Ujian Daring Mahasiswa Dituntut Memperkuat Analisa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Dalam waktu dekat mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengikuti ujian secara daring. Karenanya mahasiswa diminta untuk lebih memperdalam analisis kasus yang dikaitkan dengan teori-teori.

“Minggu depan merupakan perkuliahan terakhir, setelah itu langsung ujian secara daring. Untuk mahasiswa, ujian sudah pada tataran analisis kasus, sehingga saat dilakukan via daring, tetap akan terlihat siapa yang menguasai materi dan tidak,” kata Wakil Dekan III FISIP Unsoed, Dr. Tri Wuryaningsih, MSi, Kamis (11/6/2020).

Lebih lanjut Tri Wuryaningsih memaparkan, tingkatan pemahaman mahasiwa tentu bervariasi, karena mereka juga memperkaya pengetahuan secara mandiri dari teori-teori dasar yang diberikan dosen. Sehingga perspektif masing-masing mahasiswa terhadap satu masalah akan beragam.

“Untuk tingkatan mahasiswa, ujian daring mau itu open book atau open google tidak akan berpengaruh, karena soal-soal yang diberikan lebih kepada analisa. Sehingga hasil ujian daring ini tetap bisa dipertanggungjawabkan, meskipun tidak dipantau secara langsung, sebagaimana ujian yang sudah-sudah,” terangnya.

Selain itu, pada tiap awal semester para dosen membuat Rencana Pembelajaran Semester (RPS), sehingga mahasiswa sudah mengetahui sejak awal apa saja materi kuliah semester ini, sumber referensinya bisa dari mana saja sampai dengan tugas-tugasnya apa saja.

Hal tersebut mempermudah mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan, karena ada RPS yang memandu pembelajaran mereka selama satu semester.

Sementara itu, terkait perkuliahan daring yang sudah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan ini, Tri Wuryaningsih mengatakan, secara kualitas metode kuliah daring justru meningkatkan kualitas pembelajaran.

Mengingat dari pengalamanannya selama tiga bulan terakhir, mahasiswa jauh lebih interaktif saat kuliah daring.

“Kalau kuliah tatap muka, biasanya saya sampai mengulang beberapa kali supaya mahasiwa bertanya jika ada yang belum jelas, tetapi pada saat kuliah daring, justru saya yang sampai kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Bahkan mahasiswa yang biasanya pasif, berubah menjadi aktif bertanya dan berdiskusi melalui google classroom,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, tetap ada beberapa kendala. Dari sisi dosen misalnya, tidak semua dosen melek teknologi dna dipaksa harus belajar. Namun, masih tetap ada dosen yang menggunakan grup WA untuk perkuliahan dan materi kuliah ataupun tugas-tugas dikirim melalui email.

Sementara dari sisi mahasiswa, tidak semua mahasiswa tinggal di kota yang mudah mendapatkan sinyal. Sehingga koneksi internet menjadi permasalahan, sampai ada yang harus pergi ke lokasi tertentu demi bisa mengikuti perkualiahan daring.

“Jadi pandemi ini mengajarkan kita banyak hal dan kita harus cepat beradaptasi,” kata dosen jurusan Sosiologi ini.

Salah satu mahasiswa semester 6 Jurusan Sosiologi, Lutfiana mengatakan, ia merasa lebih leluasa untuk bertanya tentang materi kuliah selama proses kuliah daring. Karena tidak bertatap muka, sehingga menyampaikan pertanyaan tidak perlu grogi.

“Sejauh ini sudah nyaman dengan kuliah daring, malam hari kita sudah dibagikan materi kuliah dan pada google classroom pagi hari, kita tinggal bertanya tentang hal-hal yang belum kita pahami,” tuturnya.

Lihat juga...