Kemenkes: Tiga Provinsi Capai Eliminasi Malaria

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Berdasarkan data, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa data capaian indikator RPJMN dan Renstra Tahun 2019 menunjukkan, ada tiga provinsi di Indonesia yang sudah mencapai eliminasi Malaria. Dan tercatat juga, target pelaporan, pemeriksaan laboratorium atas suspek Malaria dan target pengobatan standar dapat tercapai.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyatakan, tiga provinsi yang mencapai eliminasi malaria adalah Provinsi Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Sementara untuk yang seluruh kabupaten/kotanya belum mencapai eliminasi adalah Maluku Utara, Maluku, NTT, Papua dan Papua Barat.

“Sesuai dengan program prioritas janji presiden, Malaria adalah salah satu dari 100 program. Kegiatan prioritas nasional merupakan bagian dari rencana aksi janji presiden tahun 2019,” kata Nadia saat dihubungi, Rabu (29/4/2020).

Nadia menyatakan bahwa program dan kegiatan prioritas ini mendapatkan pemantauan secara berkala setiap triwulan oleh Kantor Staf Presiden.

“Indikator Pemantauan Program Prioritas  Janji Presiden Tahun 2019 oleh KSP (Kantor Staf Presiden) berupa indikator persentase suspek Malaria yang dikonfirmasi oleh Laboratorium dengan mikroskop/RDT dengan target 95 persen dan Indikator persentase kasus Malaria positif yang diobati sesuai standar dengan target 90 persen,” papar Nadia.

Ia menyebutkan bahwa pencatatan dan pelaporan merupakan hal yang penting dalam  pelaksanaan surveilans.

“Sejak Tahun 2018 SISMAL (Sistem Informasi  Surveilans Malaria) Versi 2 telah disosialisasikan ke seluruh provinsi. SISMAL V2 telah menggunakan sistem web based sehingga dapat meningkatkan kualitas data,” ujarnya.

Secara nasional capaian kelengkapan SISMAL Tahun 2019 yaitu sebesar 73 persen, sebanyak 9.155 Fasyankes telah melaporkan SISMAL. Capaian kelengkapan laporan lebih dari 90 persen terdapat di 10 provinsi dan tertinggi  di Provinsi Gorontalo sebanyak 100 persen.

Jumlah fasyankes terbanyak yang melaporkan SISMAL yaitu Provinsi Jawa Timur sebanyak 1.119 fasyankes.

“Untuk target persentase suspek Malaria yang konfirmasi laboratorium baik menggunakan mikroskop maupun Rapid Diagnostic Test (RDT) adalah di atas 95 persen. Tahun 2019 jumlah suspek sebanyak 2,571,986. Dari jumlah suspek tersebut, yang dikonfirmasi lab sebanyak 2,505,626 atau setara dengan 97 persen. Dan dari pemeriksaan laboratorium  tersebut sebanyak 78 persen diperiksa secara mikroskopis,” paparnya.

Capaian berikutnya adalah persentase kasus malaria yang diobati standar adalah proporsi pasien malaria yang diobati sesuai dengan standar program.

“Obat anti malaria (OAM) yang digunakan di Indonesia yaitu ACT (Artemisinin Combination Therapy) yang saat ini merupakan obat yang paling efektif untuk membunuh parasit malaria. Pemberian ACT harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Nadya.

Pada tahun 2019 jumlah pasien yang diobati  ACT sebanyak 234,376 dan jumlah pasien yang positif Malaria adalah 250,644. Persentase pasien Malaria positif yang diobati ACT pada Tahun 2019 adalah sebesar 94 persen, melewati target yaitu sebesar 90 persen.

“Persentase pengobatan standar dapat tercapai jika ada ketersediaan OAM, sehingga diperlukan manajemen stok obat yang baik  sehingga tidak terjadi stock out obat malaria,” pungkasnya.

Lihat juga...