Pembelajaran Daring pengaruhi karakter dan kedisiplinan siswa

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA, Cendana News – Pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 turut mempengaruhi karakter dan perilaku siswa selama menjalankan proses belajar mengajar di sekolah.

Pembelajaran daring mempengaruhi anak atau siswa dalam hal kedisiplinan, semangat atau motifasi belajar, fokus menerima materi pelajaran, maupun kegiatan dan kebiasaan positif lainnya di sekolah.

Jika tidak disikapi dengan baik, dampak negatif pembelajaran daring dikhawatirkan akan mengakibatkan proses pendidikan anak atau siswa menjadi tidak maksimal.

Dan, hal itu tentu akan berpengaruh dalam capaian akademik setiap siswa.

Terkait hal itu SD Muhammadiyah Condongcatur, Sleman, melakukan terobosan dengan menjalankan kegiatan Parent Teacher Converence (PTC).

Kegiatan yang mempertemukan orang tua dengan pihak sekolah khususnya wali murid ini untuk membangun komunikasi efektif antara kedua belah pihak. Khususnya terkait berbagai permasalahan yang dirasakan anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Mengangkat tema ‘Samakan Persepsi Bangun Prestasi’, kegiatan ini juga untuk menggali potensi anak, baik secara akademik maupun non akademik.

Sehingga, nantinya dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan pembinaan yang berkesinambungan.

Dengan komunikasi dua arah ini diharapkan muncul ketersambungan, atau benang merah antara guru dan orang tua wali murid.

“Sehingga akan memaksimalkan proses pembelajaran di sekolah,” ujar Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Condongcatur, Sulasmi, SPd, Sabtu (12/11/2022).

Sulasmi berharap, adanya dukungan dan komitmen orang tua ini bisa memunculkan sinergitas positif yang akan mampu mendongkrak prestasi siswa secara lebih maksimal.

“Ada 856 orang tua wali murid yang hadir ke sekolah hari ini. Secara bergiliran mereka akan berdiskusi dengan masing-masing wali kelas selama kurang lebih 10-15 menit,” katanya.

Untuk siswa tertentu, pihak sekolah juga menyiapkan guru pendamping khusus.

Hal itu mengingat ada sejumlah permasalahan siswa yang tidak bisa ditangani oleh wali kelas masing-masing.

Guru pendamping khusus ini nantinya dapat merekomendasikan penanganan atas pemecahan persoalan siswa pada psikolog.

Salah seorang orang tua wali murid, Winda Novitasari, mengaku menilai positif kegiatan yang diinisiasi pihak sekolah ini.

Menurutnya, dengan kegiatan itu orang tua dapat lebih dimudahkan dalam mengetahui kebiasaan dan persoalan anak di sekolah.

Dia bahkan berharap, kegiatan itu bisa berlangsung rutin. Sebab, orang tua tidak bisa selalu memantau anak.

Dengan kegiatan semacam itu, orang tua bisa dapat banyak informasi tentang anak.

“Sehingga kita juga tahu apa yang mesti kita lakukan saat di rumah,” ungkapnya.

Lihat juga...