Petani di Lamsel Siapkan Komoditi Pisang Untuk Ramadan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Menghadapi bulan suci Ramadan pada April mendatang, sejumlah petani di Lampung Selatan memastikan stok pisang tercukupi. Sebab, sebelumnya usai kemarau dan hama layu fusarium, tanaman pisang rusak dan kini produktivitas kembali normal.

Hendro, petani di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut ratusan tanaman pisang miliknya mulai bisa dipanen. Jenis pisang yang dibudidayakan meliputi jenis pisang muli, janten, kepok, dan raja nangka.

Pisang yang bisa ditanam pada lahan seluas setengah hektare akan ditebang oleh pengepul. Pisang yang ditebang dalam kondisi mentah selalu tersedia untuk kebutuhan pemilik usaha kuliner. Meski hasil panen belum maksimal, namun ia bisa mendapatkan hasil sekitar 50 tandan.

Menurutnya, pemeliharaan tanaman pisang dengan pemberian pupuk kandang, dolomit, dilakukan petani untuk penyubur tanaman. Pemeliharaan dilakukan, agar produksi pisang maksimal untuk kebutuhan bulan suci Ramadan, yang kerap meningkat, sebagai bahan kuliner kolak, es pisang hijau, pisang goreng dan berbagai olahan kuliner lainnya.

Zubaidah, pedagang pisang matang di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Jumat (13/3/2020). -Foto: Henk Widi

“Selama penghujan, tingkat pertumbuhan tanaman relatif bagus, usai dilanda kemarau tahun sebelumnya berimbas tunas tanaman pisang meningkatkan jumlah rumpun tanaman,” terang Hendro saat ditemui usai memanen pisang hasil kebunnya, Jumat (13/3/2020).

Berbagai jenis pisang yang dipanen dalam kondisi mentah menurut Hendro dijual dengan harga bervariasi. Pisang muli dijual seharga Rp8.000 per tandan, janten Rp10.000 per tandan, kepok biasa Rp15.000 per tandan, kepok manado dan raja nangka Rp25.000 per tandan, ambon Rp20.000 per tandan. Sebagian pengepul membeli dengan sistem timbangan seharga Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram.

Permintaan pisang, menurut Hendro datang dari pemilik usaha keripik dan gorengan. Berbagai jenis pisang buah segar seperti muli dan ambon dijual hingga matang ke sejumlah warung makan. Jenis pisang kepok dan janten banyak dipesan pedagang gorengan.

Lukman, pengepul pisang asal Desa Hatta, mengaku mengirim pisang sekitar 2.000 tandan setiap dua hari sekali. Pisang berbagai jenis tersebut diperoleh dari puluhan pengepul yang membeli pisang dari sejumlah petani.

Pengumpulan akan dilakukan oleh pembeli yang menyimpan rata-rata 100 tandan. Sistem pembelian dilakukan dengan cara mencicil hingga pisang sampai di lokasi pengiriman.

“Petani umumnya akan menerima uang secara tunai, tapi pengepul akan dibayar secara mengangsur, karena di lokasi pengiriman akan dibayar sebagian,” cetus Lukman.

Lukman menyebut, bisnis jual beli pisang kembali bergairah usai kemarau dan hama layu fusarium. Permintaan bahkan akan meningkat saat Ramadan tiba. Pengiriman pisang ke Bogor, menurutnya dilakukan ke sejumlah pelapak dan sebagian langsung ke pabrik pengolahan keripik. Saat berada di lapak, beberapa jenis pisang akan dipisahkan sesuai peruntukan bagi pisang buah segar dan diolah menjadi kuliner.

Zubaidah, penyedia buah pisang matang di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, menyebut permintaan rutin dari pedagang gorengan. Sebagian buah pisang dipesan oleh pemilik warung makan, terutama buah segar untuk cuci mulut.

Berbagai jenis buah yang dijual dalam kondisi matang akan digantung di tempat berjualan di tepi jalan.

Pemesan pisang mentah, menurut Zubaidah tetap dilayani. Sebab sebagian pemesan akan menggunakan pisang sebagai bahan pembuatan keripik. Permintaan akan pisang mentah akan makin meningkat mendekati Ramadan.

Lihat juga...