Di bawah naungan payung senja, suara langkah kaki rombongan manusia terdengar bergema di jalanan. Suara raungan kendaraan bermotor dan sumpah serapah yang sesekali terdengar menghiasi jalanan kota, perlahan mulai menghilang.
Dunia yang biasanya penuh dengan kekacauan, kini mulai membisu. Suaranya kini digantikan oleh suara gemuruh lonceng dari jam kuno di sebuah toko di ujung jalan.
Dunia yang sebelumnya terdengar seperti ibu tiri yang kejam, kini terlihat seperti lelucon di mataku. Gambaran yang kulihat dari balik jendela ini, tampak seperti halnya film tua yang tidak lagi berwarna abu-abu.
Apa yang ada di luar sana hanyalah kumpulan serigala dan anjing lapar yang siap memakan habis apa pun yang dilemparkan pada mereka. Semua kekejaman yang terlihat seperti film bisu dari dunia modern.
Aku pikir mungkin saja kebencian mereka tidak akan terdengar jika tertutupi oleh bunyi jam tua ini. Namun, ternyata aku salah.
Walaupun aku tak bisa mencerna seluruh kegilaan ini, aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka. Aku tidak bisa berhenti memandangi dunia luar dari jendela kaca ini.
Bukan berarti aku merindukan dunia yang penuh dengan keramaian. Bukan juga karena kagum akan keindahan senja yang tak sanggup kugapai dengan tangan. Aku tidak bisa berhenti melihat ke luar jendela karena aku sedang mencari seseorang. Seseorang yang entah ada atau tiada. Aku sendiri tak tahu dengan pasti.
Aku hanya bisa menelan kekecewaan, ketika sadar bahwa apa yang aku cari tidak lagi ada dalam keramaian di depan sana. Perlahan aku mengalihkan pandangan mataku ke emperan toko tua milikku. Yang bisa terlihat hanyalah trotoar berbalut semen dihiasi dedaunan kering dari pohon ketapang di pinggir jalan.
Tidak ada apa pun di sana, bahkan sinar matahari pun enggan untuk hinggap barang sejenak. Emperan toko yang seharusnya bersih, kini hanya menjadi tempat angin mengumpulkan sampah. Tidak ada satu benda pun di tempat itu yang menunjukkan adanya aktivitas manusia.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas dan menutup mata. Tubuhku perlahan berbalik seolah ingin melarikan diri dari kenyataan. Ketika aku membuka mataku, aku menemukan diriku dikerumuni berbagai benda antik peninggalan dari zaman sebelumnya.
Dinding bata merah yang mulai memudar, menatapku dengan dingin. Berbagai artefak yang tertempel di atasnya, seolah berusaha mengejek ketidakmampuanku. Jam antik tua yang paling familiar di mataku pun terasa seperti sedang menahan air mata, sebab terlalu lelah tertawa.
Aku mengulurkan tanganku menyentuh jam tua itu. Terasa dingin dan menyakitkan. Ataukah mungkin ini adalah rasa dari kekecewaan? Di atas kepingan kaca yang memisahkanku dengan jantung dari jam kuno itu, terpantul bayangan seorang manusia.
Pria tua dengan rambut keperakan serta alis yang tajam. Pria tua dengan tubuh tegap, namun tidak terlalu tinggi. Sosok manusia dengan keriput di sana sini. Cerminan sempurna dari seorang pria tua yang kehilangan segalanya. Kepedihan bahkan bisa dirasakan dari sorot matanya yang tajam. Pria tua itu adalah aku.
“Maafkan aku. Aku tak bisa berhenti dari pekerjaanku. Meskipun aku tahu bahwa yang kulalui adalah jalan berlumpur, dan kini tangan dan kakiku dipenuhi lumpur. Lumpur ini tak lekas bersih Adinda, walau kubilas dengan air selama bertahun-tahun lamanya. Tangan dan kakiku tidak akan pernah bersih.”
Senyumku mengembang, namun sosok di dalam kaca itu hanya menunjukkan senyum getir yang terlalu dipaksakan. Aku ingat dengan jelas ekspresi itu. Ekspresi yang selalu muncul selama bertahun-tahun, yang terkubur jauh di dalam ingatanku.
Saat itu, aku melihat seorang pecundang terduduk pasrah di sebelah ranjang rumah sakit. Pecundang itu menatap bisu wanita yang ia cintai. Istrinya yang sedang terbaring tak berdaya.
Wajah yang dulunya putih bersih dengan rona merah muda di pipi, kini pucat pasi. Tangan yang sebelumnya penuh dengan kehangatan, kini terasa dingin dan kaku. Pecundang itu tersenyum kecut.
Ia bahagia atas kelahiran buah hatinya, tapi di sisi lain ia harus menghadapi kenyataan bahwa istrinya pergi untuk selama-lamanya. Pecundang itu, aku. Saat itu, aku bahkan tidak tahu ekspresi macam apa yang harus kuberikan pada istriku tercinta.
Apakah aku harus tersenyum ataukah menangis tersedu-sedu. Ekspresi seperti apa yang harus kuberikan sebagai salam perpisahan abadi?
Mungkin inilah yang disebut karma. Karma atas semua kesalahan yang kuperbuat selama ini. Sebagai seorang yang hidup sebatang kara, aku harus bekerja keras demi bisa menyambung hidup.
Segala cara kulakukan, hingga tak sadar, tunawisma ini telah berlumur dosa. Mulai dari mencuri, merampok, bahkan menghilangkan nyawa sekalipun, aku tak segan-segan jika dihadapkan dengan uang.
Entah tak terhitung seberapa banyak kejahatan yang kulakukan, aku bahkan tidak sanggup lagi tertawa untuk mengungkitnya.
Mengenai istriku, apa yang aku sesalkan bukanlah sesuatu yang hilang, tetapi sesuatu yang dia tinggalkan. Di kepalaku terputar kembali kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum pergi.
“Aku mohon, demi putra kita. Berhentilah sampai di sini, keluarlah dari jalan gelap itu. Jadilah seorang ayah yang baik. Aku titipkan putraku padamu.”
Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Aku hanyalah seorang kriminal yang lahir dan hidup dari jalanan. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti berbuat kejahatan, jika satu-satunya hal yang bisa kulakukan demi menambang rupiah hanyalah dengan menambang dosa?
Sudah bertahun-tahun aku hidup dengan cara ini, uang yang kau sebut haram itu adalah penyambung napasku, Adinda. Tindakan kriminal yang kulakukan demi hidupku, hidup kita. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berhenti?
Itu sama saja menyuruh ikan untuk berhenti berenang atau menyuruh anjing berhenti makan daging. Ketika aku melihat wajah putraku yang tertidur lelap dalam mimpi, anak suci itu yang bahkan tidak tahu bahwa malaikatnya telah pergi, membuatku tersadar. Aku tak punya pilihan lain. Dalam hati, aku harap karma itu akan berakhir di sini. Tetapi, sepertinya aku salah.
Tahun demi tahun berlalu dan kehidupan kulalui dengan berbagai masalah yang muncul karena aku berusaha keluar dari dunia hitam. Putraku yang sebelumnya hanyalah anak kecil tak berdaya, kini tumbuh menjadi seorang pria tangguh yang sangat membenci ayahnya.
Kebenciannya semakin memuncak hingga ke titik di mana dia sudah cukup muak dan akhirnya melemparkan surat persetujuan pembagian harta ke depan wajahku.
Saat itu aku menyadari, sepertinya karma tetap datang, meskipun aku tak menginginkannya. Aku pasrah dan menyetujuinya. Walaupun aku sadar, mulai hari itu dan seterusnya, aku akan dianggap telah tiada.
Dia melemparkanku ke jalanan bersama sebuah toko antik. Toko tua yang bahkan tak akan laku, meskipun dijual bersama sebuah jam tua yang telah menemaniku sejak aku bergelut di dalam kegelapan malam.
Semuanya terasa tidak adil bagiku, yang bisa kulakukan hanya menghela napas, menyadari bahwa biang keladi dari kejadian ini adalah diriku sendiri. Di masa depan, aku akan meneruskan separuh perjalanan hidupku dengan kesendirian saja.
Mungkin karena aku lahir sendirian, nantinya aku juga akan pergi sendirian. Aku tersenyum kecut menghadapi matahari yang belum tenggelam, sambil berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mengotori tanganku. Sayangnya semua tidak pernah berjalan seperti yang kuinginkan.
Beberapa bulan lalu, seorang tuna wisma muncul di depan toko antikku. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang yang nampak dari lubang di bajunya. Pakaiannya compang-camping, kusut, dan keabu-abuan.
Penampilannya membuat orang berpikir bahwa dia hanyalah pria kurang waras yang berkeliaran di jalanan. Dia sempat berhenti di emperan tokoku untuk berlindung dari dinginnya hujan malam itu. Kupikir dia hanya sekedar lewat saja, namun ternyata tidak demikian.
Setiap malam dia selalu menghabiskan sisa hari di emperan toko milikku. Kemudian ketika pagi datang, dia akan merapikan tumpukan kardus yang menjadi kasur portabel miliknya, lalu membersihkan emperan toko dan berjalan pergi entah ke mana.
Ternyata, dia sengaja menggunakan emperan tokoku sebagai tempat tinggal barunya. Aku sempat berpikir untuk mengusirnya, namun ketika aku melihatnya mengais makanan di tong sampah di pinggir jalan, aku berubah pikiran.
Aku tahu benar betapa sulitnya hidup sebatang kara di dunia ini. Jalanan yang terasa dingin menusuk tulang dan perut kelaparan yang hanya bisa diisi oleh potongan roti berjamur dari tumpukan sampah. Aku memahaminya dengan benar karena aku juga pernah mengalaminya.
Sesekali aku melongok dari jendela melihat keadaannya. Terkadang aku memberinya makanan sisa yang kumasak sendiri, agar dia tidak kehilangan semangat hidupnya lagi.
Tiba-tiba suatu hari, entah bisikan setan dari mana. Aku mengusirnya pergi dan menyuruhnya untuk jangan mengotori emperan tokoku lagi. Lagi dan lagi aku terus berbuat jahat tanpa kusadari.
Ketika aku sadar dan ingin meminta maaf, dia telah menghilang entah ke mana. Selama berhari-hari aku terus menunggu dia kembali, namun dia tidak pernah datang, batang hidungnya pun tak pernah muncul.
Aku mulai mencarinya di jalanan, bertanya pada orang-orang, tetapi dia tetap tidak kutemukan. Aku akhirnya menyerah. Setiap hari aku hanya bisa memandangi jalanan dari balik jendela, berharap aku akan menemukan tuna wisma itu dengan baju yang lebih baik atau mungkin kehidupan yang lebih baik. Sayangnya, setelah bulan demi bulan berlalu, semua yang kulakukan hanyalah kesia-siaan belaka.
Suatu hari, aku menjumpai seorang wanita tua yang berusaha membuka pintu toko di sebelah toko antik milikku. Aku ingat dengan benar wanita itu, dia adalah tetangga lamaku. Aku rasa sudah cukup lama dia menutup tokonya.
Aku berpikir untuk bertanya padanya, mungkin saja dia tahu di mana keberadaan tuna wisma itu. Namun, dia hanya diam dan menyeretku masuk ke dalam tokonya. Ia menyuruhku duduk di depan sebuah layar monitor. Dan di sinilah pertunjukkan dimulai.
Dari layar itu, terpampang sebuah adegan layaknya film tragedi. Seorang pria berusaha memaksa masuk ke dalam sebuah toko antik yang terkunci rapat. Kemudian, entah dari mana, muncullah seorang tuna wisma yang berusaha menghentikannya.
Si pencuri yang naik pitam kemudian menikam perut tuna wisma itu dengan sebilah pisau. Darah merah perlahan merembes keluar, mengubah baju compang-camping tuna wisma itu menjadi merah gelap.
Pencuri yang terkejut dengan apa yang diperbuatnya itu pun lari tunggang-langgang meninggalkan si tuna wisma yang sekarat di emperan sebuah toko antik.
Perlahan-lahan tuna wisma yang hampir menemui ajalnya itu mengerahkan semua tenaganya yang tersisa untuk bergerak menjauh dari emperan toko. Seolah ia ingin menjaga agar emperan toko itu tetap bersih.
Ketika sudah cukup jauh, ia membaringkan tubuh yang sudah lemah tak berdaya di atas dinginnya aspal jalanan. Bibirnya tetap tersenyum, meskipun perutnya kini bagaikan mata air yang mengucurkan darah.
Melihat tragedi itu, aku hanya bisa terdiam. Perlahan air mata menetes dari pipiku, satu persatu hingga semakin deras. Aku tidak tahu apakah ini air mata kesedihan ataukah penyesalan. ***
Astri Anggraeni, mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.