Jahe Merah Bisa Dibudidaya Sistem Tumpang Sari
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Budidaya jahe merah perlu dilakukan di Indonesia, mengingat peruntukan jahe merah atau Zingiber officinale Rosc. var. rubrum bukan hanya sebagai bahan untuk membuat jamu atau minuman hangat, bisa dikembangkan juga sebagai bahan dasar produk aromatik.
Peneliti Balitbang Kementerian Pertanian, Hera Nurhayati menjelaskan tanaman jahe bukan tanaman asli Indonesia tapi berasal dari India atau Himalaya.
“Hingga saat ini pun, Indonesia masih mengimpor jahe dari India dan China. Sehingga, sangat penting untuk membudidayakan jahe, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sendiri. Selain itu, dengan sistem tumpang sari yang tepat, lahan petani akan lebih produktif,” kata Hera dalam acara pertanian, Senin (23/8/2021).

Ia menjelaskan untuk mendapat hasil optimal dari pembudidayaan jahe, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. “Yaitu pengolahan tanah, cara penanaman, proses pemeliharaan, pemberian pupuk dan pengendalian OPT,” ucapnya.
Untuk membantu proses budidaya jahe merah, ia menyebutkan Balitro sudah mengeluarkan dua varietas, yaitu Jahira 1 dan Jahira 2.
“Bedanya di morfologi dan kandungan minyak atsiri. Jahira 2 itu kandungan minyak atsirinya lebih sedikit dibandingkan Jahira 1, sehingga rasanya tak terlalu pedas. Karena hal ini lah, Jahira 2 lebih digemari masyarakat,” ucapnya lagi.
Hera menjelaskan untuk budidaya jahe merah dibutuhkan agroklimat yang tepat. Agroklimat itu maksudnya sistem pertanahan dan iklim.
“Cocoknya itu ditanam di daerah ketinggian 300-800 meter, suhu daerahnya antara 25 hingga 30 derajat Celcius, jenis tanahnya latosol atau regosol yang sifatnya gembur untuk mendukung perkembangan rimpang dan daerah yang memiliki curah hujan tinggi,” kata Hera.
Dan jahe merah sangat cocok bertumbuh di daerah terbuka atau hanya ternaungi sebanyak 30 persen saja.
“Benih juga harus dipilih yang memiliki mutu genetik, mutu fisiologik, mutu fisik dan kesehatan benih sesuai standar. Dan peruntukan jahe akan menentukan masa panennya. Kalau untuk konsumsi, 9 bulan sudah bisa dipanen. Tapi kalau untuk dijadikan benih, dipanen di atas umur 10 bulan,” ujarnya.
Budidaya jahe merah bisa dilakukan dengan sistem tumpang sari, sehingga lahan bisa menghasilkan berbagai produk atau meningkatkan produktivitas lahan.
“Tumpang sari juga bisa mengurangi risiko atas naik dan turunnya harga jahe merah, menurunkan biaya produksi, memperbaiki sifat fisik dan kesuburan tanah,” ujarnya lagi.
Tapi, Hera menyebutkan, tumpang sari jahe merah juga harus memastikan tanaman pendampingnya tidak memiliki dampak negatif pada tumbuhan jahe merah.
“Misalnya, kacang-kacangan, jagung dan sayuran, merupakan tanaman yang cocok digabungkan dengan jahe merah,” tandasnya.
Chevi Permadi, seorang penangkar benih tanaman obat, menyebutkan untuk bibit jahe merah, yang diambil adalah jahe merah yang berumur minimal 9 bulan.
“Paling baik itu antara 10 hingga 12 bulan. Bisa dilihat dari ciri fisik yang mulus, tak ada bekas paparan hama penyakit,” kata Chevi dalam kesempatan yang sama.
Untuk ukurannya juga, tak perlu yang terlalu besar dan jangan yang terlalu kecil juga.
“Standar aja ukurannya. Tidak besar, tidak kecil. Nanti jahe merah itu, disemai dulu di tanah dengan mata tunasnya mengarah ke atas. Lalu, ditutup dengan arang sekam atau jerami,” ujarnya.
Setelah satu bulan, akan tumbuh tunas setinggi 7 cm, artinya sudah waktunya dipindahkan ke lahan.
Lahan untuk penanaman jahe, harus dipacul terlebih dahulu dan dibiarkan selama 2-4 minggu untuk menghilangkan gas beracun yang mungkin terkandung dalam tanah.
“Selain itu hama dan penyakit yang ada dalam tanah juga bisa mati jika terpapar sinar Matahari,” ujarnya lagi.
Chevi menyebutkan pemeliharaan menjadi poin penting dalam proses pertumbuhan jahe merah.
“Harus disiapkan benih cadangan untuk tanaman yang pertumbuhannya lambat, penyiangan gulma harus rutin dilakukan setelah jahe merah berumur sebulan lebih dengan sangat hati-hati agar tak merusak perakaran jahe merah,” pungkasnya.