Wajibkan Pakai Seragam Belajar di Rumah, Wali Murid Kelimpungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 di wilayah Bekasi, Jawa Barat, harusnya menjadi sukacita bagi pelajar baru untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Apalagi bagi anak yang baru masuk jenjang Sekolah Dasar mereka akan berkenalan dengan teman baru.

Tapi tahun ini tentunya berbeda, hanya atas nama sudah diterima SD, tapi belum merasakan bangku sekolah putih merah tersebut. Mereka harus mengikuti belajar sistem online melalui aplikasi di Android karena belum status zona hijau Covid-19. Kondisi itu menjadi keluhan tersendiri bagi wali murid, karena merepotkan.

Ngurupi Sitepu (40) salah seorang wali murid, baru tahun ini anaknya masuk SD Negeri 6 Mekarsari di Raya Papan Mas, Mekarsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Dia mengaku harus beli seragam sendiri di pasar untuk keperluan anaknya karena diwajibkan oleh sekolah mengenakan seragam saat mengikuti belajar di rumah secara online.

“Anak saya kan baru masuk SD, sudah mengikuti pelajaran online. Setiap hari diminta kirim foto, menggunakan seragam apalagi pas guru video call, harus pakai seragam. Ini kan aneh, anak saya baru masuk belum punya seragam, biasanya beli di sekolah,” ujar Ngurupi Sitepu ditemui di Pasar Proyek Kota Bekasi, Rabu (15/7/2020).

Ngurupi, bersama orang tua murid lainnya dengan suka rela masih mencari seragam sekolah baru untuk sang buah hati. Mereka mengeluhkan karena harus mengeluarkan biaya tambahan di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi Covid-19 dengan membeli seragam anaknya.

“Walau proses belajar dari rumah, kadang kan pada jam tertentu itu video call. Nah di situlah siswa diharuskan pakaian seragam. Anak saya kan masih baru diterima bahkan belum pernah ke sekolah tapi diharuskan pakai seragam sekolah,” ucap dia.

Menurut dia, metode pembelajaran online yang dilakukan di rumah, tidak begitu kendala. Tapi di samping merepotkan orang tua juga soal ada pengeluaran tambahan untuk paket internet.

“Saya itu kasihan, dengan anak yang orang tuanya dua-dua kerja. Tentu sangat repot, saya saja freelance merasa repot. Hal lain, pengeluaran dua kali lipat karena untuk kuota internet,” papar Ngurupi mengakui saat ini yang diutamakan adalah kuota internet.

Diakuinya melalui sistem belajar online ini yang direpotkan adalah orang tua murid. Karena harus mendampingi anak belajar yang harusnya menjadi tugas guru di kelas untuk mengajari anak, tapi jadi tugas orang tua.

“Guru hanya copas soal, lalu di pos di grup WhatsApp. Atau pun tugas video yang harus dikirim di grup. Apalagi murid di suruh nonton TVRI, kasihan pas mati lampu bingung deh mau jawab soal,” ujarnya.

Ngurupi saat ini mengaku bahwa yang pokok utama yang dibutuhkan itu adalah kuota internet. Karena pihak sekolah sekarang tidak mau tahu apakah orang tua murid ini ada kuota atau tidak.

Sementara Uda Jhon, penjual seragam sekolah di Pasar Proyek mengaku, omzet penjualan seragam sekolah tahun ini turun drastis jika dibanding biasanya saat memasuki tahun ajaran baru.

Kondisi tersebut juga terjadi untuk perlengkapan sekolah lainnya seperti tas atau pun buku tulis. Biasanya di pasar banyak obral perlengkapan sekolah setiap menyambut tahun ajaran baru, tapi sekarang sepi.

“Sekarang alat tulis seperti buku belum laku, semua belajar online. Biasanya pedagang setiap tahun ajaran baru meraup untung. Tapi tahun ini lesu, hanya beberapa saja untuk persiapan,” ungkapnya.

Lihat juga...