Damkar Semarang Latih Mahasiswa Atasi Kebakaran

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Panas, material dan oksigen, atau sering disebut sebagai segitiga api, menjadi tiga hal yang memicu api muncul. Ketika salah satu penyebab kebakaran tersebut dihilangkan, maka api tidak bisa tercipta.

“Teori dasar inilah yang digunakan sebagai dasar untuk membuat alat pemadam api, sehingga kita bisa mencegah hingga memadamkan kebakaran. Misalnya, alat pemadam api ringan (APAR), biasanya berisi karbondioksida, foam AFF (Aqueous Film Forming), atau dry chemical powder. Ketika digunakan, busa yang keluar akan mematikan sumber api karena oksigen hilang,” papar Pemadam Kebakaran Kelas A, Marno, dalam pelatihan dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) penanggulangan kebakaran yang digelar Laboratorium K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) di kampus Unimus, Kedungmundu, Semarang, Sabtu (14/3/2020).

Secara lebih mudah, dirinya mencontohkan lilin yang menyala, ketika ditutup oleh gelas kaca, api lilin tersebut perlahan padam karena kehabisan oksigen. Prinsip tersebut juga digunakan dalam APAR.

Pemadam Kebakaran Kelas A, Marno, menjelaskan panas, material dan oksigen menjadi penyebab muncul api, dalam pelatihan dasar K3 penanggulangan kebakaran di kampus Unimus, Kedungmundu, Semarang, Sabtu (14/3/2020). –Foto: Arixc Ardana

Marno menjelaskan, dalam penggunaan APAR, harus disemprotkan dari sisi ke sisi dengan gerakan seperti menyapu ke arah sumber api.

“Ingat, jangan disemprotkan ke lidah api, namun ke sumbernya. Perhatikan juga arah angin ketika menyemprotkan APAR, jangan sampai karena melawan angin, busa yang keluar justru kembali mengenai kita,” terangnya.

Dipaparkan pula, ada beberapa klasifikasi jenis kebakaran berdasarkan bahan yang terbakar. Contohnya, api kelas A, jika yang terbakar bahan padat seperti kertas, kayu, plastik, karet hingga kain. Kemudian api kelas B, jika yang terbakar benda cair seperti minyak tanah, bensin, solar, tinner, dan lainnya.

Sementara, api kelas C, jika melibatkan listrik, travo, kabel atau konsleting arus listrik. Serta api kelas D, kebakaran khusus atau bahan yang terbakar seperti logam, aluminium, besi, hingga konstruksi baja.

“Pada prinsipnya, konsep penanggulangan kebakaran (fire safety) yang utama adalah penyelamatan jiwa manusia, sehingga aspek penyelamatan sebenarnya lebih diarahkan dan diprioritaskan pada penyelamatan jiwa manusia terlebih dahulu, untuk kemudian meminimalkan kerugian material pada tahap berikutnya,” tandasnya.

Sementara, penanggung jawab kegiatan, Diki Bima Prasetio, menjelaskan praktikum tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang pencegahan dan penanggulangan kebakaran, serta mempersiapkan mahasiswa untuk menanggulangi kebakaran.

“Selain terori, juga dilakukan paktik langsung penggunaan APAR untuk memadamkan kebakaran. Kita berharap, dengan pelatihan ini, mahasiswa dapat memahami pentingnya upaya pencegahan kebakaran, mengerti bagaimana kebakaran terjadi, penjalarannya, dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya,” tandasnya.

Para mahasiswa juga diharapkan dapat mengenal beberapa sarana dan prasarana peralatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran, sehingga mampu memadamkan kebakaran tingkat awal.

Lihat juga...