Proyek Air Minum Senilai Rp2 Miliar di Reroroja, Dinilai Gagal

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Masyarakat di Desa Reroroja, Kabupaten Sikka, menilai proyek pengerjaan jaringan air bersih senilai Rp2,9 miliar di desa setempat, gagal. Pasalnya, air tidak mengalir hingga ke Dusun Kolisoro, Desa Reroroja, sehingga masyarakat tidak bisa menikmati hasilnya.

“Pihak kontraktor tidak membangun bak penampung air di Dusun Duli, Magelo’o dan Koro, sehingga masyarakat Dusun Duli terpaksa melubangi pipa air untuk mendapatkan air,” sebut Frans Toki, ketua BPD Desa Reroroja, Selasa (9/7/2019).

Dengan begitu, masyarakat di Dusun Magelo’o dan Koro yang berada di dekat pantai tidak bisamendapatkan air, karena pipa air sudah dilubangi warga Dusun Duli. Warga melakukan hal ini, karena mereka tidak mendapatkan air.

“Bak penampung air hanya dibangun satu-satunya di Dusun Duli dekat dengan mata air. Harusnya di dusun ada bak air dan krannya, agar warga bisa mengambil air di bak tersebut,” terangnya.

Hermiana (baju putih) dan Serviana, warga desa persiapan Legu Woda, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, mengambil air dari pipa air yang dilubangi. -Foto : Ebed de Rosary

Hermiana, warga Dusun Duli mengatakan, warga melubangi pipa air karena pipa air melintasi tanah milik warga, tetapi warga tidak mendapatkan air. Padahal warga sangat kesulitan sekali mendapatkan air bersih, sehingga terpaksa melubangi pipa.

“Selama ini kami kesulitan air bersih, apalagi saat musim kemarau. Sementara pipa air ini dibangun untuk kebutuhan warga. Di dusun Duli sendiri saja terdapat 16 titik yang warga lubangi agar bisa mendapatkan air,” terangnya.

Hermiana berharap, pemerintah segera memperbaiki proyek air bersih ini, agar warga Desa Reroroja tidak kesulitan mendapatkan air bersih. Seharusnya pembangunannya ada bak air di setiap dusun dan pemukiman warga.

“Bak penampung tidak ada, terus bagaimana warga bisa mendapatkan air bersih? Kalau setiap warga melubangi sendiri pipa air untuk mendapatkan air, maka tentunya hanya warga Dusun Duli saja yang bisa mendapatkan air,” ungkapnya.

Serviana, warga lainnya mengakui, saban sore warga berkumpul di titik-titik pipa air yang dilubangi agar bisa mendapatkan air bersih. Warga mengangkut air ke rumah-rumah menggunakan jeriken atau ember plastik.

“Setiap pagi dan sore hari, pasti terihat warga mengantre untuk mengambil air. Ada warga yang melubangi pipa dan mengalirkannya ke rumah menggunakan selang plastik,” terangnya.

Saat malam hari, kata Serviana, warga jarang yang mengambil air sehingga air dialirkan ke rumah-rumah warga terdekat menggunakan selang. Terkadang air dibiarkan mengalir, sehingga menggenangi jalan dan pekarangan rumah warga.

Pantauan Cendana News, warga berkumpul di pipa air saat sore hari, terutama ibu-ibu dan para remaja laki-laki dan perempuan. Untuk mendapatkan air, warga harus antre dan mengisinya sendiri ke wadah air yang dibawa.

Pipa air dilubangi dan dipasangi selang plastik untuk mengalirkan air yang akan dimasukkan ke wadah penampung milik warga. Terdapat sebuah drum besar di dekat pipa air yang disiapkan untuk menampung air, bila semua warga sudah mendpatkan jatah air.

Lihat juga...