Pondok Pesantren Al Kasyaf Sumbar, Upayakan Ragam Terobosan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Pondok Pesantren Al Kasyaf yang berada di Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), merupakan salah satu dari sekian sekolah pesantren yang ada di daerah yang berjulukan sejuta pesona tersebut. Kehadiran Pondok Pesantren Al Kasyaf, memberikan harapan baru bagi generasi di Pesisir Selatan.

Sekretaris Pondok Pesantren Al Kasyaf, Panji Aulia Rahman, mengatakan, keberadaan Pondok Pesantren Al Kasyaf telah menjadi pilihan bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan agama pada jalur formal.

Pondok pesantren yang berdiri sejak tahun 2000 itu, sekarang memiliki 80 orang santri yang terbagi pada enam rombongan belajar.

Masih sedikitnya santri di sekolah tersebut, merupakan dampak dari masih tingginya kecenderungan masyarakat Pesisir Selatan dalam memilih pondok pesantren luar daerah, ketimbang di dalam daerah sendiri.

“Kita di pasantren ini terus melakukan terobosan-terobosan dalam meningkatkan kualitas para santrinya, agar ponpes tersebut dijadikan sebagai pilihan oleh masyarakat. Berbagai terobosan terus kita lakukan terhadap santri dalam meningkatkan kualitas para tamatan,” katanya, Kamis (7/11/2019).

Disampaikannya bahwa Ponpes Al Kasyaf Salido sekarang memiliki pendidikan formal tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Melalui pendidikan formal setingkat MTs dan MA ini, jumlah santrinya sekarang sudah mencapai 80 orang. Rata-rata para santri ini adalah masyarakat lokal.

Agar para tamatan pesantren juga memiliki daya saing di dunia kerja,  para santri di Ponpes AL Kasyaf Salido tersebut juga dibekali dengan keterampilan menjahit, las listrik, bahkan juga ilmu beternak. Hal tersebut bertujuan agar para santri yang sudah tamat nanti, juga memiliki daya saing di dunia kerja.

“Dari 80 orang santri, sebanyak 30 orang tinggal di asrama. Mereka itu dibagi pada dua asrama, yakni asrama putra, dan asrama putri. Ke depan kita berharap jumlah santri terus bertambah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kabar baik yang dimiliki oleh Ponpes Al Kasyaf yaitu saat ini ponpres dimaksud sudah melakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara mandiri, sejak dua tahun lalu. Hal ini diakuinya, memang karena ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki cukup memadai.

Tidak hanya soal sarana komputer, di ponpes itu, juga memiliki ruang pelatihan menjahit, pelatihan las listrik, laboratoriun, dan pustaka. Ponpes Al Kasyaf juga telah memiliki laboratorium komputer yang lengkap.

“Walau dari segi sarana dan prasarana cukup memadai, namun perhatian pemerintah daerah masih bisa dikatakan kurang. Sebab semua sarana yang ada itu berasal dari bantuan yayasan,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan itu tidaklah membuat para santrinya patah semangat. Sebab berbagai pretasi masih bisa diraih, baik prestasi secara akademisi, maupun melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.

Para santri selain tahfidz, pandai membaca kitab kuning, berpidato, dan pengetahuan agama lainya, juga mampu meraih juara pada lomba silat, drum band.

“Jadi berbagai prestasi itu akan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menjadikan Ponpes Al Kasyaf ini sebagai pilihan nantinya,” harapnya.

Menanggapi hal ini, Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, menjelaskan bahwa sebenarnya daerah itu memiliki perhatian yang besar terhadap pondok pesantren. Pendidikan keagamaan juga telah masuk sebagai salah satu visi misi  dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan masyarakat.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, yang ditemui saat kunjungan kerjanya, Kamis (7/11/2019)/Foto: M. Noli Hendra

“Berdasarkan hal itu, maka pendidikan keagamaan mendapat perhatian yang cukup serius, karena dalam kepemimpinan saya, masuk dalam visi dan misi,” katanya.

Dikatakannya pula, tujuh pondok pesantren yang ada tidak satu pun yang mengajukan permohonan atau bantuan kepada pemerintah daerah, sehingga pihaknya tidak bisa membantu.

Tujuh pondok pesantren itu diantaranya, Pondok Pesantren Iqra, Al Munawarah, Al Kasyaf, Sabilul Jannah, Nurul Yaqien, Tarbiyah, dan Pondok Pesantren Fathul Ulum.

“Hingga sekarang tidak satu pun proposal yang masuk dari tujuh pondok pesantren tersebut. Karena tidak ada, sehingga kita tidak bisa. Sebab bantuan hibah itu hanya bisa dialokasikan apabila ada proposal yang masuk,” sebutnya.

Lihat juga...