Antisipasi Kemarau, BPBD Cilacap Gandeng Swasta ‘Droping’ Air

Editor: Makmun Hidayat

CILACAP — Selama pandemi Covid-19 hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengalami pemangkasan anggaran, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap. Karenanya, menjelang musim kemarau BPBD Cilacap akan menggandeng pihak swasta untuk melakukan droping air.

“Kalau sampai hari ini belum ada permintaan droping air bersih, karena beberapa kali masih turun hujan. Untuk wilayah Cilacap diprediksi kemarau mulai awal bulan Agustus atau akhir bulan Juli. Namun, langkah antisipasi harus sudah mulai dilakukan, mengingat banyak anggaran kita yang dialihkan untuk penanganan Covid-19,” kata Kepala Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy, Rabu (24/6/2020).

Kepala Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy di kantornya, Rabu (24/6/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Tri Komara merinci, jika dialokasikan untuk droping air, maka anggaran yang tersisa di BPBD hanya cukup untuk droping air sekitar 500 tangki. Padahal berdasarkan pengalaman kemarau tahun lalu, kebutuhan droping air mencapai dua kali lipat yaitu hingga 1.000 tangki.

“Karena itu kita harus mulai pikirkan antisipasinya, salah satunya adalah dengan menggandeng pihak swasta. Kita sudah mulai menjalin komunikasi dengan beberapa pelaku usaha yang siap membantu BPBD dalam masa kemarau nanti,” tuturnya.

Menurutnya, setiap tahun wilayah yang terdampak kekeringan cenderung meningkat. Tahun 2018 misalnya, wilayah yang terdampak kekeringan di Cilacap ada 48 desa yang tersebar pada 17 kecamatan. Dan pada kemarau tahun 2019, jumlah warga terdampak kekeringan meningkat menjadi 65 desa yang tersebar pada 18 kecamatan.

Bertambahnya desa yang mengalami krisis air bersih selama musim kemarau ini, karena berbagai faktor. Antara lain karena minimnya daerah resapan air, terjadinya alih fungsi lahan atau pun adanya kerusakan-kerusakan pada wilayah hulu sungai. Semua itu menyebabkan sumber air bersih berkurang.

“Jika melihat tren peningkatan wilayah yang terdampak kekeringan setiap tahunnya, maka ketersediaan droping air juga harus bertambah,” katanya.

Wilayah yang paling rawan kekeringan di Kabupaten Cilacap, antara lain di Kecamatan Kawunganten, Patimuan, Kampung Laut, Gandrungmangu, Bantarsari, dan Karangpucung.

Salah satu warga Desa Tayem, Kecamatan Karangpucung, Sugiarto mengatakan, pada kemarau tahun lalu, warga desa memanfaatkan air Sungai Dermaji untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Sebab, sumur-sumur warga semuanya kering.

“Jadi banyak warga yang membuat sumur kecil di pinggir Sungai Dermaji untuk menjaring air sungai. Air tersebut digunakan untuk memasak hingga mandi dan mencuci,” tuturnya,

Lihat juga...