Perajin Ikan Teri di Lamsel Kekurangan Bahan Baku

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha mikro pembuatan ikan asin rebus dan ikan teri rebus di Lampung Selatan, saat ini mengalami kekurangan bahan baku.

Rusmin, produsen ikan asin dan teri rebus di Desa Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut bahan baku diperoleh dari nelayan yang melaut di Selat Sunda, namun sejak dua pekan terakhir hasil tangkapan nelayan berkurang.

Pada kondisi normal, Rusmin bisa mendapatkan bahan baku sekitar 50 cekeng. Satu cekeng atau keranjang ikan dari plastik memiliki berat sekitar 10 kilogram, sehingga rata-rata ia mendapat bahan baku 500 kilogram. Saat hasil tangkapan ikan minim, ia hanya mampu memproduksi sekitar 250 kilogram atau 25 cekeng ikan asin dan teri. Kondisi cuaca kurang bersahabat menjadi faktor minimnya bahan baku dari nelayan.

Ikan asin dan teri rebus, menurut Rusmin berasal dari jenis tanjan, layang, petek, teri jengki dan teri katak. Semua jenis bahan baku ikan tersebut dibeli dari nelayan dengan harga per cekeng mencapai Rp180.000 per kilogram.

Hasanudin, salah satu nelayan pencari ikan teri di pantai Pegantungan, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, melakukan perbaikan perahu, Selasa (18/8/2020). -Foto: Henk Widi

Saat hasil tangkapan minim, sejumlah nelayan membeli berbagai jenis ikan tersebut seharga Rp200.000. Meski mahal, ia tetap membelinya agar usaha miliknya tetap bisa berjalan.

“Bahan baku ikan asin yang diperoleh nelayan sedang mengalami penurunan, namun produksi tetap berjalan dengan kuantitas lebih sedikit dibandingkan sebelumnya,” terang Rusmin, Selasa (18/8/2020).

Bahan baku ikan basah sebanyak 250 kilogram, menurutnya akan menjadi ikan asin kering sekitar 150 kilogram. Selama masa pandemi Covid-19, sektor usaha pembuatan ikan asin dan teri rebus tetap bergantung dari hasil tangkapan nelayan. Penurunan produksi ikan asin dan teri rebus, menurut Rusmin berpengaruh pada omzet yang dihasilkannya.

Pada kondisi normal, ikan asin rebus kering dijual seharga Rp30.000 per kilogram. Jenis ikan teri rebus kering dijual seharga Rp50.000 per kilogram, terutama jenis ikan teri jengki dan teri nasi. Mendapatkan hasil sekitar 150 kilogram ikan asin dan teri rebus, ia bisa mendapatkan hasil sekitar Rp4,5juta, dengan rata-rata harga Rp45ribu. Pengepul akan mengambil hasil produksi ikan asin dan teri rebus ke tempat usahanya.

“Produksi sedang menurun, namun masih tetap bisa menjadi sumber pengasilan bagi pelaku usaha kecil seperti kami,” papar Rusmin.

Pembuat ikan asin dan teri rebus lainnya di Dusun Pegantungan, Susanti, menyebut sektor usaha perikanan sedang mengalami penurunan produksi. Pasokan ikan bahan baku dari nelayan berkurang, imbas hasil tangkapan yang menurun. Usaha milik Ambo Ajak yang mengandalkan ikan pasokan dari nelayan memproduksi ikan kurang dari satu ton per hari.

“Hasil produksi ikan asin dan teri kering dipengaruhi bahan baku, nelayan bagan congkel, bagan apung sedang mendapat hasil tangkapan minim,” papar Susanti.

Sebanyak seratus para para bambu untuk penjualan, menurutnya tidak terisi penuh. Sejak sepekan terakhir, proses pengeringan hanya menggunakan puluhan para para bambu.

Meski produksi berkurang, hasil ikan asin dan teri rebus banyak diperlukan oleh sejumlah pelaku usaha kuliner. Ikan asin dan teri digunakan untuk pelengkap sejumlah sajian kuliner pemilik warung makan di Bakauheni.

Hasanudin, pemasok ikan untuk pembuatan ikan asin dan teri, membenarkan jika sejumlah nelayan mendapat hasil tangkapan minim. Kondisi cuaca perairan Selat Sunda berimbas sejumlah nelayan jaring sepertinya tidak melaut.

Ia melakukan penangkapan ikan dengan memakai perahu ketinting dan jaring milenium. Hasil tangkapan ikan selanjutnya dijual ke produsen ikan asin dan teri rebus.

Lihat juga...