Covid-19 tak Pengaruhi Ketersediaan Beras di Bulog Sumbar
Editor: Makmun Hidayat
PADANG — Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Sumatera Barat memastikan ketersediaan beras yang di sejumlah gudang mampu untuk memenuhi kebutuhan hingga bulan September 2020 mendatang. Kondisi ini terbilang normal dan stok beras benar-benar tidak terpengaruh dengan adanya wabah Covid-19.
Kepala Bulog Wilayah Sumatera Barat, Tommy Despalingga, mengatakan, jumlah beras yang tersedia di gudang Bulog Wilayah Sumatera Barat sampai hari ini mencapai 10.300 ton. Jumlah itu diperkirakan akan dapat memenuhi kebutuhan beras hingga tiga bulan ke depan.
“Persoalan stok beras, kita aman, bahkan hingga tiga bulan ke depan. Jika pun nanti mengalami kekurangan stok, tinggal kita minta tambahan stok ke Bulog pusat,” katanya, Rabu (24/6/2020).
Ia menyebutkan masa-masa pandemi Covid-19 yang melanda khusus wilayah Sumatera Barat tidak membuat persoalan kedatangan pasokan beras terpengaruh. Sebab melihat dari sisi produksi petani, meski dalam kondisi Covid-19 para petani tetap produktif.
Dengan adanya hal yang demikian, maka selain Bulog mendatangkan pasokan beras dari Bulog pusat, Bulog Wilayah Sumatera Barat juga ada membeli gabah petani yang ada di berbagai daerah di Sumatera Barat ini. Hal inilah yang membuat kondisi pasokan beras yang ada di gudang Bulog kini, masih aman.
“Kita terus melakukan analisa kebutuhan beras di kalangan masyarakat, mulai dari per hari, per minggu, dan hingga per bulan. Tujuannya, Bulog bisa mengetahui berapa kebutuhan beras dan berapa pula beras yang harus distok,” ucapnya.
Sementara itu, petani di daerah Solok, Antoni, mengatakan, hasil panen di daerahnya itu sungguh menggembirakan. Sebab tahun ini tidak ada serangan hama yang pertanian di Solok.
“Meski dalam kondisi Covid–19 kita tetap bertani, dan alhamdulillah hasil panen kita membahagiakan. Ada sisi lain yang membuat kabar tidak baik, yakni harga gabah turun, jika dibandingkan masa panen sebelumnya,” jelasnya.
Ia menjelaskan dulunya itu, harga gambar bisa mencapai Rp380 ribu hingga Rp400 ribu per karung. Kalau sekarang, hanya Rp300 ribu hingga Rp330 ribu per karungnya. Di satu sisi hasil memuaskan, dan di satu sisi lainnya harga jual gabah yang memuaskan.
Antoni menyebutkan kendati adanya hal demikian, petani tetap merasa bersyukur, karena kondisi panen dalam keadaan yang baik-baik saja, tanpa ada gangguan dari hama. Sebab, melihat dari sebelum-sebelumnya ada beberapa kawasan sawah yang diserang hama.
“Kini hasil panen bagus, inilah yang terpenting sebenarnya,” sebut dia.