Dinkes Perkirakan Mei-Juni Puncak Pandemi Covid-19 di Jateng
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Yulianto Prabowo, memperkirakan puncak pandemi Covid-19 di Jateng akan terjadi pada Mei-Juni 2020. Berdasarkan data Dinkes Jateng per 17 April 2020, terdapat 289 kasus positif Covid-19 di Jateng, dengan 207 orang dirawat, 40 orang sembuh dan 42 orang lainnya meninggal dunia.
“Beberapa asumsi dari para ahli memperkirakan, pandemi Covid-19 di Jateng akan pada masa puncak bulan Mei-Juni. Meski demikian, kita berharap semoga pada bulan-bulan ini menurun. Namun, kita mempersiapkan segala sesuatu, merespons pandemi di Jateng, kita siapkan sampai September. Seperti logistik dan kebutuhan lainnya,” jelas Yulianto di kantor Dinkes Jateng, Semarang, Jumat (17/4/2020).
Dipaparkan, Pemprov Jateng terus berupaya menangani dan mencegah penyebaran Covid-19. Pihaknya juga mengajak peran serta masyarakat, untuk ikut memutus mata rantai pandemi.
“Jadi, kita minta masyarakat bisa terlibat dengan mengikuti program pemerintah. Cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, pakai masker,” tegasnya.
Sementara untuk mencegah penularan Covid-19 ke tenaga medis, Yulianto menegaskan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dalam menangani pasien Covid-19 di Jateng, masih tersedia.
Penggunaan APD tersebut bukan hanya bagi tenaga medis di rumah sakit, melainkan semua tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan terkait Covid-19. Seperti di puskesmas, dinas kesehatan, dan fasilitas kesehatan lainnya.
“Seluruh tenaga medis harus menerapkan prosedur pelindung diri. Bukan hanya rumah sakit, puskesmas, juga dinas kesehatan dan fasilitas kesehatan. Tentu disesuaikan dengan tingkat pelayanan. Artinya, mereka yang melayani langsung pasien positif, berbeda dengan di puskesmas,” terang dia.
Ditegaskan, ketersediaan APD saat ini masih mencukupi. “Memang kita tidak tahu stok ini bisa sampai berapa lama. Semua tergantung berapa banyak kasus yang kita tangani di kemudian hari ini,” tandasnya.
Di satu sisi, meski saat ini fokus pada penanganan Covid-19, pihaknya juga memastikan pelayanan kesehatan yang lain tetap dilayani dengan baik.
“Kita juga mengawasi endemis yang lain, seperti TBC, HIV/ AIDS, demam berdarah, dan lainnya. Jangan sampai Covid-19 tertangani, malah penyakit yang lain muncul,” pungkasnya.