Pengembangan Layanan Digital Dinilai Mampu Turunkan AKI
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Pemanfaatan perkembangan digital dalam pelayanan kesehatan pra kehamilan hingga pasca kehamilan, dipercaya mampu menurunkan tingkat angka kematian ibu (AKI) Indonesia, yang walaupun selama ini dinyatakan menurun tapi angkanya masih tergolong tinggi.
Data Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2018/2019 masih tinggi, yaitu 305 per 1.000 kelahiran. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang proses kehamilan, persalinan, pascapersalinan dan perencanaannya.
Founder Halobumil, dr. Azis Fahrudin menyampaikan, dengan melakukan pemantauan sebelum kehamilan dan selama proses kehamilan, akan membantu menurunkan potensi kematian saat persalinan baik pada ibu maupun anak.
“Pemantauan itu bukan hanya saat hamil saja. Tapi sebaiknya dilakukan sebelum kehamilan itu dimulai. Artinya, sebelum kehamilan kita juga sudah melihat kondisi seorang ibu, apakah memiliki penyakit yang mengganggu proses kehamilan atau tidak. Kalaupun ada, maka sudah direncanakan apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan janin,” kata dr. Azis saat ditemui di RS Kartika Pulomas Jakarta, Jumat (21/2/2020).
Atau ibu yang memiliki risiko karena hamil saat memasuki umur yang sudah dianggap tidak akomodatif hamil.
“Ini harus diberi edukasi juga. Bukannya kita larang untuk hamil, tapi harus mengetahui risiko yang mungkin terjadi dan melakukan langkah-langkah pencegahan atas kemungkinan risiko tersebut,” ujarnya.
Sering kali, menurutnya, yang masih terjadi di Indonesia, para wanita tidak memeriksakan dirinya sebelum masa kehamilan.
“Atau ibu hamil juga tidak periksa, karena males ngantri, atau jauh. Ada juga yang karena mahal dan tidak punya BPJS. Bisa juga punya BPJS atau KIS tapi gak ngerti bagaimana menggunakannya,” ungkapnya.
Karena itu, dr. Azis menyatakan dengan mengembangkan teknologi digital dalam proses pelayanan kepada wanita dan ibu hamil, diharapkan bisa mengurangi bahkan secara maksimal meniadakan masalah tersebut.
“Dengan memanfaatkan teknologi digital, mereka tidak perlu antre. Cukup melakukan pendaftaran secara online, yang mencakup nama, nomor identitas dan alamat maka sistem akan mencarikan jam dan lokasi terdekat dari rumah untuk mendapatkan pelayanan,” urainya.
Target untuk menjangkau layanan dengan sistem digital, diharapkan akan mampu menjangkau hingga wilayah terpencil Indonesia.
“Sistem yang ada saat ini memang masih menggunakan sinyal di 4G, atau untuk daerah susah sinyal, masih menggunakan sms yang mengandalkan 2G atau 3G. Tapi kedepannya, akan dibangun dengan menggunakan sinyal radio. Sehingga mampu menjangkau hingga daerah sangat terpencil sekalipun,” paparnya.
Dengan pelayanan digital yang terintegrasi, dr. Azis menyebutkan calon ibu juga tidak perlu repot mengurus persalinan di rumah sakit. Karena akan secara langsung dihubungkan oleh aplikasi.
“Kalau tiba-tiba harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, karena adanya kasus tertentu, maka akan secara langsung diurus oleh aplikasi. Ketenangan itu adalah satu hal yang harus dimiliki oleh ibu. Sehingga akan mengurangi potensi terjadinya komplikasi,” pungkasnya.