Perikanan Budidaya Dukung Ekonomi Sirkular Kala Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Saat sejumlah sektor ekonomi terseok seok dampak pandemi, sebagian warga masih tetap bisa mendapat peluang penghasilan. Sektor perikanan budidaya memanfaatkan perairan tetap mendapat uang dari kerang hijau.

Juarsih, pembudidaya kerang hijau atau Perna viridis menyebut tetap bisa menjual hasil panen. Pembudidaya mengandalkan usaha kuliner yang memesan rutin.

Juarsih bilang memanfaatkan pesisir pantai Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan untuk budidaya kerang hijau. Memanfaatkan sekitar ribuan tonggak bambu, kayu, kombinasi dengan ban bekas motor, mobil jadi tempat hidup kerang hijau. Budidaya berkelanjutan, terjadwal dengan masa panen lima hingga enam bulan memberi hasil jutaan rupiah.

Kerang hijau sebut Juarsih menjadi sumber nilai ekonomis bagi warga. Harga pada level pembudidaya dijual Rp7.000 per kilogram, pengecer Rp10.000 hingga Rp15.000. Setiap hari sang suami memanen kerang hijau dengan rata rata mencapai 20 hingga 50 kilogram. Pesanan kerang hijau bercangkang dilayani, sebagian pembudidaya fokus pada pesanan kerang hijau kupas.

“Kerang hijau jadi sumber ekonomi sirkular yang dijual bercangkang atau utuh, sebagian direbus lalu dikupas untuk diambil dagingnya memenuhi permintaan sejumlah pedagang kuliner yang ada di sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatera,” terang Juarsih saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (23/8/2021).

Juarsih bilang memanfaatkan bahan ban bekas dari sejumlah tukang tambal ban. Bahan untuk budidaya itu dibeli seharga Rp5.000 per buah sebagai modal yang bisa digunakan selama bertahun tahun. Siklus budidaya memakai ban bekas sebutnya lebih awet sementara jenis tonggak kayu, bambu maksimal satu siklus budidaya. Satu siklus budidaya bisa mencapai waktu selama enam bulan.

Budidaya kerang hijau sebut Juarsih cukup menjanjikan. Setiap hari ia bisa mendapat hasil puluhan hingga ratusan ribu. Secara berkala pesanan dari wilayah Bandar Lampung, Pesawaran dipenuhi rata-rata 500 kilogram dua hari sekali. Dijual seharga Rp7.000 per kilogram ia masih bisa mendapat penghasilan minimal Rp3 juta. Sementara dijual eceran ia masih bisa mendapat ratusan ribu.

“Saya juga membuka peluang warga yang ingin menjual kerang hijau keliling dengan harga yang lebih murah,” ulasnya.

Pesanan kerang hijau dipenuhi Sutikno di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (23/8/2021). -Foto Henk Widi

Pembudidaya kerang hijau lainnya, Sutikno, mengaku kondisi perairan yang memadai mendukung budidaya. Peluang itu diambil oleh warga pesisir dengan kombinasi pekerjaan sebagai nelayan dan petani. Sebagai petani ia mengaku bisa menanam padi, menanam jagung dan berbagai tanaman buah. Sebagian hasil kebun berupa kayu lamtoro, kayu gandri jadi tiang pancang.

“Idealnya tiang pancang budidaya kerang hijau memakai cor beton dan pvc, tapi keterbatasan modal membuat kami memakai kayu dan bambu,” ulasnya.

Budidaya kerang hijau sebut Sutikno bisa dilakukan dengan perawatan mudah. Perawatan dilakukan dengan memeriksa tali pengait ban pada tiang pancang. Sebab saat kondisi cuaca buruk kerap menyebabkan tiang pancang tercabut. Perawatan rutin menghasilkan panen saat memasuki usia empat hingga lima bulan. Panen puncak mencapai enam bulan untuk dijual ke sejumlah rumah makan.

Perikanan budidaya khususnya kerang hijau diakui Leman, warga lain sebagai sumber ekonomi. Sebelumnya warga berprofesi sebagai nelayan tangkap dengan perahu. Potensi habitat kerang darah, kerang bulu di wilayah perairan jadi sumber hasil sampingan. Proses panen dilakukan olehnya bertahap pada usia tiga hingga empat bulan. Kerang ukuran sedang sebagian direbus dan dijual bagian daging.

“Kerang yang direbus menghasilkan daging sehingga harga lebih mahal untuk sejumlah usaha kuliner,” ulasnya.

Leman bilang bisa memenuhi permintaan pedagang pengecer di pasar tradisional. Pada level pengecer kerang hijau bisa dijual seharga Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Saat diolah menjadi kuliner kerang hijau bisa menjadi sumber penghasilan bagi usaha kuliner. Ia memilih menjadi pemasok sehingga memberi hasil bagi sektor usaha kuliner. Bagi pengecer keuntungan tetap bisa diperoleh dengan selisih harga yang bervariasi.

Rasidin, pembudidaya yang merebus kerang hasil budidaya mengaku pemanenan parsial jadi peluang mempercepat hasil. Proses perebusan dan pengupasan menjadi hasil bagi sejumlah ibu rumah tangga. Perkilogram hasil kupasan kerang hijau diupah Rp5.000. Saat dijual daging kerang hijau dijual Rp40.000 perkilogram. Penjualan daging kerang hijau menjadi sumber ekonomi sirkular bagi sektor usaha lain.

Rasidin bilang ekonomi sirkular bisa diciptakan dari budidaya kerang hijau. Setelah dikupas kerang hijau bisa diolah sejumlah pemilik usaha warung makan. Sebagian dijual utuh untuk hasil kuliner kerang hijau saus tiram. Melalui budidaya kerang hijau yang selalu tersedia setiap hari hingga pekan ia masih bisa mendapat hasil. Pengaturan budidaya kerang hijau berkelanjutan menjadikan ia bisa mendapat hasil maksimal.

Lihat juga...