Mengenal Tuir, Menu Bebakaran Tradisional NTT

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Tuir merupakan masakan yang dimasukkan ke dalam bambu bulat, lalu dibakar. Masakan ini merupakan ciri khas masyarakat wilayah timur Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang dahulu hanya disajikan saat pesta atau acara adat.

“Selain tuir ikan, orang juga biasa memasak nasi di dalam bambu karena rasanya berbeda dengan direbus atau dikukus,” sebut Yasinta Nenti Odang, warga Kelurahan Nangameting, Kota Maumere, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (14/8/2021).

Nenti menyebutkan, dirinya biasa menjual tuir ikan cakalang yang sering dijual kepada pelanggannya dengan memasarkan secara daring.

Ia menjelaskan, untuk membuatnya pertama-tama siapkan bahannya berupa ikan, potong berukuran kecil sesuai keinginan.

Tuir ikan cakalang yang dimasak warga di Kelurahan Nangameting, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (14/8/2021).Foto : Ebed de Rosary

Siapkan bumbu berupa bawang merah, bawang putih, kunyit, halia merica, lombok, daun kemangi, minyak kelapa dua sendok dan daun Gosa Gora atau asam.

“Ulek semua bumbu, lalu masukkan ke dalam bambu bersama potongan ikan, asam atau daun Gosa Gora serta minyak kelapa. Bakar bambu di api hingga matang, lalu angkat,” ucapnya.

Nenti mengaku menjual satu porsi tuir ikan cakalang di bambu berukuran panjang sekitar 60 sentimeter seharga Rp50 ribu.

Menurutnya, sudah banyak warga di Kota Maumere yang suka mengkonsumsinya karena rasanya lebih gurih dibandingkan dengan digoreng maupun direbus.

“Saya seminggu kadang dua kali menjualnya di akhir pekan dan hari minggu. Saya membuatnya sesuai porsi pesanan dari pembeli,” tuturnya.

Sementara itu, Maria Wiliborda, warga Kota Maumere lainnya menambahkan, perkembangan zaman membuat warga di desa, apalagi di Kota Maumere jarang mengkonsumsi tuir.

Padahal, kata Maria, nasi maupun ikan yang dimasak di dalam bambu rasanya lebih enak dan gurih. Untuk membuat rasanya lebih enak, bumbunya pun harus sesuai dan menggunakan kemangi secukupnya agar aromanya lebih wangi.

“Biasanya membuat tuir ikan atau nasi di dalam bambu sering juga ditambahkan dengan santan kelapa. Nasi akan lebih gurih dan kenyal, apalagi ditambah sedikit daun kemangi atau pandan, membuat aromanya lebih terasa,” ucapnya.

Warga Kelurahan Nangameting, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Yasinta Nenti Odang, saat ditemui di rumahnuya, Sabtu (14/8/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Maria mengaku jarang mengkonsumsi tuir kecuali ada acara pesta karena di rumah untuk membuat tuir terkesan agak repot.

Ia mengatakan, harus membeli bambu bulat di pasar tradisional, lalu membersihkan terlebih dahulu bagian dalam bambu menggunakan daun pisang atau kayu yang diikat kain.

“Lebih enak memakan tuir, apalagi daging karena lemaknya tidak berasa. Nasi merah terasa lebih enak bila dibuat tuir,” tuturnya.

Lihat juga...