Perkembangan Astronomi di Indonesia Berlangsung Positif

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Perkembangan astronomi di Indonesia dinyatakan berlangsung positif. Hal itu dapat dilihat dari minat generasi muda dan dukungan pemerintah pada pengembangannya. Tapi, minat dari masyarakat saja tidak cukup. Harus disertai dengan edukasi dan sosialisasi. Utamanya mengenai keberadaan aplikasi astronomi secara lebih luas. 

Asisten Peneliti Astronomi Observatorium Bosscha, Evan Irawan Akbar, S.Si, M.Si, menyebut, pemerintah terlihat mendukung perkembangan dunia astronomi. Hal itu terlihat dari diberikannya pembiayaan pada kegiatan penelitian astronomi. “Kalau dari masyarakat, terlihat dari banyaknya pengamatan terkait astronomi secara mandiri. Kedua hal ini banyak memberikan efek positif pada perkembangan astronomi di Indonesia,” kata Evan di sela seminar World Science Day, Minggu (10/11/2019).

Hanya saja Evan mengharapkan, agar tingginya dukungan pemerintah dan peningkatan minat masyarakat tersebut, diikuti dengan upaya edukasi untuk mendukung perkembangan astronomi. “Selama ini, anggapan tentang astronomi itu fun, tapi tidak ada edukasi terkait polusi cahaya. Semakin banyak hunian dan aktivitas manusia, maka akan semakin banyak lampu. Artinya semakin banyak cahaya. Dan ini berpotensi mengganggu proses penelitian astronomi,” urai Evan.

Kalau ada edukasi terkait polusi cahaya, maka perkembangan kota tidak akan mengganggu proses penelitian astronomi. “Lampu itu tidak masalah, asal diberikan tudung. Sehingga cahaya dari rumah atau gedung tidak akan terpancar ke langit,” ujarnya.

Sehingga, dibutuhkan edukasi tentang polusi cahaya seiring dengan perkembangan minat masyarakat di astronomi. Dukungan pemerintah juga perlu diberikan, dalam upaya menciptakan sumber daya manusia di bidang astronomi.  “SDM ini memang masih menjadi PR bagi semua pihak. Bukan hanya pemerintah. Tapi semua masyarakat. Karena kita tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah saja,” tandas Evan.

Nilai SDM ini menurut Evan jauh lebih penting dibandingkan pembiayaan untuk fasilitas penelitian terkait astronomi. Peralatan astronomi memang mahal, tetapi di dalam sains ini dikenal dua bagian kerja yaitu pengumpulan dan pengolahan data. Pengumpulan data membutuhkan instrument atau alat, sehingga kegiatannya membutuhkan biaya. Sementara pengolahan data tidak membutuhkan biaya semahal bagian pengumpulan data. “Kita punya Bosscha. Di luar negeri, seperti Amerika ada Hubble. Nah mereka ini yang mengumpulkan data. Masyarakat bisa mengakses data yang sudah mereka kumpulkan. Dan semua ini open source. Tinggal diunduh saja. Ini bisa untuk edukasi,” urai Evan.

Untuk lembaga pendidikan, data yang terkumpul tersebut bisa menjadi sumber pembelajaran astronomi. Untuk level pembelajaran bisa dilakukan ToT atau pelatihan guru, misalnya bagi guru fisika. Dari edukasi tersebut, diharapkan stigma bahwa astronomi membutuhkan biaya mahal bisa dihilangkan.

Lihat juga...