Bangunan SDK Likot di Sikka Terancam Roboh
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Pemerintah Kabupaten Sikka dan yayasan selaku pemilik sekolah SDK 19 Likot Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk segera mencari solusi untuk memperbaiki sekolah ini.
“Temboknya sudah tergerus air sehingga ditakutkan saat nanti musim hujan air akan mengggerus tembok gedung sekolah dan bangunan bisa roboh,” kata Maria Beatrix, warga Dusun Likot, Kamis (2/1/2020).

Dikatakan Maria, musim hujan sudah mulai turun dan beberapa hari ke depan aktivitas belajar mengajar sudah mulai dilaksanakan sehingga ditakutkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau banjir airnya sangat deras sekali bahkan halaman sekolah saja terendam banjir. Kita harapkan pemerintah dan pihak yayasan segera mencari solusi agar saat hujan datang kegiatan belajar mengajar bisa berjalan aman dan lancar,” ungkapnya.
Sementara itu, anggota Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Desa Hoder, Philipus Prina Poi, mengatakan pemerintah perlu memikirkan langkah konkret secepatnya untuk memperbaiki SDK Likot.
“Selain SDK Likot, banyak sekolah lainnya yang kondisinya tidak layak harus dicek dan diperbaiki terlebih atap bangunan gedung sekolah tersebut. Masih ada sekolah yang atapnya bocor dan bangunannya tidak layak,” ungkapnya.
Prina Poi berharap agar selain memperbaiki bangunan gedung sekolah yang tidak layak, pemerintah juga perlu memperhatikan nasib para guru honor yang selama ini belum mendapat perhatian serius.
“Selain bangunan gedung sekolah, nasib guru honor di Sikka juga perlu diperhatikan. Kalau masih digaji dengan Rp50 ribu sebulan tentunya ini harus segera diatasi,” harapnya.
Camat Waigete, Even Edomeko, saat ditanyai terkait gedung sekolah SDN Kepiketik di Desa Egon yang kondisinya memprihatinkan saat dikunjungi bulan November 2019 lalu mengaku dua ruang kelas darurat sudah dibangun.
“Untuk sementara dua ruang kelas darurat tersebut yang kondisinya mengenaskan sudah diperbaiki, namun kondisinya belum berupa bangunan tembok. Pembangunannya masih menggunakan bahan lokal seperti kayu dan beratap seng,” ujarnya.
Even mengatakan bangunan darurat tersebut sudah rampung dikerjakan oleh masyarakat secara gotong royong dan bahan-bahannya disiapkan oleh Bank NTT untuk mengantisipasi terjadinya musim hujan.
“Dua ruang kelas darurat sudah selesai dibangun dan sudah dipergunakan sehingga saat musim hujan anak-anak sekolah tidak lagi kehujanan seperti sebelumnya karena atap dan dindingnya sudah diganti baru,” tuturnya.