Ziarah Makam Jelang Ramadan Tetap Dilakukan Warga Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG  – Tiga hari jelang pelaksanaan bulan Ramadan tradisi ziarah makam tetap dijalankan warga Lampung Selatan (Lamsel).

Tiwi, salah satu warga di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan menyebut, berziarah ke makam keluarganya. Ziarah ke makam menurutnya tetap dilakukan meski ada wabah corona.

Tiwi (kiri) dan keluarganya melakukan tradisi nyekar dan bersih makam untuk keluarga yang sudah meninggal dunia jelang Ramadan di pemakaman umum Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Selasa (21/4/2020) – Foto: Henk Widi

Tradisi ziarah menurutnya tetap dijalankan bersama anggota keluarga yang masih hidup. Mengunjungi makam keluarga menurutnya merupakan hal positif untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal.

Sebab ziarah kubur menjadi pengingat bagi dirinya yang masih hidup untuk selalu ingat akan kematian. Membersihkan makam sekaligus berdoa menjadi penghormatan bagi yang sudah meninggal.

Selama masa pandemi corona Tiwi menyebut tetap menjaga jarak selama di makam. Sebab sebagian peziarah yang datang merupakan warga asal luar wilayah yang keluarganya dimakamkan pada tempat pemakaman umum (TPU) setempat.

Semenjak desa memberlakukan aturan selalu mengenakan masker, ia bahkan tetap memakai masker meski berziarah ke makam.

“Meski masa pandemi Corona keluarga tetap mempertahankan tradisi ziarah ke makam keluarga, kami lakukan tiga hari sebelum Ramadan karena masih sepi yang berziarah ke pemakaman,” terang Tiwi saat ditemui Cendana News di TPU Desa Pasuruan, Selasa (21/4/2020).

Saat melakukan ziarah makam Tiwi yang mengajak sang kakak dan ibunya berdoa bagi leluhur. Sejumlah anggota keluarga yang telah dimakamkan pada TPU tersebut diantaranya kakek, ayah dan adik.

Selain itu ia tetap melakukan pembersihan makam dan berdoa bagi anggota keluarga lain yang sudah meninggal. Ziarah kubur menjadi cara mengenang kebaikan anggota keluarga yang sudah meninggal.

Ziarah kubur di makam anggota keluarga menurutnya menjadi cara untuk menunjukkan bakti kepada leluhur. Meski ada imbauan tidak melakukan ziarah kubur selama masa pandemi Corona. Membawa bunga, air dan minyak wangi ia menjalankan tradisi berdoa setelah membersihkan makam.

“Bagi keluarga kami berdoa di makam tetap dijalankan sebelum Ramadan,” terang Tiwi.

Salah satu peziarah lain menyebut mendatangi makam orangtua untuk berdoa dilakukan saat momen istimewa. Melestarikan tradisi keluarga. Mengunjungi makam anggota keluarga di tengah masa pandemi Corona menurutnya tetap dilakukan dengan protokol kesehatan.

“Biasanya jika di tempat ziarah kami bertemu peziarah lain yang masih dikenal wajib salaman, kini tidak lagi dan tetap memakai masker,” tegasnya.

Selain di pemakaman umum Desa Pasuruan, meski masa pandemi Corona ziarah kubur tetap dijalankan warga Desa Kelaten.

Hasan, salah satu peziarah menyebut sebelum Ramadan ia kerap mengajak anggota keluarga ziarah. Bagi keluarga yang masih hidup ziarah merupakan pengingat kematian. Selain itu ziarah bisa mengingatkan keluarga yang telah meninggal.

Sebagian warga datang bersama keluarga untuk membersihkan makam dan berdoa bagi keluarga yang sudah meninggal jelang Ramadan, Selasa (21/4/2020) -Foto: Henk Widi

Selama melakukan ziarah Hasan menyebut tahun ini tidak seramai sebelumnya. Masa pandemi Corona apalagi ada imbauan dari Kementerian Agama untuk mengganti doa di rumah. Selain ziarah kubur yang diimbau tidak dilakukan salat tarawih di masjid secara berjamaah.

“Niat untuk menyambut bulan suci Ramadan sudah kami persiapkan meski tahun ini dilakukan di rumah,” beber Hasan.

Menyambut bulan Ramadan dalam masa pandemi Corona dengan ziarah makam sekaligus berdoa bagi semua orang yang meningggal.

Ia juga berdoa bagi orang meninggal akibat virus Corona agar diterima di sisi Allah SWT. Sebab kematian akibat Corona menurutnya menjadi pengingat bahwa Allah akan memanggil setiap orang pada waktunya.

Lihat juga...