Prapaskah di Lamsel, Umat Diajak Cintai Bumi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Masa Prapaskah umat Katolik melakukan pantang dan puasa sebelum hari raya Paskah. Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, Pr, menyebut pantang dan puasa dilakukan sejak hari raya Rabu Abu (26/2/2020). Masa pantang dan puasa, menurutnya diisi dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang dilakukan untuk membantu sesama.
Sebagai masa pertobatan, selama 40 hari umat Katolik diajak melakukan penyesalan akan dosa dan pertobatan. Sesuai tradisi gereja, masa pantang dan puasa dilakukan setiap Rabu dan Jumat. Meski demikian, pantang dan puasa dilakukan wajib pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Masa berpuasa dan berpantang menjadi kesempatan untuk mengurangi.
Masa pantang dan puasa yang bagi umat Katolik disebut mati raga, dilakukan untuk mematikan hal buruk dalam raga. Namun sifat-sifat buruk lain, bisa disingkirkan dengan kegiatan askese, devosi jalan salib, berderma dan melakukan kegiatan sosial. Sesuai masa APP 2020, gereja Katolik didorong untuk merawat dan mencintai bumi.
“Secara khusus selain pantang dan puasa, umat Katolik diajak merawat dan mencintai bumi dengan langkah mengurangi sampah plastik, menanam pohon dan aksi menjaga lingkungan,” ungkap Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, Pr, di gereja Santo Petrus dan Paulus, Pasuruan, Jumat (6/3/2020).
Mati raga selama Prapaskah dengan pantang dan puasa, menjadi cara menjadikan tubuh suci. Pristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus saat Paskah sebagai penebusan dosa. Proses mengurangi dosa diyakini oleh umat Katolik dengan menahan hawa nafsu. Menjalankan pantang dan puasa menjadi kesempatan mendekatkan diri pada Tuhan, bukan untuk pamer kepada sesama.
Selama Prapaskah, setiap Jumat gereja Santo Petrus dan Paulus menggelar devosi jalan salib. Devosi tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sebab, doa yang dilakukan dengan mengikuti 14 perhentian jalan sengsara atau via dolorosa Yesus, bisa menyadarkan umat akan pengorbanan.
“Devosi bisa dilakukan oleh segala usia, namun untuk pantang hanya bagi yang berusia 14 tahun dan puasa bagi usia hingga 60 tahun,” bebernya.
Menurutnya, puasa dilakukan dengan makan kenyang sekali, sebaliknya pantang dilakukan dengan cara mengurangi. Saat mengurangi tersebut akan menjadi derma atau aksi puasa yang akan dikumpulkan saat Paskah.
Aksi puasa atau APP yang merupakan hasil mengurangi uang belanja, jajan bisa disisihkan bagi orang yang kekurangan dan aksi-aksi sosial yang telah disepakati.
Sebagai upaya mendekatkan diri dengan sesama, pastor juga melakukan kunjungan ke umat. Usai melakukan kegiatan Ekaristi di gereja, pastor melakukan pemberkatan rumah dan sekaligus kunjungan.
Masa kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi umat untuk selalu menjalankan masa Prapaskah dengan pantang dan puasa.
“Seluruh umat akan dikunjungi secara bergiliran, sekaligus untuk pemberkatan keluarga dan isi rumah, agar siap menyambut Paskah,” papar Pastor Bernardus.
Cristina, salah satu umat yang menjalankan pantang dan puasa mengaku memiliki cara unik. Ia memilih makan selain nasi saat pantang dan puasa. Ia memilih makan ubi jalar, mengurangi kesukaan akan makanan yang lebih enak. Hasil mengurangi konsumsi makanan enak selama Prapaskah akan disisihkan dalam derma.
Sesuai dengan pantang yang dipilih, Cristina juga tidak memakan daging, ikan dan jajan. Langkah pengurangan itu menjadi cara untuk mengumpulkan APP yang disiapkan membantu sesama.
Kepedulian kepada sesama dilakukan dengan membuat tabungan khusus yang akan dibuka saat Paskah tiba, dan diserahkan ke panitia APP untuk disalurkan kepada panitia.