yakin?” tanya Amin sambil memutar radio.

Ia mengangguk pasti. Ia tak mau membuang waktu dengan hal-hal konyol. Kali ini ia benar-benar merasa dibodohi Rena. Tidak seharusnya ia berduka oleh kematian gadis itu. Pengkhianat memang lebih layak mati.

“Mahendra, lelaki tiga puluh lima tahun ditemukan terluka parah di jalan Malabar. Semalam petugas ronda menemukannya pingsan dan kehabisan darah. Kini, lelaki yang dikenal sebagai manajer perusahaan kayu itu dirawat di ruang gawat darurat Rumah Sakit Cinta Kasih dalam keadaan koma. Pelaku yang diperkirakan menggunakan motor itu melarikan diri setelah memukuli korban hingga pingsan. Belum ada alasan mengenai aksi itu. Hingga kini polisi masih mengumpulkan data mengenai dugaan penganiayaan ini,” suara penyiar radio membacakan berita.

Amin menggesernya ke stasiun radio lain.

Gelas yang dipegang Risang lepas dari genggamannya. Kopi yang masih panas itu mengguyur sebagian kaosnya.
Ia mengibaskan kaosnya yang panas terguyur air kopi.

Ia tidak berniat membunuh lelaki itu. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada lelaki itu. Ia tak menyangka semua akan menjadi sesulit ini. Apa yang harus dilakukannya kalau lelaki itu mati?

“Pakailah motorku, Rio. Aku mau tidur saja hari ini,” kata Risang.

Ketiga temannya berpandangan, lalu menatap Risang dengan tatapan iba. ***

Surakarta, Februari 2022

Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku kumpulan cerpennya adalah “Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian” diterbitkan oleh penerbit Basabasi, dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...