Petani Lamsel Manfaatkan Daun Aren, Ikat Tanaman Padi Roboh

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Petani di Lampung Selatan (Lamsel) memanfaatkan daun aren untuk proses pengikatan tanaman padi roboh.

Sumardi, satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut imbas angin kencang dan hujan tanaman padi roboh meski belum memasuki waktu panen. Puluhan hektare tanaman padi yang roboh diikat untuk mencegah kerusakan.

Tanaman padi yang roboh menurut Sumardi kerap terjadi menjelang panen. Tanaman padi varietas Ciherang menurutnya normalnya dipanen usia 120 hari.

Namun akibat angin kencang padi usia 105 hari atau dua pekan sebelum panen ambruk. Pengikatan batang padi menurutnya dilakukan selama tiga hari. Sebab dari puluhan petak sawah hanya dua petak yang tidak roboh.

Sumardi menyebut memanfaatkan daun aren untuk mengikat batang padi. Penggunaan daun aren untuk pengikatan sekaligus mengurangi penggunaan tali plastik.

Sebab sebagian jerami padi yang dipanen kerap digunakan untuk pakan ternak. Penggunaan tali plastik untuk pengikatan jerami padi menurutnya berpotensi tertelan ternak.

“Sebelumnya proses pengikatan batang padi yang roboh menggunakan tali plastik, tapi karena membahayakan ternak alternatif yang digunakan dengan tali dari daun aren yang lebih aman dan ramah lingkungan,” terang Sumardi saat ditemui Cendana News, Rabu (22/4/2020).

Penggunaan daun aren menurutnya selain ramah lingkungan juga murah. Sebab tali plastik yang digunakan untuk pengikatan batang padi roboh dijual dengan sistem gulungan. Dijual dengan harga yang mahal.

Proses pengikatan batang padi akan memudahkan proses pemanenan. Sebab proses pemanenan masih menggunakan sistem potong memakai sabit.

Dua pekan sebelum masa panen menurutnya akan mengakibatkan batang padi busuk. Pembusukan batang padi imbas roboh akan berakibat jerami tidak bisa dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak. Batang padi yang busuk sekaligus akan menyulitkan proses perontokan padi memakai sistem geblok.

“Pengikatan tanaman padi memudahkan proses pemanenan karena batang padi tetap tegak berdiri,” cetusnya.

Petani lain bernama Santi menyebut, hanya sempat mengikat belasan petak tanaman padi roboh. Sebab tanaman padi yang roboh terjadi dua hari sebelum panen.

Santi (kiri) salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memanen padi yang roboh akibat hujan deras, Rabu (22/4/2020) – Foto: Henk Widi

Imbasnya sebagian besar tanaman padi miliknya roboh. Selain roboh oleh angin kencang dan hujan lokasi sawah miliknya berada di dekat aliran sungai. Imbas robohnya batang padi proses pemanenan lebih lama.

“Proses pemanenan padi terhambat, normalnya sehari sudah selesai, namun imbas tanaman roboh jadi tiga hari,” bebernya.

Sebagian tanaman padi yang roboh menurutnya sempat terendam air. Bulir padi yang roboh dan terendam air berimbas bulir padi berwarna hitam.

Tanpa proses pengeringan sempurna hasil beras yang digiling menurutnya akan memiliki kualitas yang rendah. Sebab selain berwarna hitam dengan kadar air tinggi beras akan mudah pecah saat proses penggilingan.

Hasil panen pada masa tanam pertama (MT1) menurutnya akan digunakan untuk kebutuhan keluarga. Meski kualitas beras yang dihasilkan kurang sempurna ia tetap mempergunakan beras untuk kebutuhan keluarga.

Sebab selama masa pandemi Corona stok beras bisa dipergunakan selama bulan Ramadan hingga Lebaran Idul Fitri.

Lihat juga...