1200 Petani Tebu di DIY Terdampak Pandemi Corona

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Pandemi virus corona atau Covid-19 tak hanya memukul ekonomi para pelaku industri/UKM, namun juga para petani. Salah satunya adalah para petani tebu. 

Di Yogyakarta, sedikitnya sebanyak 1200 petani tebu baik itu pemilik lahan, petani penggarap, maupun buruh penebang tebu tercatat tak lagi bisa bekerja dan mendapat penghasilan sejak beberapa waktu terakhir.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) DIY, Roby Hernawan menyebut mundurnya proses penggilingan tebu hingga waktu yang belum dipastikan, sebagai dampak tak langsung pandemi virus corona menjadi penyebabnya.

“Hampir semua petani tebu di DIY, saat ini tak bisa bergerak karena proses penggilingan tebu mundur. Dan kita tidak tahu mundurnya itu sampai kapan. Karena kapan corona ini berakhir kita juga tidak tahu,” ujar Roby di sela acara pembagian bantuan sembako gratis Polda DIY kepada para petani tebu di sekitar kawasan Pabrik Madukismo Bantul, Jumat (1/5/2020).

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) DIY, Roby Hernawan. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Menurut Roby, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sebenarnya tidak melarang pabrik gula untuk melakukan proses penggilingan selama pandemi virus corona. Namun prakteknya di lapangan, hal itu sulit dilakukan mengingat berbagai pembatasan wilayah mengakibatkan para buruh penebang tak bisa memanen.

“Semestinya 30 April ini sudah mulai proses giling. Sebab musim giling tebu biasanya berlangsung dari April hingga Oktober. Namun karena mayoritas tenaga penebang itu drop, maka harus diundur,” ujarnya.

Di DIY sendiri, 80 persen tenaga penebang tebu berasal dari luar daerah. Sejak pandemi virus corona belakangan, mereka diketahui sulit masuk dan tinggal di desa lokasi lahan tebu yang hendak dipanen akibat ditolak oleh warga setempat. Dampaknya tebu tak bisa dipanen dan dipasok ke pabrik gula.

“Karena bukan warga desa setempat, maka mereka akan ditolak dan dilarang masuk ke desa lokasi lahan tebu, meskipun untuk panen. Karena memang para penebang tebu ini biasanya tinggal dan menetap selama beberapa hari hingga panen usai,” jelasnya.

Hal itu dibenarkan salah seorang petani tebu asal Pengasih, Kulonprogo, Narko. Ia mengaku kesulitan mencari tenaga penebang tebu sejak wabah virus corona menyebar beberapa waktu belakangan. Padahal ia mengaku harus segera memanen tebu di lahan miliknya seluas 5 hektare.

“Karena semua dibatasi maka tidak bisa cari tenaga untuk panen. Sama sekali tidak bisa. Padahal biasanya dari lahan 5 hektare itu, saya bisa suplai tebu ke pabrik gula Madukismo hingga 100 rit atau sekitar 900 kuintal. Dampaknya ya kita tidak bisa dapat hasil atau pemasukan,” katanya.

Merespon hal tersebut, pihak Polda DIY, sendiri menggelar acara bakti sosial berupa pembagian sembako gratis bagi para petani tebu terdampak Covid-19, baik itu pemilik lahan, petani penggarap atau pun buruh/tenaga penebang tebu yang tergabung dalam APTRI DIY.

Sebanyak 2,5 ton beras dibagikan pada sebanyak 500 petani tebu di seluruh DIY.  Bantuan ini diharapkan dapat meringankan para petani tebu khususnya buruh/tenaga penebang maupun petani penggarap yang tidak bisa bekerja selama pandemi virus corona.

“Walaupun tidak seberapa mudah-mudahan bantuan ini bisa sedikit membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita para petani tebu. Ini bentuk empati kita atas kesulitan mereka yang terdampak virus corona. Mudah-mudahan bermanfaat,” ujar Kompol Dwi Prasetyo SE selalu Kasubdit II Ditintelkam Polda DIY di sela acara.

Lihat juga...