Sebagian Besar Penambahan Kasus Positif Covid-19 Merupakan OTG
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengungkapkan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang ditemukan seperti di Jawa Timur, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara, sebagian besar adalah mereka yang tidak mengalami sakit apa pun atau Orang Tanpa Gejala (OTG).
Ada pun pengungkapan kasus positif OTG tersebut berdasarkan hasil tracing yang dilakukan secara agresif, untuk menemukan kasus baru. Sehingga penanganan dan untuk menghentikan laju penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dapat dilakukan.
“Sebagian besar dari kasus yang kita temukan dan kemudian positif pada kontak tracing adalah kasus yang tanpa gejala, atau dengan gejala yang minimal yang dipersepsikan, bahwa yang bersangkutan tidak mengalami sakit apa pun,” kata Achmad Yurianto, saat jumpa pers terkait penanganan Covid-19 di Gedung BNPB Jakarta, Kamis (11/6/2020).
Ada pun tracing secara agresif tersebut, sebut Yuri dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan di dearah, sebagai bagian dari arahan Presiden, bahwa sumber penularan yang ada di masyarakat harus dicari. Yaitu, dengan melakukan kontak tracing dan kemudian melakukan pemeriksaan.
“Para OTG dalam kasus ini harus segera mendapatkan edukasi yang benar, untuk kemudian dapat melaksanakan isolasi secara mandiri. Sebab, mereka dapat berpotensi menyebarkan virus lebih luas lagi, bila masih bersinggungan dengan orang lain. Karena kalau tidak, ini akan menjadi sumber penularan yang ada di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sebab itu, Yuri kembali mengingatkan bagi kasus-kasus tanpa gejala yang sudah terkonfirmasi positif dari pemeriksaan PCR atau melalui TCM, agar melaksanakan dan mematuhi protokol isolasi mandiri yang ketat.
Sebanyak 424 kabupaten/kota telah melaporkan kasus positif terkonfirmasi di 34 provinsi, sehingga semua masyarakat diharapkan dapat lebih menggalakkan protokol kesehatan dan upaya lainnya untuk menghentikan penyebaran virus Corona jenis baru.
“Ini yang harus menjadi perhatian kita, meskipun cukup banyak kabupaten/provinsi yang berada di Indonesia dengan kasus di bawah 10, dan beberapa provinsi yang kecenderungan data kenaikannya tidak terlalu signifikan. Hanya memang, masih ada beberapa provinsi yang kenaikannya cukup tinggi,” jelasnya.
Sementara itu Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional, Dokter Reisa Broto Asmoro, menyebutkan, menjalankan adaptasi kebiasaan baru secara disiplin mungkin tidak semudah mengucapkannya. Ini ditandai masih adanya penularan Covid-19 di masyarakat. Perubahan perilaku untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru masih menjadi tantangan.
“Masih ada yang belum disiplin menerapkan hal ini. Untuk itu, kami mengajak semua pihak untuk melakukan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan disiplin sebagai adaptasi kebiasaan baru,” kata Reisa Broto Asmoro, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (11/6/2020).
Hal tersebut, kata Reisa, mengingat antivirus atau vaksin Covid-19 belum ditemukan sampai sekarang, dan berbagai uji coba masih dilakukan dengan teliti. Namun, belum dapat dipastikan waktu vaksin yang efektif dapat melindungi manusia dari virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 ini.
“Menurut pakar kesehatan masyarakat, perlindungan yang dapat dilakukan, yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ini bukan hanya dapat memutus penularan Covid-19, tetapi dapat meningkatkan infrastruktur perilaku hidup bersih sehat,” sebutnya.