Koperasi Tamanmartani Segera Bahas Pembukaan Kampung ‘Homestay’ Damandiri
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Koperasi Tamanmartani Sejahtera selalu pengelola unit usaha homestay di Desa Cerdas Mandiri Lestari Tamanmartani, Kalasan, Sleman berencana mengumpulkan para pemilik homestay maupun perangkat desa termasuk tokoh masyarakat setempat untuk membahas persiapan menuju masa new normal.
Melalui pertemuan inilah nantinya pihak koperasi akan mengambil keputusan untuk menentukan apakah akan segera membuka kembali usaha homestay warga. Pasalnya sejak pandemi Covid-19 sekitar tiga bulan terakhir, seluruh unit usaha homestay di DCML Tamanmartani binaan Yayasan Damandiri terpaksa berhenti beroperasi dan tidak menerima tamu pengunjung.
“Sejak kasus Covid-19 pertama kali muncul tiga bulan lalu, sampai saat ini, seluruh homestay di Desa Cerdas Mandiri Lestari Tamanmartani masih berhenti beroperasi. Semuanya belum berani menerima tamu pengunjung karena mengikuti kebijakan pemerintah untuk membatasi kunjungan warga dari luar daerah,” ujar Manager Usaha Koperasi Tamanmartani Sejahtera Sigit Suryadi, baru-baru ini.

Sigit sendiri mengakui, memasuki masa new normal ini, pemerintah mulai melonggarkan sejumlah pembatasan askes warga dari luar daerah untuk menggenjot sektor pariwisata. Hal itu ditunjukkan dengan mulai kembali dibukanya lokasi-lokasi wisata, termasuk hotel dan penginapan di wilayah Yogyakarta.
Meski begitu, pihaknya selaku pengelola kampung homestay Tamanmartani, tidak serta-merta berani memutuskan untuk segera membuka layanan homestay dan menerima tamu asal luar daerah karena lokasi homestay yang berada di tengah kampung dan pemukiman warga.
“Kita belum berani membuka karena homestay kan berbeda dengan hotel. Kamar homestay ini kan memanfaatkan rumah-rumah warga serta berada di tengah pemukiman kampung. Tidak seperti hotel yang ada di pinggir-pinggir jalan. Sehingga kita harus mengkomunikasikan dengan warga sekitar,” ujarnya.
Melalui pertemuan inilah diharapkan nantinya akan bisa terjalin komunikasi yang mempertemukan antara keinginan warga kampung maupun pengelola homestay dalam menyambut masa new normal. Dengan begitu diharapkan nantinya tidak akan muncul polemik di mana ada satu pendapat warga yang bertentangan dengan pendapat lainnya.
“Nanti akan kita lihat apakah memang warga sekitar termasuk pengelola homestay sendiri sudah berani menerima tamu dari luar daerah. Sehingga jika memang homestay akan dibuka kembali, seluruh pengelola harus menjalankan standar protokol kesehatan secara ketat. Seperti menyiapkan tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker, dan sebagainya,” katanya.
Terlepas dari persoalan kesehatan, adanya pandemi Covid-19 diakui memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian warga DCML Tamanmartani. Bagaimana tidak, ditutupnya sejumlah homestay jelas membuat masyarakat khususnya pengelola homestay menjadi tidak memiliki pemasukan sama-sekali.
“Karena itu kita ingin solusi terbaik bagi semua warga masyarakat di Desa Tamanmartani. Di mana warga bisa kembali menjalankan usahanya dan mendapatkan penghasilan, namun tanpa mengesampingkan akan risiko penularan dan penyebaran Covid-19 di Desa Tamanmartani,” pungkasnya.