Warga Desa Pasuruan-Lamsel Gelar Kenduri HUT ke-74 RI
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Tradisi kenduri peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, di Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung, Selatan, hingga kini masih dilestarikan.
Penjabat Kepala Desa Pasuruan, Nasrulloh, menyebut, kenduri kemerdekaan menjadi salah satu tradisi dalam menghargai jasa para pahlawan. Sebagai warga masyarakat, dengan keberagaman agama, suku, kenduri dilakukan rutin setiap tahun.
Nasruloh menegaskan, Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, menjadikan kenduri kemerdekaan sebagai sarana rasa syukur. Sebab, sebagai bangsa Indonesia yang merdeka dari penjajahan merupakan perjuangan para pahlawan dari berbagai suku dan agama di Indonesia. Melalui, kenduri kebersamaan tersebut dipertahankan bingkai kebhinnekaan.

Kenduri yang digelar di lapangan Dusun Sumbersari menjadi sarana refleksi akan perjuangan pahlawan. Hasil bumi berupa padi, sayuran serta lauk pauk bisa diperoleh, karena bangsa Indonesia telah merdeka.
Kenduri dilakukan dengan membawa nasi lengkap dengan lauk pauk. Setiap keluarga dari berbagai suku dan agama membawa kenduri untuk didoakan.
“Kenduri kami lakukan setiap tahun pada malam menjelang peringatan HUT RI, yang tahun ini masuk tahun ke-74 Indonesia merdeka,h arus disyukuri dan diterangkan kepada generasi penerus bangsa makna kemerdekaan,” terang Nasruloh, Jumat (16/8/2019) malam.
Kenduri dibawa oleh masing masing keluarga, selanjutnya semua makanan dengan berbagai bentuk kemasan diletakkan di tengah lapangan yang sudah diberi alas terpal. Pada saat kenduri tersebut, Nasruloh menekankan rasa kebersamaan yang harus dipertahankan. Sebab, kekompakan dibina dari lingkungan dusun hingga desa. Hal tersebut salah satunya dalam bentuk memeriahkan HUT kemerdekaan setiap tahun.
Menurutnya, kekompakan menjadi salah kunci sukses para pahlawan mengusir penjajah dari Indonesia. Pada zaman sekarang, kekompakan masih sangat relevan diwujudkan dalam sejumlah kegiatan.
Saat memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, warga secara suka rela memberikan iuran untuk sejumlah perlombaan. Selain itu, dengan penuh kekompakan, warga menghias halaman dan jalan dengan berbagai pernak-pernik merah putih.
“Persatuan dan kesatuan bangsa harus dibina pada lingkungan terkecil di tingkat dusun, dan kenduri malam ini merupakan bentuk persatuan, meski ada perbedaan,” ungkap Nasruloh.
Sebagai bentuk mempererat pluralisme yang ada, doa saat kenduri dilakukan oleh dua pemeluk agama. Doa di antaranya dipimpin oleh Markum yang membawakan doa secara Islam, dan Wagimun dengan cara Katolik. Meskipun dusun Sumbersari terdiri dari beragam suku dan agama, namun persatuan tersebut terjaga.
Tokoh masyarakat Desa Pasuruan, Aloysius Rukun Haryoto, menyebut kenduri menjadi tradisi yang positif. Sebab, rakit kawilujengan atau berkat keselamatan dalam bentuk makanan merupakan simbol ungkapan syukur.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dengan beragam suku, agama dan bahasa, masih tetap terbingkai dalam persatuan.
Mengenang jasa pahlawan, sebut Aloysius Rukun Haryoto, masih perlu dilakukan. Sebab, berkat jasa pahlawan masyarakat masih bisa menikmati hasil bumi Indonesia. Bentuk menghargai pahlawan serta setia kepada bangsa, bisa dilakukan dalam banyak hal. Mengisi pembangunan dengan berbagai hal positif, membangun desa serta taat membayar pajak. Sebab, pajak menjadi salah satu bentuk mendukung pembangunan.
“Melalui kegiatan kenduri, harus disadari makanan yang dibawa merupakan hasil bumi yang diperjuangkan para pahlawan,” ungkap Aloysius Rukun Haryoto.
Ia menambahkan, kenduri yang didoakan secara bergantian lintas agama menyimbolkan kerukunan yang tetap dilestarikan. Melalui kenduri, masyarakat juga diingatkan akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan.
“Bagi generasi yang ada saat ini memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan mengisinya melalui berbagai kegiatan positif,” pungkasnya.