Pola Pikir Masyarakat Jadi Kendala dalam Kreasi Sampah

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Didirikan pada 15 Januari 2012, Bank Sampah Resik Becik Semarang, mampu berkembang dan bertahan hingga sekarang. Bahkan di saaat pandemi Covid-19, bank sampah yang terletak di Kelurahan Krobokan Semarang Barat tersebut, tetap melayani para nasabahnya.

“Bank Sampah Resik Becik ini berawal dari para ibu-ibu di sekitar lingkungan, yang saya ajak berkumpul untuk belajar keterampilan bersama, seperti membuat rajut, anyaman dan lainnya. Hingga suatu saat saya membaca buku tentang kreasi sampah. Seperti ada pemantik, saya berpikir kalau kita berkreasi dengan bahan dari sampah, maka bahan baku bisa dicari di sekitar rumah, modal yang dikeluarkan juga sedikit,” papar ketua sekaligus pendiri Bank Sampah Resik Becik Semarang, Ika Yudha Kurniasari di Semarang, Rabu (24/6/2020).

Pada perkembangannya, dalam pembuatan kreasi sampah ini, kelompok tersebut sering kali kekurangan bahan baku karena mengandalkan sampah yang dihasilkan sendiri. “Lalu terpikirkan, kenapa tidak kita kelola sekalian secara lingkungan.  Semua warga ikut mengumpulkan sampah dan kami kelola, maka kita tidak akan kehabisan bahan baku untuk kreasi sampah,” tambahnya.

Ketua sekaligus pendiri Bank Sampah Resik Becik Semarang, Ika Yudha Kurniasari memaparkan, pola pikir masyarakat yang masih memandang rendah sampah, jadi kendala dalam kreasi sampah, di Semarang, Rabu (24/6/2020). -Foto Arixc Ardana

Selain motivasi pengelolaan lingkungan, menurut Ika, dengan hadirnya bank sampah, juga muncul pemberdayaan perempuan, hingga perekonomian kreatif.

“Kendala dalam pengelolaan bank sampah pasti ada, apalagi kita kelola secara mandiri. Mulai dari fasilitas hingga modal, namun menurut saya, kendala terbesar itu pada pola pikir masyarakat yang masih memandang rendah sampah,” terangnya.

Dirinya mencontohkan, hasil kreasi dari barang daur ulang atau sampah, sering kali masih relatif tidak dihargai. “Penghargaannya masih rendah. Misalnya kita buat kreasi sampah menjadi tas, lalu kami jual, orang bilang kok harganya sekian padahal kan dibuat dari sampah. Kendala seperti ini yang masih sering kita temui di masyarakat,” lanjut Ika.

Di satu sisi, selama pandemi Covid-19, bank sampah tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, dengan menerapkan protokol kesehatan dalam pencegahan penyebaran virus tersebut.

“Kegiatan sehari-hari, pada umumnya, warga atau nasabah bank sampah menyetor sampah anorganik mereka kepada kami. Kemudian dari tim kami, menimbang sampah tersebut dan melakukan proses pencatatan, termasuk ke buku tabungan para nasabah,” jelasnya.

Sampah-sampah yang terkumpul tersebut, kemudian dipilah sesuai dengan jenisnya. Sampah non organik yang bisa diolah menjadi kreasi, akan dipisahkan. Sementara, yang tidak bisa diolah , dijual ke pengepul.

“Uang penjualan sampah dari pengepul ini, kemudian kita masukkan ke dalam buku tabungan masing-masing nasabah. Bank sampah ini bukan untuk mencari keuntungan, namun lebih ke sosial entrepreneur. Sementara, untuk proses kreasi sampah, kita pisahkan, dengan menggunakan nama UKM Kulon Kali,” terang Ika lebih lanjut.

Dari setoran sampah para nasabah, kemudian diolah menjadi berbagai macam kerajinan, seperti tas ransel, tas perempuan,tempat tissu, alas lantai, dan masih banyak lagi macamnya. Harga jualnya pun beragam, dari angka ribuan hingga ratusan ribu.

“Ke depan kita berharap layanan bank sampah Resik Becik, tidak hanya tabungan sampah, namun bisa berkembang. Kalau di kota lain, ada yang berkembang menjadi asuransi sampah seperti di Malang, atau di Bogor ada juga SPP sampah,” tegasnya.

Sementara, salah seorang nasabah bank sampah Resik Becik, Suwardi mengaku senang dengan keberadaan bank sampah tersebut.

“Selain menjadi pusat kerajinan dan ketrampilan, keberadaan bank sampah ini juga membantu dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat,” terangnya.

Jika selama ini sampah non organik yang dihasilkan masyarakat, hanya dibuang atau dibakar, dengan bank sampah tersebut juga bisa dimanfaatkan menjadi kreasi sampah, atau dijual sebagai bentuk tabungan sampah.

Lihat juga...