Menjaga Hutan Tetap Produktif di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto, mengatakan bahwa di era Adaptasi Kebiasaan Baru ini, COVID-19 menjadi pemicu (trigger) untuk terus meningkatkan efisiensi dan awareness raising serta mencari solusi inovatif. Selain pemantapan kawasan, stabilitas, dan optimalisasi fungsi ekosistem hutan, yang memungkinkan upaya pengelolaan kehutanan terus lestari.

Agus menegaskan, agar hutan lestari kuncinya ada pada pengelolaan hutan, yaitu penerapan metode bisnis, asas-asas teknik kehutanan, dan menjaga kelestarian sumber daya hutan itu sendiri. Asas dasar dalam pengelolaan hutan ialah hasilnya lestari dan berkelanjutan (sustainable yield principle).

Pengelolaan hutan di Indonesia didasarkan atas asas manfaat yang berkelanjutan, yang berupa manfaat langsung misalnya kayu, rotan, obat-obatan dan hasil hutan lainnya dan manfaat tidak langsung seperti pengendali tata air, mikroklimat, jasa rekreasi dan lain-lain.

“Oleh karena itu, dalam pengelolaan hutan diperlukan upaya pembalikan ke arah pemulihan hutan terus lestari,” ucapnya, melalui rilis yang diterima Cendana News, Kamis (23/7/2020).

Agus menyampaikan perlu perubahan paradigma dari pengelolaan hutan berbasis komoditas ke berbasis ekosistem dengan optimalisasi multi produk untuk mengubah pendekatan tersebut.

Pengelolaan hutan harus tepat, efektif dan efisien agar kelestarian dapat tercapai, dan memastikan bahwa semua elemen masyarakat dan para pihak mendapat manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan dari hutan dengan senantiasa menjaga kelestarian sumber daya yang ada di dalamnya.

“Hal yang perlu kita garis bawahi saat ini adalah, nilai ekonomi dari hutan terletak tidak hanya pada sebatas tegakannya saja sebagai penghasil kayu yang menggerakkan perindustrian, tetapi nilai hutan terbesar justru terletak pada manfaat lainnya, dimana hutan dapat berfungsi sebagai mega factory sumber bahan baku obat, kosmetik, pangan premium, getah, resin, potensi sumber daya genetik lainnya dan bahkan nilai-nilai jasa lingkungan,” ungkapnya, saat bincang santai dengan para ahli kehutanan melalui video conference.

Lebih lanjut, Agus mengatakan pandemi COVID-19 berpotensi memicu efek yang signifikan pada keanekaragaman hayati, dan berbagai capaian upaya konservasi yang telah dilakukan. Oleh karenanya, diperlukan upaya-upaya penyelamatan keanekaragaman hayati demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan manusia.

“Upaya mendukung penyelamatan keanekaragaman hayati hutan tropis Indonesia merupakan tulang punggung kegiatan yang dilakukan Badan Litbang dan Inovasi, khususnya sebagai contoh agar pembangunan hutan meranti dalam satu bentang lanskap utuh, eksplorasi sumber daya genetik pohon hutan dari berbagai wilayah, dan keberadaan persemaian konservasi, merupakan salah satu contoh kontribusi dalam mewujudkan pengeloaan sumber daya hutan berkelanjutan,” kata Agus.

Agus menambahkan, upaya yang diperlukan jangan sampai berhenti pada mengoleksi dan menyelamatkan sumber daya saja, tetapi yang juga penting adalah diperlukan adanya invensi dan inovasi untuk menghasilkan produk, dari berbagai sumber daya hutan yang telah berhasil dikoleksi tersebut.

Disinilah, cara pandang baru pengelolaan hutan akan memerlukan orang-orang handal dari berbagai disiplin ilmu untuk saling bahu-membahu.

Prof. Riset Nina Mindawati, menjelaskan, bahwa perubahan paradigma dalam pengelolaan hutan produksi dari berbasis kayu menjadi berbasis ekosistem, dapat memperluas manfaat yaitu dapat menjadi bisnis multi produk, multi usaha, mulai dari kayu pangan obat kosmetik kimia dan energi serta jasa lingkungan.

Pertimbangan aspek sosial ekonomi dalam pengelolaan hutan juga menjadi sangat penting agar hutan lestari, lingkungan terjaga, dan masyarakat sejahtera.

Nina mengatakan, dalam pengelolaan  aspek pemanfaatan, pelestarian dan penggalian potensi harus dilakukan secara berimbang.

Oleh karena itu, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam setiap proses produksi sudah menjadi keharusan untuk peningkatan produktivitas dan pemanfaatan berkelanjutan menuju keseimbangan ekosistem baru antara manusia dan alam.

“Di era ini kita masih mempunyai PR untuk menemukan obat untuk Covid-19 dari hutan kita. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita bisa menghasilkan obat itu,” ungkapnya.

Penasihat Senior, Menteri LHK dan Guru Besar IPB, Prof. Dr. Hariadi Kartodihardjo, menyampaikan bahwa segala macam bentuk inovasi ataupun solusi untuk menyelesaikan suatu masalah, biasanya dimulai dari cara memikirkannya.

Penasihat Senior Menteri LHK dan Guru Besar IPB, Prof. Dr. Hariadi Kartodihardjo, saat memberikan pandangan dan masukan kepada BLI KLHK, Kamis (23/7/2020) – Foto: Dok KLHK

Sehingga  perlu memperkaya cara memikirkan, tidak hanya berasal dari satu pengetahuan saja. Dari berbagai pengetahuan ini, selanjutnya akan terjalin kolaborasi untuk menghasilkan inovasi dan solusi.

Prof. Hariadi mengatakan, peneliti maupun praktisi menghadapi tantangan untuk memahami fakta-fakta lapangan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Fakta-fakta lapangan ini menjadi dasar bagaimana pembaharuan dan ilmu pengetahuan itu disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang ada.

Oleh karena itu, peneliti maupun praktisi mempunyai kewajiban untuk memperkecil gap antara fakta-fakta yang terjadi dengan pengetahuan yang dikembangkan.

“Hari ini kita mendapatkan suatu momen yang baik untuk memastikan bahwa beberapa hal yang dibahas memperkaya bagaimana pengelolaan hutan kita saat ini, dan apa yang harus kita perbaiki pada berbagai level mulai dari ilmu pengetahuan, ilmu praktis, dan kebijakan ke depan, dilakukan secara konsisten,” katanya.

Lihat juga...