Pemprov DKI Gandeng Denmark Tekan Diabetes di Ibu Kota
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menandatangani perjanjian kerja sama untuk tahap action plan dari program cities changing diabetes (CCD), guna terus menekan prevalensi penyakit diabetes di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Basawedan, mengatakan pentingnya kerja sama untuk tahapan action plan ini. Menurut Anies, melalui kerja sama ini, Pemprov dapat memetakan pengelolaan diabetes di Jakarta. Sebab, selama ini banyak warga yang tidak menyadari memiliki penyakit gula darah tersebut.
“Kita mengetahui bahwa masalah diabetes ini menjadi hulu penyakit-penyakit lainnya. Karena itu, bila kita bisa mendeteksi lebih dini dan melakukan langkah pencegahan yang lebih baik maka harapannya tingkat kesehatan di masyarakat menjadi lebih tinggi,” kata Anies di Balai Kota DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (27/8/2019).
Dia menuturkan upaya pemetaan pada penyakit gula darah ini, sangat membantu warga atau penderita diabetes untuk mendeteksi awal risiko penyakit agar tidak bertambah parah.
“Ada 154 ribu kasus (diabetes) yang belum ditemukan. Karena, sebagian mereka tidak sadar punya diabetes jadi tidak ke fasilitas kesehatan,” imbuhnya.
Anies pun berharap kerja sama dengan Novo Nordisk ini dapat bersinergi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Provinsi DKI Jakarta untuk menekan angka diabetes. Dia memastikan pemerintah akan menjemput bola agar peningkatan diabetes bisa ditekan.
“Dengan program kita, kita akan mendatangi rumah-rumah. Deteksi lebih awal. Kita jemput bola sehingga yang 154 ribu itu bisa terdeteksi. Kalau sudah, mereka proses pengawalan untuk proses pelayanan kesehatan,” pungkasnya.
Anies berharap hasil kerja sama ini juga dapat bersinergi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Provinsi DKI Jakarta, sehingga dapat menjangkau langsung warga dan melakukan deteksi yang lebih menyeluruh di Jakarta.
“Di Pemprov DKI Jakarta kita sudah memiliki Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dimana pemerintah melakukan upaya promotif preventif untuk meningkatkan produktivitas dan menurunkan potensi masalah kesehatan, jadi kami apresiasi dan saya harap bisa bersinergi,” tambahnya.
Sedangkan Kepala Provinsi Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, Widyastuti, menyatakan pihaknya sudah menyiagakan lebih dari 400 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk Penyakit Tidak Menular yang tersebar di semua kelurahan.
Ke depan, para kader Posbindu akan memperkuat jejaring kesehatan dan mensosialisasikan gaya hidup sehat ke para penderita diabetes.
“Jadi, kita aktifkan dan giatkan (Posbindu), sehingga warga mengetahui status kesehatannya terlebih gula darahnya. Minimal dilakukan screening pemetaan angka risiko tadi. Kita juga akan menguatkan jejaring pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, rumah sakit, kader kesehatan dan warga,” ungkapnya.
Widyastuti turut memaparkan, Pemprov DKI Jakarta juga akan mengeluarkan beragam kebijakan yang berimplikasi pada gaya hidup sehat warganya, guna melakukan upaya preventif terhadap penyakit diabetes, seperti festival olahraga sepanjang tahun dan lain sebagainya.
“Kita ingin gaya hidup warga semakin sehat, sehingga faktor risikonya (diabetes) bisa dikendalikan serta angka prevelensinya bisa dikendalikan dan menurun,” tandasnya.
Dalam kerja sama dengan Novo Nordisk dan Kedubes Denmark ini, Pemprov DKI sendiri telah berhasil memetakan permasalahan pengelolaan diabetes di Jakarta.
Hasilnya, ada lima permasalahan utama dalam pengelolaan diabetes di Jakarta di mana salah satunya Jakarta merupakan kota dengan prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia.
Vaupel menjelaskan prevalensi diabetes di Jakarta berdasarkan hasil-hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 meningkat dari 2,5 persen di tahun 2013 menjadi 3,4 persen di tahun 2018.
Jika dihitung dengan jumlah penduduk Jakarta, sebanyak 10,5 juta, maka orang dengan diabetes di atas 15 tahun mencapai 250 ribu jiwa.
“Jakarta merupakan kota dengan prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia dengan jumlah yang terus meningkat namun belum terdiagnosis secara maksimal,” ujar VP & GM Novo Nordisk Indonesia, Morten Vaupel.
Kedua, obesitas menjadi faktor tertinggi angka diabetes di Jakarta. Ketiga, underdiagnosed disebabkan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai diabetes. Kemudian keempat, fungsi Puskesmas dan Posbindu sebagai gatekeeper masih belum optimal.
“Kelima, tata laksana diabetes masih belum optimal hanya 30 persen diabetes yang mencapai target glikemi,” katanya.
Dia memastikan CCD akan terus berjalan dan berlanjut ke tahap selanjutnya yakni menemukan implementasi solusi jangka panjang mencegah dan menyediakan pengobatan bagi penderita diabetes.
Karena mirisnya dari 250 ribu jiwa penderita diabetes hanya 12.775 jiwa saja pasien yang terdata Diabetes Surveillance Data Dinas Kesehatan
“Saya yakin bahwa program ini dapat menjadi katalis untuk memperlajari penyakit dibetes, dan secara lanjut bisa menghasilkan regulasi terkait kesehatan khususnya diabetes demi kota yang lebih sehat. Saya juga berharap kota-kota lain akan dapat belajar dari pengalaman kami di Kota Jakarta,” tuturnya.