Tetua Pastikan Ritual Adat Koke Bale di Desa Lewokluok Flotim Tetap Digelar

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur,  Nusa Tenggara Timur,  akhirnya menggelar rangkaian ritual adat tahunan Koke Bale, meskipun di masa pandemi yang masih melanda.

“Rangkaian ritual adat tahunan Koke Bale akan mulai dilaksanakan 24 Juni 2021 nanti,” kata Frans Beribe, Sekertaris Lembaga Pemangku Adat Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, saat dihubungi Cendana News, Minggu (20/6/2021).

Frans menyebutkan, rangkaian ritual adat Koke Bale dimulai dengan melaksanakan ritual Tawi Nama atau pembersihan areal di sekitar rumah adat yang akan dilaksanakan pada Kamis (24/6/2021).

Ia mengatakan, ritual selanjutnya, Take, dilaksanakan Kamis (1/7/2021).

Sekertaris Lembaga Pemangku Adat Demon Pagong, Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT, Frans Beribe, saat ditemui di desanya, Minggu (6/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Disebutkannya, dalam ritual ini segenap anggota suku yeng memiliki rumah adat datang membersihkan rumah adat masing-masing suku dan membersihkan areal sekitar rumah adat utama atau Koke Bale.

“Sehari sebelumnya, U’o Matan, pemimpin tertinggi atau kepala suku mengeluarkan imbauan kepada segenap suku untuk membersihkan dan memperbaiki rumah adatnya masing-masing,” ungkapnya.

Frans menambahkan, pembersihan juga dilaksanakan di areal sekitar rumah adat dan jalanan yang berada di dalam Desa Adat Lewokluok, yang hingga kini masih mempertahankan tradisi adat budayanya.

Tahapan ritual adat selanjutnya, yakni Tuhuk Kelewo yang akan dilaksanakan pada Kamis (8/7/2021), dilanjutkan dengan ritual adat Belo Howok keesokan harinya, Jumat (9/7/2021).

“Selanjutnya dilaksanakan ritual adat pemuncak, yakni Gole yang akan dilaksanakan pada Sabtu (10/7/2021),” paparnya.

Sementara itu, Theodorus Lein, tetua adat Lewokluok menambahkan, saat ritual ritual pertama pembersihan rumah adat juga dilaksanakan ritual memberi makan kepada peralatan tukang atau Laba Dolu.

Theo, sapaannya, mengatakan peralatan ini merupakan pusaka hasil peninggalan dari nenek moyang yang pertama dipergunakan untuk membangun Koke Bale atau rumah adat.

Ia menambahkan, pemegang kekuasaan tertinggi di dalam komunitas masyarakata adat Demon Pagong yang tidak tergantikan adalah Forum Masyarakat Adat Demon Pagong yang disingkat Demon Pagong.

“Dalam pelaksanaan sehari-hari, forum ini dimandatkan kepada dan dijalankan oleh U’o Matan dari suku Kabelen dan Lewolein (Lein). Mereka berdua yang bersepakat dan menentukan rangkaian ritual adat Koke Bale,” ucapnya.

Lihat juga...