Siapa sangka, hari yang semestinya menjadi istimewa ini justru menjadi hari yang begitu mengerikan? Keributan di mana-mana, ketakutan menjadi-jadi. Orang-orang berlarian, teriakan-teriakan histeris membahana.
Angin kencang. Pohonan berderak-derak. Daun-daun tanggal di pelataran. Istighfar melengking di mana-mana. Kursi berhamburan. Tamu-tamu sibuk menyelamatkan diri.
Di pelaminan, bunga-bunga beterbangan sebelum akhirnya berceceran memenuhi lantai. Hiasan dari stereofom di belakang kursi pengantin roboh. Kain tarub berkelebat sekencang angin yang menyapu halaman rumah.
Derak asbes semakin membuat suasana menakutkan. Sementara di dalam rumah, kekacauan makin menjadi. Orang-orang saling pandang. Saling menebak isi pikiran. Juga ketakutan yang tidak bisa disembunyikan dari tatap mata mereka.
Sekar menjerit sekencangnya di pelukan ibunya. Sementara bapaknya menyumpah serapahi hari yang malang itu. Para rewang memilih diam. Memilih beristighfar sebagai satu-satunya hal yang paling bisa dilakukan.
Di pojok ruang tamu, seorang dukun pengantin duduk bersimpuh menghadap ke barat. Mulutnya komat-kamit, seperti sedang merapal mantra. Matanya memejam, dadanya naik turun mengikuti alur napas yang tak karuan.
***
Sekar, seorang gadis cantik dari keluarga terhormat di Desa Kraton akan melangsungkan pernikahan. Tentu, bukan orang sembarang yang berhasil mengambil hatinya. Seorang gadis terpelajar tidak akan begitu saja menerima lamaran laki-laki.
Sudah sekian belas laki-laki yang patah hati, lantaran cintanya ditolak mentah-mentah olehnya. Beberapa bahkan nekat menemui orangtuanya untuk menyampaikan maksud hati melamar si gadis. Semua dari mereka pulang dengan wajah kecut, lantaran Haji Daslam, seorang juragan beras, menolak anaknya dilamar oleh laki-laki dari keluarga yang tidak sekufu dengannya.
Selain cantik, Sekar adalah perempuan berpendidikan tinggi. Di Desa Kraton, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Bagi orang-orang desa, sekolah tinggi hanya buang-buang uang. Ada banyak hal yang lebih penting.
Sebenarnya bukan lantaran tidak adanya keinginan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang lebih tinggi. tetapi keadaanlah yang membuat mereka memilih untuk menyuruh anak-anak mereka bekerja di luar kota ketimbang menghabiskan uang untuk sekolah.
Anak-anak seusia Sekar, di Desa Kraton, rata-rata sudah mempunyai dua atau tiga anak. Beberapa di antaranya menetap di kota rantau, pulang hanya saat lebaran tiba. Beberapa lagi menetap di desa lain lantaran mengikuti suami atau istri mereka. Sisanya, memilih meneruskan jejak orangtuanya, bercocok tanam di ladang atau bertani di sawah belakang desa.
Hanya Sekarlah yang mengenyam pendidikan tinggi hingga tingkat magister. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi masyarakat Desa Kraton. Membuat keluarga mereka semakin dihormati dan disegani.
Sebagai orang terpandang, tentu pernikahan itu akan dilangsungkan dengan pesta yang mewah. Di Desa Kraton, Haji Daslam adalah orang paling kaya, sekaligus paling angkuh. Tetapi, warga tidak berani menentang, lantaran darinyalah, orang-orang kerap meminjam uang, ketika musim tanam telah tiba. Mereka akan membayar hutangnya dengan sebagian beras hasil panen. Begitu seterusnya.
Itulah kenapa Haji Daslam dikenal sebagai juragan beras. Pun dengan panitia pembangunan mushola, panitia agustusan, hingga panitia peringatan hari besar Islam, semua kerap mengajukan proposal kepadanya. Meski di belakang banyak warga yang menggunjing sikap arogannya, toh uang sumbangannya diterima juga.
Lantaran halaman rumahnya yang luas, Haji Daslam memesan wedding organizer paling terkenal. Pernikahan anak perempuan satu-satunya harus menjadi pernikahan paling mewah di desa itu. Untuk mensukseskan mimpinya, ia menyiapkan lima ribu undangan. Dari orang biasa, pedagang, pegawai kelurahan, tengkulak, hingga para juragan dari berbagai desa.
Sontak, berita akan digelarnya pernikahan paling mewah di desa itu menjadi perbincangan di sawah, di kebun, di pos ronda, di pengajian, di acara kerja bakti, di pertemuan warga, hingga di kantor kelurahan.
Pada akhirnya Sekar memilih Sendang, seorang laki-laki yang juga dari keluarga terpandang. Mereka bertemu saat studi magister. Sendang, selain tampan, adalah laki-laki yang cerdas dan mapan. Mereka membuat banyak orang iri. Lantaran di balik pasangan yang serasi, selalu ada orang yang patah hati.
Sebulan sebelum pernikahan, mereka memesan ube rampe pernikahan. Mulai dari undangan, souvenir, hingga tempat seserahan yang kekinian. Tentu, pesta yang megah kurang sempurna tanpa jas dan gaun yang indah. Selain pakaian, tentu juga memilih corak dan warna untuk pelaminan yang akan menjadi saksi betapa megahnya pesta pernikahan mereka. Setelah memilah dan memilih, membolak-balik katalog, melihat foto-foto di instagram, akhirnya pilihan jatuh pada warna hijau. Pilihan itu didasarkan pada tema yang akan diangkat dalam pernikahan mereka, yakni nature.
***
Pagi seperti biasa. Matahari yang hangat dan ramah. Angin yang sejuk dan baik hati. Orang-orang memulai aktivitas masing-masing. Pun dengan para rewang Haji Daslam, mereka telah bersiap memasang tarub dan segala perlengkapannya.
Seorang perempuan tua berjalan tertatih menggunakan tongkat kayu. Entah dari arah mana. Mengenakan baju hitam dengan kain batik yang juga bercorak kehitaman dan tudung menutup kepalanya. Ia berjalan memasuki gerbang dan menuju rumah.
“Saya mencari Bu Hajjah” celetuknya, saat seorang rewang menghampirinya. Rewang itu segera tahu bahwa perempuan itu adalah Casem, tepat setelah perempuan tua itu membuka tudungnya.
Bagi warga Desa Kraton, Casem adalah perempuan misterius. Ia tinggal seorang diri, di sebuah gubug kecil di dekat pemakaman warga. Tidak ada aktivitas lain yang dilihat orang-orang, selain kegiatannya nginang di depan rumah, tepat menghadap ke tembok pemakaman sembari seperti menembangkan kidung yang entah apa.
Orang-orang selalu menghindari bersitatap dengan Casem. Orang-orang yang lewat di depan rumah Casem, selalu berusaha melengos, lantaran tatapan mata Casem menyiratkan sebuah lorong gelap yang panjang dan pengap.
Rewang itu segera berlalu. Ia memanggil Bu Hajjah, panggilan akrab orang-orang untuk istri Haji Daslam. Dengan penuh waspada, Bu Hajjah keluar rumah. Mendekati Casem dengan tetap menjaga jarak dan penuh kehati-hatian.
“Ko arep mbarang gawe?” Tanya Casem tanpa basa-basi. Bu Hajjah tidak lantas menyilakannya masuk ke rumah. Masih penuh perhitungan.
“Nggih, Nyi. Pripun?” dengan mencoba mengatur intonasi, Bu Hajjah mencoba menjawab sekenanya. Si rewang masih membersamainya. Sesekali bertukar pandang. Semacam penasaran dicampur kewaspadaan berlebihan.
“Aja kelalen sajen” Casem berlalu begitu saja. Meninggalkan ribuan tanya di kepala Bu Hajjah dan rewangnya. Dengan tertatih, langkahnya mulai menjauh. Angin seolah berhenti sejenak.
Di desa Kraton, sebelum melakukan upacara tertentu, memang disarankan untuk meletakkan sesajen di Candi Kraton. Sebuah pohon besar di tengah desa, yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Nyi Rantan Sari. Sesosok perempuan cantik dan sakti, yang dipercaya menguasai wilayah Desa Kraton dan sekitarnya.
Petuah Casem tidak diindahkan. Usai Bu Hajjah menyampaikan mengenai kedatangan Casem, suaminya menyarankan untuk tidak perlu mengikuti kemauannya.
“Sesajen itu kan isinya jajanan, paling juga nanti dia sendiri yang makan. Sudah, tidak perlu percaya hal begituan” tukas Haji Daslam.
Bu Hajjah hanya terdiam. Ia tidak mungkin meyakinkan mengenai sesuatu yang sedari dulu memang tidak dipercaya suaminya itu. Pun dengan Sekar, pendidikannya yang tinggi membuatnya selalu memikirkan hal-hal yang logis, dan persis dengan bapaknya, menolak hal-hal berbau mitos.
***
Di tengah suasana yang menegangkan itu. Sekar tersungkur. Ia menangis sejadi-jadinya. Ibunya mencoba memeluknya lebih erat. Ia mendapat tendangan, pukulan, dan juga cakaran.
Sendang berusaha memegang tangan Sekar. Keluarga besar turut mengelilinginya. Ruangan terasa begitu pengap. Ibunya menangis. Ia bingung bercampur sedih melihat anaknya meronta-ronta tak karuan.
Di luar hujan semakin besar. Angin mengibar-kibarkan kain tarub. Orang-orang semakin dibuat bingung, lantaran dari kejauhan, langit desa sebelah terlihat cerah. Hujan angin hanya terjadi di Desa Kraton. Halilintar menggelegar. Anak-anak menangis ketakutan. Suasana mencekam sekaligus histeris.
Si Dukun pengantin bangkit, ia mendekat sambil melempar pertanyaan “Ada pantangan apa di desa ini jika sedang acara pengantin?”
“Tidak boleh menggunakan tarub warna hijau,” seseorang menjawab penuh ketakutan, wajahnya menunduk. Orang-orang di sekeliling langsung menatapnya.
“Kenapa?” sergap dukun pengantin.
“Larangan dari Nyi Rantam Sari,” jawab yang lain.
Ada semacam sesal yang dirasakan. Ada semacam penasaran yang panjang. Juga amarah yang memuncak. Siapa sangka, hari yang semestinya menjadi istimewa justru menjadi hari yang begitu mengerikan? ***
Halaman Indonesia, 2020
Dimas Indiana Senja, nama pena dari Dimas Indianto S. Sastrawan, peneliti, dan Dosen UIN Purwokerto. Bukunya: Nadhom Cinta, Suluk Senja, Sastra Nadhom, Pitutur Luhur, Museum Buton, dan Kidung Paguyangan. Pada 2012 menjadi perwakilan Indonesia dalam pertemuan sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA) di Padang. Pada 2015 mendapat penghargaan sebagai pemuda berpestasi bidang pendidikan, seni, dan budaya dari Pemda Kab. Brebes. Pada 2016 menjadi emerging writer dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di Bali. Pada 2019 menjadi instruktur literasi nasional di bawah Kemdikbud dan didaulat sebagai ketua instruktur literasi Jawa Tengah. Pada 2019, menjadi pembicara dalam Mandar Writer and Cultural Forum (MWCF) di Sulawesi. Pada 2019 juga menjadi perwakilan Indonesia dalam program penulisan esai oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di bawah Kemdikbud. Pada 2020 menjadi juara penulisan esai yang diselenggarakan Bitread dan Pemda Sumedang. Pada 2020 juga menjadi salah satu finalis Jejak Virtual Aktor (JVA) yang diselenggarakan Kemdikbud.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.