Batal ke Luar Negeri, Para Pekerja Dipulangkan Jalani Karantina

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Merebaknya pandemi Covid-19 membuat calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Lewomada Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa dikembalikan oleh perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia.

Para calon PMI ini sudah menjalani pelatihan di Kupang dan siap diberangkatkan ke luar negeri, namun akhirnya dipulangkan ke kampung halaman mereka sambil menunggu situasi memungkinkan baru mereka diberangkatkan.

“Saya mau ke Singapura  dan kami sudah menjalani pelatihan di Kupang. Rencananya akan diberangkatkan ke Jawa baru ke luar negeri untuk bekerja di sana,” kata Petronela Kinen, warga Desa Lewomada, Jumat (1/5/2020).

Petronela mengaku, dirinya bersama puluhan teman lainnya terpaksa dikembalikan lagi ke kampung halaman mereka oleh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia PT. Anugerah Usaha Jaya dan disuruh menunggu informasi lanjutan soal keberangkatan mereka.

Dirinya mengaku akan bekerja di Singapura dan rencananya berangkat bulan Mei 2020, namun batal dan setelah dikembalikan ke Maumere perwakilan  perusaahaan di Kabupaten Sikka menjemput mereka.

“Kami setelah turun dari pesawat dijemput pihak perusahaan dan menjalani karantina mandiri selama 14 hari di Maumere. Setelah itu kami pun dipulangkan ke kampung masing-masing,” jelasnya.

Wia, salah seorang calon pekerja migran Indonesia asal Desa Lewomada Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka, yang ditemui usai pengambilan sampel darah di SDI Baokremot, Jumat (1/5/2020) sore. -Foto: Ebed de Rosary

Wia calon PMI lainnya asal Desa Lewomada mengaku, dirinya pun sedianya akan bekerja di Malaysia namun terpaksa dikembalikan ke rumah karena adanya pandemi Covid-19.

Setelah tiba di kampung halaman, kata dia, dirinya bersama tiga teman perempuan di desa tersebut pun harus menjalani karantina mandiri lagi selama 14 hari di rumah masing-masing.

“Perusahaan juga sering menelpon menanyakan kabar dan kesehatan kami. Kalau situasi sudah membaik kata mereka baru kami akan diberangkatkan ke luar negeri,” tuturnya.

Wia pun senang bisa menjalani pengambilan sampel darah di SDI Baokremot Desa Wailamun bersama tiga teman lainnya asal Desa Lewomada serta lima warga lainnya asal Desa Wailamun.

Meskipun bukan bekas penumpang kapal KM. Lambelu namun dirinya bersama temannya dari Kupang tetap mengikuti rapid test agar bisa diketahui kesehatan mereka secara pasti.

“Saya senang ikut pemeriksaan kesehatan agar bisa diketahui kesehatan kita. Tadi kami semua dijemput di rumah agar bisa diambil sampel darahnya di gedung SD Inpres Baokremot,” jelasnya.

Disaksikan Cendana News, pengambilan sampel darah di SDI Baokremot Desa Wailamun merupakan pengambilan sampel darah terakhir untuk Kecamatan Talibura sehingga waktunya sore sekitar pukul 16.15 WITA.

Sesuai prosedur, setelah melakukan pengambilan sampel darah, semua APD dimasukan ke dalam kantong plastik berwarna hitam untuk dibawa ke Maumere dan dimusnahkan di mesin Incinerator RS TC Hillers Maumere.

Semua petugas yang melakukan pengambilan sampel darah dan petugas medis yang mendampingi, setelah dilakukan pengambilan sampel darah di sebuah lokasi langsung disemprot disinfektan di seluruh tubuhnya.

Lihat juga...