Program Pertukaran Pelajar Memotivasi Siswa Lebih Maju

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Meski membutuhkan biaya yang tidak sedikit, program kemitraan sekolah (sister school) seperti pertukaran pelajar (study exchange) ke luar negeri, dinilai memiliki begitu banyak manfaat bagi pengembangan pembelajaran siswa.

Tak heran selain memanfaatkan program pemerintah, saat ini banyak sekolah khususnya sekolah swasta yang secara mandiri mulai mengadakan program semacam ini di negara-negara lain.

Presiden of Volunteers For ITC Model School Network APEC in Indonesia, Nurdin Sumantri Wahyudin, menyebut setidaknya ada dua sisi manfaat yang bisa didapatkan seorang siswa yang pernah mengikuti kegiatan pertukaran pelajar ke luar negeri. Baik itu manfaat secara personal bagi anak itu sendiri maupun manfaat secara umum.

Secara personal, dengan mengikuti kegiatan pertukaran pelajar, seorang siswa akan memiliki pikiran yang lebih terbuka. Hal ini dapat terjadi karena siswa akan bergaul dengan siswa sekolah lain asal luar negeri yang tentu memiliki pola kebiasaan, pandangan pemikiran hingga budaya yang berbeda.

Dari pengalaman yang dilakukan Nurdin dalam memimpin dan melakukan berbagai program pertukaran pelajar di Indonesia, ia menyebut tak sedikit anak-anak yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar memiliki kecenderungan untuk mencari tantangan bekerja di luar negeri.

“Beberapa sudah ada yang jadi doktor dan bekerja di Jepang, Korea, Australia dan lainnya. Karena kegiatan pertukaran pelajar memang manfaatnya sangat bagus. Bisa menjadi bekal mereka saat sudah dewasa,” ujarnya saat ditemui di SD Islam Al-Azhar Yogyakarta, Kamis (6/2/2020).

Sementara itu secara umum, adanya program pertukaran pelajar juga akan mampu memberikan semangat ataupun motivasi bagi para siswa untuk belajar lebih giat. Yakni dalam mencapai cita-citanya. Terlebih mereka akan bisa memiliki partner siswa asal luar negeri sehingga selalu berusaha mencapai level partner tersebut.

“Jadi bisa menjadi semacam peluru untuk berbuat lebih baik, belajar lebih giat. Untuk meraih seperti partner mereka di luar negeri,” ungkapnya.

Sementara itu Nurdin menyebut, salah satu tantangan yang harus diperhatikan para guru pendamping dalam kegiatan pertukaran pelajar semacam ini adalah lebih kepada bagaimana mengarahkan siswa agar fokus untuk menjalankan kegiatan. Pasalnya siswa khususnya usia SD masih kerap memiliki keinginan untuk bermain.

“Karena masih anak-anak, keinginan atau naluri untuk bermain tentu lebih tinggi. Sehingga pembimbing harus lebih cerewet, untuk selalu mewanti-wanti dan mengingatkan. Tak hanya soal proses pembelajaran, tapi juga soal makanan, kesehatan dan sebagainya. Sebelum berangkat pun, siswa juga harus diajak mengikuti bimbingan minimal 3 kali, termasuk mempelajari buku panduan mengenai apa yang boleh mereka lakukan maupun yang tidak,” pungkasnya.

Lihat juga...